Kriminal

Mata Merah Tersangka Menyaksikan Sabu Miliaran Rupiah Menjadi “Jus” di Blender BNNP Kaltim

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Ada pemandangan yang mengiris hati sekaligus penuh ironi di aula Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltim, Jalan Rapak Indah, Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Rabu (5/8) siang.
Dua pria berbaju tahanan, KY dan IH, hanya bisa berdiri terpaku dengan tatapan kosong. Kedua pasang mata mereka tampak memerah, menahan beban penyesalan yang teramat berat.
Hari itu, mereka dipaksa menyaksikan langsung akhir dari petualangan nekat mereka. Bukan sekadar menjadi penonton, tangan mereka sendiri yang diperintahkan untuk memasukkan kristal putih seberat 993,78 gram neto senilai miliaran rupiah ke dalam sebuah blender berisi air.
Begitu tombol ditekan, mesin menderu. Dalam hitungan detik, serbuk haram yang mereka bawa jauh-jauh dari jaringan Pontianak itu larut sempurna, berubah wujud menjadi “jus” bening yang mematikan.
Bersamaan dengan lumatnya sabu tersebut, lenyap pula seluruh ilusi keuntungan besar yang sempat menari-nari di kepala mereka. Yang tersisa kini hanyalah ancaman hukuman jeruji besi yang panjang.
Kepala BNNP Kaltim, Brigjen Pol Rudy Mulyanto, mengungkapkan bahwa pemusnahan terbuka ini sengaja menghadirkan para tersangka agar ada transparansi sekaligus efek jera.
“Barang bukti dimusnahkan setelah kelengkapan berkas selesai, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan atau penyalahgunaan barang bukti ini,” tegas Rudy di hadapan media.
Air racikan blender itu kemudian dibuang tanpa sisa ke saluran pembuangan, menandakan berakhirnya riwayat barang selundupan tersebut. Namun, demi keperluan hukum yang menjerat KY dan IH, petugas masih menyisakan sedikit bagian.
“Sebanyak 1,17 gram neto disisihkan guna kepentingan pemeriksaan di laboratorium, dan 1,05 gram neto lagi untuk pembuktian di pengadilan nanti,” jelas Jenderal bintang satu tersebut.
Siang itu, putaran pisau blender tidak hanya menghancurkan pasokan narkoba antarprovinsi.
Bagi KY dan IH, setiap putaran mesin itu seolah menggilas masa depan mereka, meninggalkan penyesalan mendalam yang tercermin jelas dari mata merah keduanya yang terus menatap nanar ke arah lantai. Red

Bagikan

Related Posts