Berau, Solidaritas – Bagi para pemburu takdir petualangan, nama Labuan Cermin pasti sudah tidak asing lagi di telinga. Danau legendaris ini tersohor karena memiliki fenomena unik dua rasa: asin di bagian dasar dan tawar di permukaan.
Namun, pesona magisnya tidak berhenti di situ. Airnya yang super jernih bak kaca transparan membuat siapa saja bisa memandang jelas batang kayu lama, bebatuan kuno, hingga ikan-ikan yang berenang bebas di dasarnya.
Jika Anda berkesempatan mengunjunginya, sungguh mubazir jika hanya berdiri di tepian dan berswafoto. Anda wajib menceburkan diri dan menyelam. Rasakan langsung sensasi magis saat kulit Anda menyentuh peralihan suhu air yang mendadak berubah dari dingin ke hangat, seiring lidah Anda mengecap perubahan rasa dari tawar ke asin. Sekali mencoba, pengalaman menyelam di Labuan Cermin ini dijamin akan melekat kuat dalam ingatan seumur hidup.
Labuan Cermin sebenarnya adalah sebuah gerbang pembuka. Wisatawan yang datang dari arah mana pun pasti akan menyapa danau indah ini terlebih dahulu sebelum menjangkau keindahan lain di Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau.
Kawasan pesisir yang menghadap langsung ke Selat Makassar ini kerap dijuluki the hidden paradise atau surga yang tersembunyi. Disebut tersembunyi karena letaknya yang cukup terpencil di ujung berau, membuat keindahannya belum sepadat Kepulauan Derawan.
Padahal, Biduk-Biduk menyimpan puluhan titik estetis yang siap membuat mulut Anda menganga takjub. Kombinasi hutan lebat yang masih perawan, garis pantai berpasir putih, air laut kebiruan, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya adalah paket lengkap untuk melarikan diri dari penatnya rutinitas kota.
Puas menikmati danau dua rasa, petualangan bisa dilanjutkan dengan berkendara menuju Dermaga Teluk Sulaiman.
Dari dermaga ini, sebuah perahu motor akan mengantarkan Anda membelah lautan menuju Pulau Kaniungan Besar. Begitu merapat, lambaian pohon nyiur kelapa dan hamparan pasir putih yang lembut langsung menyambut kedatangan Anda.
Keistimewaan utama Pulau Kaniungan Besar terletak pada titik snorkeling-nya yang luar biasa indah.
Hebatnya lagi, taman bawah laut penuh terumbu karang warna-warni dan biota laut yang menggemaskan ini hanya berjarak sekitar 3 meter saja dari bibir pantai!
Anda tidak perlu menjadi perenang andal atau menyewa kapal lagi ke tengah laut untuk menikmati pemandangan akuarium alami ini.
Semuanya sudah tersaji tepat di depan mata, dan seluruh peralatan selam permukaan pun sudah tersedia untuk disewa di pulau.
Menikmati Kaniungan tentu tidak akan cukup jika hanya dalam hitungan jam. Menginaplah di pondokan atau cottage yang ada di sana bersama rombongan.
Saat malam tiba, jika beruntung, Anda bisa menyaksikan penyu-penyu hijau naik ke darat untuk bertelur atau sekadar berjalan santai di tepi pantai. Urusan perut pun tidak perlu risau, warung-warung lokal siap menyajikan kuliner seafood yang ikannya benar-benar segar karena baru ditangkap dari laut (fresh from the sea).
Bagi yang hobi memancing, bersiaplah merasakan sensasi strike berkali-kali karena populasi ikan di sekitar pantai ini sangat melimpah.
Pilihan alternatif lain untuk bermalam yang tidak kalah seru adalah Lamin Guntur. Berlokasi di kawasan Teluk Sumbang, tempat menginap tepi pantai ini menawarkan puluhan cottage unik yang sangat ramah kamera alias Instagramable.
Tempat ini bisa diakses lewat jalur darat dari pusat Biduk-Biduk, maupun jalur laut dari Teluk Sulaiman dan Pulau Kaniungan Besar.
Fasilitas penunjang wisata di Lamin Guntur terbilang sangat lengkap, mulai dari pasokan air bersih, konsumsi, hingga penyewaan wahana permainan seperti motor roda empat (ATV) untuk menjelajah pantai.
Menariknya lagi, posisi Lamin Guntur sangat strategis untuk menjangkau destinasi eksotis lainnya seperti Goa Bidadari yang misterius hingga pemukiman ramah warga Dayak setempat.
Pengalaman berlibur di sini dipastikan jauh dari kata bosan karena opsi destinasinya yang seolah tidak ada habisnya.
Untuk bisa sampai ke surga tersembunyi ini, ada tiga jalur utama yang bisa Anda pilih sesuai dengan anggaran dan preferensi waktu:
- Jalur Darat Klasik (Via Tanjung Redeb): Memulai perjalanan dari Samarinda melewati Muara Wahau hingga tiba di Tanjung Redeb. Dari ibu kota Berau tersebut, perjalanan dilanjutkan ke Talisayan hingga akhirnya tiba di Biduk-Biduk. Jalur ini santai namun memakan waktu sekitar 2 hari perjalanan darat.
- Jalur Udara (Tercepat): Anda bisa mengambil penerbangan dari Balikpapan menuju Bandara Kalimarau di Tanjung Redeb. Setelah mendarat, Anda tinggal menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam melewati Talisayan untuk bisa sampai ke Biduk-Biduk. Jalur ini sangat direkomendasikan jika Anda memiliki anggaran lebih.
- Jalur Darat Jalur Tikus (Via Kaliorang): Menggunakan rute darat dari Samarinda menuju Bengalon hingga Kaliorang. Dari Simpang 4 Kaliorang, ambil jalur kiri menuju dermaga penyeberangan di kawasan Kaubun. Kendaraan roda dua maupun roda empat bisa menyeberangi sungai menumpang kapal feri kayu tradisional. Setelah menyeberang, Anda akan membelah hamparan perkebunan kelapa sawit luas dan langsung tembus ke Biduk-Biduk. Jalur ini jauh lebih singkat; jika perjalanan lancar, Anda bisa tiba dalam waktu seharian penuh dari Samarinda.
Biduk-Biduk dengan segala keindahan alamnya yang murni siap membayar lunas setiap lelah perjalanan Anda. Jadi, kapan Anda menjadwalkan cuti untuk menjemput serpihan surga di ujung Kalimantan Timur ini? Selamat berlibur! Arian









