Kriminal

Dolar Majikan untuk Gaya Sultan, Akhir Pahit Pengkhianatan Pasutri Samarinda di Balik Jeruji

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Keriuhan liburan mewah dan kilau barang-barang branded yang sempat membungkus keseharian pasangan suami istri (pasutri) asal Samarinda ini kini menguap tanpa sisa. Ruang gerak mereka yang dulu bebas menjelajahi destinasi luar daerah, kini menyempit di balik dinginnya jeruji besi Mako Polresta Samarinda.
Tak ada lagi jemari yang menggenggam ponsel kelas premium atau pundak yang menyampirkan tas desainer ternama. Sebaliknya, Z (35) dan Y (29) harus rela menghuni sel terpisah, merenungi setiap lembar dolar majikan yang mereka tukar dengan kebebasan. Keduanya dijerat Pasal 476 KUHP tentang tindak pidana pencurian dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.
Kasat Reskrim Polresta Samarinda, AKP Agus Setyawan, mengungkapkan bahwa Z merupakan orang kepercayaan yang memiliki akses leluasa ke rumah majikannya di Jalan Kebahagiaan, Kelurahan Sungai Pinang Dalam.
“Aksi pencurian dilakukan secara bertahap sejak Selasa, 4 November 2025. Memanfaatkan kepercayaan tersebut, Z mengambil uang dolar Amerika dari dalam lemari besi secara berulang. Total mencapai USD 40.000 dalam pecahan USD 100,” jelas AKP Agus melalui siaran persnya, Senin (2/2/2026).
Dalam pelariannya, Z melibatkan sang istri, Y, dengan dalih uang tersebut adalah hasil gaji dan tabungan. Meski sempat curiga karena jumlahnya yang fantastis, Y tetap membantu menukarkan dolar tersebut di berbagai money changer di Samarinda dan Balikpapan hingga terkumpul dana sebesar Rp625.243.200.
Uang panas itulah yang kemudian disulap menjadi gaya hidup jetset seperti pembelian ponsel premium berbagai merek, koleksi perhiasan emas dan tas-tas bermerek, pembayaran angsuran mobil serta motor dan biaya liburan mewah ke luar daerah.
Sandiwara ini terbongkar saat korban menyadari tabungan dolarnya menyusut signifikan. Kecurigaan yang mengarah pada Z akhirnya membawa Unit Jatanras Polresta Samarinda melakukan penyelidikan hingga berhasil mengamankan kedua tersangka beserta barang bukti mulai dari mobil, sepeda motor, hingga perhiasan emas hasil kejahatan.
“Dengan modal kepercayaan itu, pelaku leluasa melakukan pencurian secara berulang kali. Hasilnya digunakan untuk kepentingan pribadi dan menjalani gaya hidup mewah,” tambah Agus.
Keputusan mereka untuk memupuk kemewahan di atas fondasi pengkhianatan kini mencapai titik nadir. Di ruang sempit sel tahanan, pasutri ini mulai menebus kesalahan mereka—sebuah pembuktian pahit bahwa harga sebuah kepercayaan jauh lebih mahal daripada barang mewah mana pun yang pernah mereka miliki. Red

Bagikan

Related Posts