Kutai Kartanegara, Solidaritas – Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, telah menunjukkan komitmennya dalam membangun desa berbasis budaya dan kepedulian lingkungan. Melalui berbagai program partisipatif, desa ini menegaskan komitmennya terhadap pelestarian nilai-nilai lokal sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam.
Salah satu program yang dilakukan oleh desa ini adalah pelestarian budaya lokal melalui kegiatan olahraga tradisional dan kegiatan adat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media kampanye penting untuk menjaga lingkungan.
Kepala Desa Loa Kulu Kota, Mohamad Rijali, mengungkapkan bahwa pihaknya secara konsisten mengangkat kembali olahraga tradisional dan kegiatan adat sebagai media pelestarian budaya dan sarana edukasi lingkungan.
“Olahraga tradisional seperti belogoh, gasing, menyumpit, hingga lomba berap ketinting kembali kita gelar tahun ini. Selain menjadi hiburan, kegiatan ini juga menjadi media kampanye penting untuk menjaga lingkungan,” jelasnya, Selasa (30/9/2025).
Lebih Lanjut Rijali mengatakan bahwa lomba Berap Ketinting adalah salah satu kegiatan yang paling menyita perhatian di desa ini. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan adu cepat perahu tradisional, tetapi juga menyisipkan pesan-pesan kampanye lingkungan seperti larangan menyetrum ikan dan membuang sampah ke sungai.
Kemudian ada tradisi Sedekah Mahakam juga rutin dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas berkah alam.
“Tradisi ini diisi dengan doa bersama dan syukuran sederhana, mencerminkan eratnya hubungan masyarakat dengan alam, khususnya sungai Mahakam yang menjadi sumber kehidupan,” jelas Rijali.
Pada kesempatan itu Rizali juga mengungkapkan pentingnya pengembangan potensi sejarah lokal karena hal ini dapat melestarikan nilai-nilai sejarah lokal dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sejarah.
Salah satu upaya untuk melestarikan nilai nilai sejarah lokal dengan cara aktif melakukan kegiatan di tugu bersejarah bekas lokasi pengibaran bendera kemerdekaan, yang diyakini sebagai tempat penyerahan kekuasaan dari penjajah Belanda ke TNI.
“Kegiatan ini mungkin seremonial, namun melalui kegiatan ini kita bisa terus mengingat bagaimana perjuanagan pendahulu kita untuk meraih kemerdekaan,” tegasnya.
Selain itu, desa ini juga menjalankan program bedah rumah bagi warga kurang mampu serta pemberian beasiswa bagi pelajar berprestasi sebagai bentuk komitmen terhadap peningkatan kesejahteraan dan pembangunan sumber daya manusia. Dengan demikian, desa ini dapat meningkatkan kualitas hidup warga desa dan membantu mereka mencapai potensi penuh mereka.
Dengan berbagai program yang mencakup aspek budaya, lingkungan, sejarah, dan sosial, Rizali yakin bahwa desa Loa Kulu Kota dapat menunjukkan pembangunan desa tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut pelestarian nilai-nilai luhur serta keseimbangan antara manusia dan alam. Desa ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam membangun desa berbasis budaya dan kepedulian lingkungan. ADV/DPMD-Kukar/Sup










