Samarinda, Solidaritas – Jagat maya Samarinda dihebohkan oleh rekaman video amatir yang memperlihatkan adu mulut panas di atas sebuah kapal LCT yang tengah bersandar di perairan Sungai Mahakam, kawasan Harapan Baru.
Percekcokan tersebut berujung panjang setelah dua orang pemuda mengaku menjadi korban pemukulan oleh seorang oknum polisi yang tengah berjaga.
Tak terima dengan perlakuan kasar tersebut, kedua pemuda didampingi kuasa hukumnya mendatangi Mapolresta Samarinda pada Kamis (6/8) kemarin. Mereka resmi melaporkan oknum anggota Polsek Samarinda Kota berinisial DS ke Satreskrim dan Seksi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polresta Samarinda.
Kuasa hukum korban, Febronius Kefi, membeberkan bahwa insiden ini murni bermula dari salah paham. Saat itu, kedua kliennya sedang mengemban tugas dari pemilik kapal untuk menjaga kapal mereka yang sedang bersandar.
Namun, jalan menuju kapal tersebut terhalang oleh kapal LCT lain yang kebetulan sedang dijaga oleh oknum polisi berinisial DS. Berniat sopan, kedua korban terlebih dahulu meminta izin kepada Anak Buah Kapal (ABK) untuk menumpang lewat. Oleh ABK, mereka diarahkan untuk melapor kepada petugas pengamanan di atas kapal.
Nahas, niat baik itu justru disambut dengan ketegangan. Belum sempat menjelaskan maksud kedatangan untuk menumpang lewat, kedua pemuda ini langsung dituduh sebagai preman yang hendak memalak bahan bakar.
“Belum sempat menyampaikan maksud dan tujuannya, mereka sudah dituduh hendak meminta solar,” ungkap Kefi mendampingi kliennya di Polresta Samarinda.
Meskipun korban sudah mencoba memberikan penjelasan, situasi justru memanas. “Korban langsung dipiting dan dipukul. Berdasarkan keterangan korban, ada dua orang yang melakukan pemukulan, salah satunya belakangan diketahui merupakan anggota kepolisian,” tambah Kefi.
Kefi juga melayangkan bantahan keras terkait narasi yang beredar liar di media sosial. Isu yang menyebut kliennya adalah preman pencari jatah solar dipastikannya adalah hoaks yang menyudutkan korban.
“Mereka bukan preman, mereka adalah pekerja resmi yang mendapat amanah dari pemilik kapal untuk menjaga kapal yang sedang bersandar. Kami berharap laporan ini diproses secara profesional dan transparan karena ini persoalan yang sangat serius,” tegasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kasi Propam Polresta Samarinda AKP Akhmad Wira Taryudi membenarkan adanya laporan pengaduan dari kedua pemuda tersebut. Kendati demikian, pihak kepolisian masih bersikap hati-hati dan belum menetapkan status pelanggaran terhadap anggotanya karena adanya perbedaan versi cerita.
“Dari masing-masing pihak memiliki keterangan yang berbeda. Satu pihak merasa membela diri (karena menduga ada ancaman), sementara pihak lainnya mengaku menjadi korban pemukulan,” jelas Wira.
Saat ini, institusi penegak hukum tersebut tengah mengumpulkan bukti-bukti penguat, termasuk menunggu hasil visum resmi korban untuk merangkai kronologi kejadian secara utuh.
“Yang jelas, kami akan melakukan penyelidikan terhadap personel yang dilaporkan sesuai prosedur yang berlaku,” pungkasnya menepis kekhawatiran adanya tebang pilih dalam kasus ini. Red









