Kota Samarinda

Tak Ingin Ada “Akal-akalan”, Andi Harun Pasang Barikade Digital di Pasar Pagi

Bagikan

Samarinda, Solidaritas– Selasa pagi, 10 Februari 2026, suasana di depan Balai Kota Samarinda mendadak riuh. Ratusan pedagang Pasar Pagi turun ke jalan, membawa segudang keresahan soal nasib lapak mereka. Namun, alih-alih bersembunyi di balik meja, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, justru memilih turun langsung menemui massa untuk berdialog terbuka.

Di bawah terik matahari, Andi Harun mendengarkan satu per satu keluhan: mulai dari ratusan lapak yang masih kosong, pemilik izin (SKTUB) yang terkatung-katung tanpa tempat, hingga aroma tak sedap soal dugaan “permainan data” dalam distribusi lapak.
Menjawab keresahan itu, Andi Harun membawa solusi konkret: Transparansi Total. Ia menegaskan bahwa era “tata kelola gelap” sudah berakhir. Pemkot Samarinda kini tengah menyiapkan sistem digital berbasis open source yang bisa diakses siapa saja.
“Pemerintah memang harus dikontrol dan dicurigai secara sehat. Karena itu, data akan kami buka. Masyarakat bisa pantau lewat HP, lapak mana yang terisi dan mana yang kosong. Tidak perlu lagi jauh-jauh mengadu ke kantor Wali Kota,” tegas Andi Harun di hadapan para pedagang.
Salah satu poin paling tegas yang disampaikan adalah kebijakan verifikasi berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK). Langkah ini diambil untuk membabat habis praktik “pinjam nama” atau menggunakan identitas anggota keluarga hanya untuk menguasai banyak lapak.
“Biasanya ada akal-akalan, pakai NIK orang tua atau nama orang lain padahal tidak berjualan. Dengan sistem ini, semua akan telanjang. Kita libatkan Kejaksaan dan Kepolisian untuk mengawasi,” ujarnya.
Ia juga memasang garis keras: Satu SKTUB hanya untuk satu lapak. Tak ada lagi ruang bagi spekulan yang ingin memindahtangankan atau menyewakan kembali lapak demi meraup selisih keuntungan.
Meski tuntutan penambahan lapak terus disuarakan, Andi Harun meminta pedagang bersabar. Ia telah memerintahkan Dinas Perdagangan dan Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) melakukan verifikasi ulang secara menyeluruh.
“Pasar Pagi ini belum saya resmikan. Mengapa? Karena saya ingin semuanya benar-benar bersih dan jelas dulu. Beri kami waktu untuk memastikan amanah ini terjaga,” pungkasnya menutup dialog.
Langkah berani ini menjadi sinyal kuat bahwa Pasar Pagi Samarinda diproyeksikan menjadi pilot project pasar modern yang tidak hanya megah secara fisik, tapi juga sehat secara birokrasi. Red

 

 


Bagikan

Related Posts