Samarinda, Solidaritas – Di tengah terik kemarau panjang yang melanda Kota Samarinda, pasokan air bersih bagi masyarakat dipastikan tetap aman dan berjalan normal.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, bergerak cepat menepis kekhawatiran publik terkait isu miring yang menyebut seluruh fasilitas pengolahan air telah tercemar garam akibat intrusi air laut ke hilir Sungai Mahakam. Isu liar yang sempat memicu kepanikan tersebut ditegaskan sebagai kabar bohong atau hoaks.
Pemerintah Kota Samarinda memastikan pengetatan pengawasan kualitas air baku dilakukan setiap saat. Dari sekian banyak fasilitas pengolahan air bersih yang dimiliki Perumdam Tirta Kencana, dampak intrusi air laut sejauh ini terpantau sangat melokalisir:
Satu Titik Waspada: Penyesuaian operasional secara berkala hanya terjadi di salah satu intake Kecamatan Palaran akibat lokasinya yang paling dekat dengan area muara.
Mekanisme Off-On: Pompa air di intake Palaran tidak ditutup permanen, melainkan beroperasi secara fleksibel mengikuti ritme pasang surut alami Sungai Mahakam.
Batas Aman Klorida: Demi menjaga kesehatan warga, mesin pengolahan hanya akan dimatikan sementara waktu apabila kadar klorida air sungai melonjak melebihi ambang batas aman 250 ppm.
Produksi Kembali Cepat: Begitu air laut surut dan kadar garam turun drastis di bawah ambang batas, sistem produksi air bersih langsung dinyalakan kembali untuk mengisi pipa-pipa pelanggan.
Menghadapi tantangan alam ini, Wali Kota Andi Harun menegaskan bahwa jajaran Pemkot Samarinda telah bersiaga penuh dengan menyiapkan tiga skenario mitigasi darurat jika dampak intrusi meluas.
Skenario pertama adalah penghentian sementara pompa darurat pada titik terdampak tinggi. Kedua, melakukan rekayasa pengolahan menggunakan campuran bahan kimia khusus yang aman dikonsumsi agar air tetap layak disalurkan. Ketiga, mengalihkan jalur suplai air bersih dari intake di wilayah lain yang posisinya aman dari jangkauan air laut.
Selain penyesuaian teknis pada mesin, Pemkot Samarinda juga sudah menyiagakan armada tangki, tandon umum, serta sumber air alternatif di titik-titik pemukiman rawan.
Andi Harun mengimbau warga Kota Tepian untuk tidak mudah terprovokasi informasi yang belum jelas sumbernya, tetap menghemat pemakaian air harian, serta menyarankan warga Palaran menyetok air bersih secukupnya di rumah sebagai langkah antisipasi mandiri yang bijak. Red