Kriminal

Pelaminan yang Berubah Menjadi Jeruji Besi, Kisah Pilu Calon Pengantin Kurir Sabu Lapas

Bagikan

Samarinda, Solidaritas –  Cinta memang bisa membawa seseorang melintasi pulau, namun nafsu akan uang instan justru menjerumuskannya ke balik jeruji besi. Impian indah seorang pria asal Pontianak berinisial KY untuk bersanding di pelaminan bersama sang kekasih di Kota Samarinda, kini harus terkubur dalam-dalam di bawah bayang-bayang hukuman mati atau penjara seumur hidup.
Niat awal KY datang ke Kota Tepian sebenarnya sangat mulia, menikahi wanita pujaan hati yang telah mengisi hari-harinya selama satu tahun terakhir. Namun, sebuah panggilan telepon dari masa lalu mengubah segalanya. KY tergoda menjadi kurir barang haram demi keuntungan sesaat.
Langkah kaki calon pengantin ini terhenti secara dramatis pada Rabu (24/6) siang sekitar pukul 13.00 Wita. Tim Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltim yang sudah mengendus pergerakannya, menyergap KY di kawasan Jalan DI Pandjaitan, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang.
Ironisnya, dalam tas berwarna merah muda yang ia bawa, petugas tidak menemukan seserahan atau mas kawin pernikahan. Di dalamnya justru tersimpan rapat satu bungkus teh Cina warna hijau berisi sabu-sabu kelas berat dengan total berat mencapai hampir satu kilogram.
Kepala BNNP Kaltim, Brigjen Pol Rudy Mulyanto, mengungkap tabir gelap di balik perjalanan cinta yang menyimpang ini. Berdasarkan hasil penyelidikan mendalam, bisnis haram yang dilakoni KY ternyata dikendalikan oleh seorang narapidana dari balik jeruji besi.
“Awalnya KY dimintai tolong oleh temannya berinisial MK di Pontianak melalui sebuah aplikasi panggilan langsung,” ujar Brigjen Pol Rudy dalam rilis pers, Rabu (5/8).
Siasat jahat ini kian memilukan karena melibatkan lingkaran keluarga. MK, sang pengendali, ternyata masih memiliki hubungan kerabat dengan calon istri KY. Tak hanya itu, dalam menjemput bungkusan sabu tersebut, KY ditemani oleh IH—warga Samarinda yang juga merupakan kerabat dari calon istrinya sendiri—untuk bertindak sebagai penunjuk jalan.
Setelah ditelusuri lebih jauh oleh tim berantas BNNP Kaltim hingga ke Kalimantan Barat, terungkap fakta mengejutkan. MK yang mengatur seluruh skenario pengiriman ini nyatanya berstatus sebagai warga binaan di dalam Lapas Bengkayang, Pontianak.
Jalur penyelundupan barang haram ini terbilang nekat. Sabu tersebut dipasok dari Kuching, Malaysia, diseberangkan ke Pontianak, lalu dibawa oleh KY menempuh jalur darat yang panjang menuju Samarinda, memanfaatkan momentum rencana pernikahannya agar tidak memicu kecurigaan petugas.
Meski KY berkilah bahwa aksi nekat ini adalah pengalaman pertamanya demi modal menikah, petugas tidak langsung percaya begitu saja.
“Ya, namanya pelaku ya mengaku baru sekali. Namun dari pola pergerakannya, diduga kuat mereka sudah melakukan aksi ini lebih dari sekali, bahkan bisa sampai lima kali,” tegas Rudy.
Kini, baju pengantin yang diimpikan KY berganti dengan rompi tahanan berwarna mencolok. Sementara sang kekasih hanya bisa meratapi hari bahagia yang berubah menjadi duka.
Di sisi lain, sang otak intelektual, MK, kini diproses hukum di Lapas Bengkayang. Kisah ini menjadi pesan berharga bagi siapa saja: bahwa mahar terbaik untuk sebuah pernikahan adalah nafkah yang halal, bukan tumpukan harta dari jalur pintas yang merusak bangsa. Red

Bagikan

Related Posts