Daerah

Pasca Peristiwa Tanggul Longsor, The Premiere Hills Sediakan Tempat Tinggal Sementara

Bagikan

Samarinda, The Premiere Hills telah melakukan langkah konkret setelah terjadinya tanggul longsor yang menimpa empat rumah milik warga M.Said Kota Samarinda. Dengan memberikan tempat tinggal sementara dan pembebasan lahan pada warga yang terdampak.

Belum lama ini, Warga Kota Samarinda tengah dihebohkan dengan peristiwa jebolnya tanggul pematangan lahan yang terjadi di M.Said Gang 6 Blok F Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda, yang membuat kerusakan terhadap empat rumah warga serta beresiko terhadap 60 jiwa lainnya. Atas peristiwa tersebut Wali Kota Samarinda meminta agar pengembang perumahan tersebut dapat bertanggung jawab terhadap kerugian materi yang terjadi.

Kemudian pada hari ini Jumat 5 Januari 2024. Pemkot Samarinda telah melakukan Rapat Koordinasi Penanganan Longsor bersama BPBD, PUPR Samarinda, OPD terkait dan The Premiere Hills selaku pengembang perumahan tersebut.

Senior Project Manager Novi Sunarsadmoko mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan bersama Sekretaris Daerah Pemkot Samarinda. Untuk membahas lebih lanjut permasalahan ini.

“Secara komprehensif kami telah menjelaskan kronologi kejadian, langkah-langkah yang sudah dilakukan dan penanggulangan yang disiapkan sehingga situasi dapat kembali berjalan kondusif sesuai dengan harapan warga yang lokasinya berbatasan dengan proyek The Premiere Hills,” ungkapnya, 5 Januari 2024.

Dalam publik hearing tersebut, Novi menyoroti bahwa secara teknis kejadian pergesernya penahan tanah tersebut. Membuat terdorongnya rumah warga yang berbatasan langsung dengan proyek The Premiere Hills yang ada di sekitaran situ.

“Secara prinsip, kami telah melakukan tahapan pembangunan dan pengembangan kawasan sesuai dengan SOP dan kehati-hatian,” terangnya.

Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas bencana longsor tersebut. Pihaknya telah menyiapkan tiga langkah konkrit untuk menangani dampak bergesernya penahan tanah.

Pertama, melakukan evakuasi dan bantuan kepada warga yang terdampak, termasuk menyediakan tempat tinggal sementara dan kebutuhan sehari-hari.

Kedua, membeli tiga rumah yang terdampak untuk membebaskan lahan dan menjaga keamanan warga.

Terakhir, menyiapkan skenario teknis permanen untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

“Secara non teknis, kami menegaskan bahwa proyek kami memiliki landasan hukum yang kuat, dan akan disesuaikan dengan UU Cipta Kerja yang baru,” singkatnya.

Sementara itu, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Kota Samarinda Sam Syaimun menegaskan bahwa Pemkot Samarinda terus berkomitmen untuk mengawasi pengembang proyek properti yang di lakukan oleh The Premiere Hills

“Jangan sampai komitmen itu tidak terlaksana, mengingat dampaknya kepada rumah warga sekitar. Kami akan terus mengawasi dan menindaklanjuti perkembangan kasus ini,” ungkap Sam Saimun .

Atas peristiwa bencana tersebut. Pihaknya juga tidak akan tinggal diam dan meminta agar para pengembang untuk lebih mengutamakan tanggung jawab sosialnya, dari pada hanya sekadar mengejar keuntungan.

“Kami harap pengembang bisa bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan oleh proyeknya. Jangan sampai ada korban jiwa atau kerugian materi yang lebih besar lagi,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut. Sam saymun mencatat tiga poin penting yang harus dilakukan oleh pengembang yakni

Pertama, perusahaan harus meyakinkan bahwa masyarakat merasa aman.

Kedua, adanya tanggung jawab sosial dari perusahaan terhadap korban yang terdampak.

Ketiga, Komunikasi dari seluruh pihak terus dilanjutkan, agar permasalahan ini tidak terulang di kemudian hari.

“Termasuk kami juga mendengar aspirasi dari perwakilan masyarakat, dari OPD yang terkait dan sebagainya,” terangnya.

Di luar itu, Pemkot Samarinda juga membuka kesempatan seluas-luasnya kepada perusahaan untuk melakukan investasi di Kota Samarinda. Namun di satu sisi kita juga harus memikirkan keselamatan warga.

“Jadi pada intinya kesimpulan kita sepenuhnya menjalankan amanah Kepala Daerah yakni Wali Kota, untuk penutupan permanen, namun yang kita fokuskan saat ini adalah pada penanganan dampak sosial dan agar tidak terulang kembali dikemudian hari kegiatan tersebut,” pungkasnya.

 

 

 


Bagikan

Related Posts