Samarinda,Solidaritas- Terik matahari yang menyengat dan debu yang beterbangan di sudut-sudut Kota Samarinda belakangan ini menjadi sinyal nyata bahwa bumi Benua Etam sedang tidak baik-baik saja.
Kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Niño kini menghadirkan ancaman ganda yang mencekam: kekeringan ekstrem dan lonjakan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di tengah kecemasan warga melihat kepulan asap yang kian sering menghiasi cakrawala, sebuah dorongan spiritual muncul dari parlemen daerah.
Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Samarinda, Arif Kurniawan, mengajak Pemerintah Kota Samarinda bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk bersujud bersama menggelar salat istisqa sebuah ritual ibadah khusus umat Muslim untuk memohon diturunkannya hujan.
“Salat istisqa ini bagian dari ikhtiar kita sebagai umat Islam. Ketika kondisi alam mulai kering dan hujan belum turun, kita perlu bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan,” tutur Arif dengan nada penuh harap, Sabtu (22/8/2026).
Usulan untuk bersujud massal ini bukan tanpa alasan kuat. Data di lapangan menunjukkan bahwa kondisi alam Kaltim memang sudah berada di titik rawan yang membutuhkan intervensi serius dari segala lini.
Laju perluasan titik api di Kalimantan Timur bergerak sangat agresif:
- 329 Kejadian: Total kasus karhutla yang membakar wilayah Kaltim hingga pertengahan bulan ini.
- 134 Kasus Baru: Lonjakan kebakaran yang terjadi hanya dalam kurun waktu dua pekan pertama di bulan Agustus.
- 1.287 Hektare Terdampak: Luas lahan yang hangus per 11 Agustus, mencakup 831 hektare kawasan hutan lindung serta ratusan hektare lahan dan kebun milik warga.
Melihat skala ancaman yang begitu masif, Arif berharap gerakan mengetuk pintu langit ini tidak hanya berhenti di ibu kota provinsi. Ia mendorong agar seluruh pemerintah kabupaten dan kota di seantero Kalimantan Timur secara serentak menggemakan doa yang sama.
Bagi Arif Kurniawan, salat istisqa bukanlah pelarian dari tanggung jawab teknis, melainkan sebuah momentum besar untuk menggerakkan hati masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan yang mulai rusak.
Politisi PKS ini menegaskan bahwa mengetuk pintu langit harus berjalan beriringan dengan menjaga bumi. Pemerintah daerah wajib melipatgandakan kesiapsiagaan tim pemadam, sementara masyarakat sipil dituntut membuang jauh-jauh kebiasaan lama membuka lahan dengan cara dibakar.
“Doa harus disertai ikhtiar. Kita memohon hujan kepada Allah, tetapi kita juga punya kewajiban menjaga lingkungan, tidak membakar lahan, mengurangi kerusakan hutan, dan menjaga sumber air,” tegas Arif mengakhiri perbincangan.
Sembari menunggu langkah resmi dari pemerintah kota dan MUI untuk menggelar salat minta hujan tersebut, warga Kaltim kini diajak untuk memperbanyak istighfar dan memperkuat ikatan sosial. Di sela-sela debu kemarau yang kering, harapan agar hujan yang membawa maslahat segera membasahi tanah Kalimantan Timur terus dipanjatkan. Adv








