{"id":9670,"date":"2026-01-27T15:36:01","date_gmt":"2026-01-27T15:36:01","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=9670"},"modified":"2026-01-27T15:36:01","modified_gmt":"2026-01-27T15:36:01","slug":"h-redy-borong-seribu-tiket-kuyank","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/01\/27\/h-redy-borong-seribu-tiket-kuyank\/","title":{"rendered":"H Redy Borong Seribu Tiket Kuyank"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Catatan Rizal Effendi<\/strong><\/p>\n<p>JANGAN lupa dua hari lagi. Yaitu, Kamis, 29 Januari 2026. Ada pemutaran film menarik di seluruh bioskop di Indonesia terutama di Kalimantan. Mau tahu? Judulnya \u201c<strong><em>Kuyank\u201d<\/em><\/strong> yang disutradarai anak Banjar yang mempunyai <em>ngaran \u00a0<\/em>Johansyah Jumberan.<\/p>\n<p>Johan asli <em><u>urang<\/u><\/em> Banjar. Kalau <em>bapander<\/em> R-nya \u201cbetagar.\u201d Tapi dia hebat. Mengawali kariernya dari penulis skenario. Film pertamanya meledak dan heboh. Judulnya \u201c<strong><em>Saranjana<\/em><\/strong><em>\u201d<\/em> kota gaib di kawasan Pulau Laut, Kota Baru, Kalsel. Jumlah yang menonton di atas satu juta orang.<\/p>\n<p>\u201cKuyank\u201d dibaca kuyang sepertinya bakal menyamai \u201cSaranjana\u201d. Bahkan bisa lebih. Karena sudah viral di jagat media sosial. Ini cerita yang memang menarik dan penuh mistis. Hampir semua orang tahu, kuyang adalah sejenis hantu yang melegenda terutama di Kalimantan Selatan. Dia suka menghisap darah wanita hamil, orang yang tengah melahirkan atau anak-anak balita.<\/p>\n<p>Dalam film \u201cKuyank\u201d Rusmiati yang diperankan Putri Intan Kasela terpaksa mempelajari ajian kuyang demi kecantikan dan keabadian. Ini gara-gara mertuanya mendorong sang suami, Badri (diperankan Rio Dewanto) disuruh poligami \u00a0alias <em>babini<\/em> dua untuk mendapatkan keturunan. Rusmiati <em>gaer<\/em> kehilangan Badri, sehingga dia nekat menjadi kuyang. Ceritanya menjadi seru karena Rusmiati \u201cKuyank\u201d akhirnya diburu masyarakat, sementara Badri berusaha melindungi istrinya yang sangat dia cintai.<\/p>\n<p>Meski bergenre film horor, tapi \u201cKuyank\u201d juga menghibur. Banyak adegan dan dialog yang mengundang tawa khususnya bagi mereka yang mengerti bahasa Banjar. Ada istilah <em>bungas,<\/em> yang menggambarkan wanita cantik. Ada lelaki <em>baung <\/em>yang menggambarkan lelaki mata keranjang atau lanji.<\/p>\n<p>Sutradara \u201cKuyank\u201d, Johansyah Jumberan, Senin kemarin ada di Balikpapan. Dia datang bersama dua pemain yaitu Jolene Marie dan Dayu Wijanto. \u201cTadinya Rio Dewanto mau datang. Tapi teralang jadwal syuting sinetron yang padat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Jolene Marie adalah ratu kecantikan, penyanyi dan <em>runner-up<\/em> kontes Puteri Indonesia 2019. Dia dilahirkan di Santa Ana, California. Dalam \u201cKuyank\u201d, dia berperan sebagai Husnah, yang mengantarkan \u00a0Rusmiati menjadi kuyang. Dia juga kuyang. Sedang Dayu Wijanto adalah orang Jawa yang menyukai bidang seni dan olahraga. Pernah tinggal di New York dan pernah bekerja dengan BJ Habibie. Dia banyak ikut membintangi film nasional. Dalam \u201cKuyank\u201d dia berperan sebagai Hajjah Saidah, ibunda Badri. Tampil norak dengan tangan dan leher penuh perhiasan emas. Maklum, ceritanya mereka itu keluarga pedagang emas.<\/p>\n<p>Johan sempat singgah di rumah tokoh senior Banjar Balikpapan, pengusaha H Redy Asmara di Balikpapan Baru. Di situ ada juga saya dan beberapa tokoh Banjar lainnya. Ada Bu Titis, Bu Erna, Rudi, H Syukur, Yatim, dan lainnya. Sambil menikmati beberapa wadai banjar, Johan <em>bekesah <\/em>sekitar film \u201cKuyank\u201d yang segera tayang di seluruh bioskop di Tanah Air.<\/p>\n<p>Johan sempat membagi kaus dan pin \u201cKuyank\u201d kepada H Redy. Ada juga parfum \u201cKuyank\u201d. \u201cBiar <em>taingat<\/em> terus dengan film \u2018Kuyank&#8217; dan semua mau menonton,\u201d ajaknya.<\/p>\n<p>Menurut Johan, penggarapan film \u201cKuyank\u201d benar-benar penuh perjuangan. Para pemain dia angkut dari Jakarta dan berdiam sebulan di Banjar. Biar mengerti budaya dan bahasa Banjar. Propertinya tidak tanggung-tanggung. Beratnya sekitar satu setengah ton. \u201cSemua kita bawa agar film &#8216;Kuyank\u2019 benar-benar bisa ditonton dan menarik,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>H Redy meyakini film \u201cKuyank\u201d bakal sukses. Tidak saja disukai orang Banjar, tapi juga masyarakat Indonesia lain. Kuyang itu mirip <em>parakang <\/em>di Sulawesi Selatan atau <em>leak <\/em>di Bali.<\/p>\n<p>Untuk memberikan dukungan, H Redy memborong seribu tiket Kuyank. Nanti akan dia bagi gratis kepada semua anak buah dan pekerjanya. \u201cBiar semua bisa menonton dan film \u2018Kuyank\u2019 sukses di Tanah Air terutama Kalimantan,\u201d katanya bersemangat.<\/p>\n<p>Tadi malam Johansyah mengajak H Redy dan bubuhan Banua Balikpapan menonton pemutaran perdana film \u201cKuyank\u201d di XXI Balcony. Ratusan orang datang dan memuji film \u201cKuyank\u201d memang menarik dan menunjukkan ada anak Banjar yang jago <em>maulah<\/em> film berlatar belakang kisah budaya daerah.<\/p>\n<p>Dari Balikpapan, hari ini Johan bersama dua artisnya meneruskan kunjungan promosinya ke Samarinda. Dia tahu orang Samarinda juga tak sabar untuk menonton \u201cKuyank\u201d. \u201cAjak bubuhan kita semua menonton Kuyank.\u00a0 Sudah waktunya film Kalimantan juga berjaya di layar nasional,\u201d kata Johan <em>bahimat.<\/em><\/p>\n<p>USUL FILM \u201cBUAYA KUNING\u201d<\/p>\n<p>Sebagai <em>urang<\/em> Kalua, H Redy tertarik mengajak Johansyah menggarap film <strong><em>Buaya Kuning<\/em><\/strong>. \u00a0Dia siap bekerjasama karena cerita buaya kuning juga melegenda di Kalimantan Selatan termasuk di wilayah Kalimantan lainnya.<\/p>\n<p>Kabarnya masih ada masyarakat tradisional Banjar yang <em>maharagu<\/em> buaya kuning. Adat ini masih dilestarikan di sepanjang Sungai Tabalong oleh masyarakat Kalua dan Amuntai. Sebagian orang percaya bahwa buaya kuning adalah jelmaan\u00a0 para datu yang telah hidup sejak zaman Putri Junjung Buih. Ada juga yang mendapatkan buaya kuning melalui kembaran saat lahir.<\/p>\n<p>Bagi orang Banjar, buaya kuning dipercaya sebagai makhluk gaib yang melakukan perjanjian dengan manusia berkaitan dengan ilmu kesaktian, kemakmuran atau kekayaan hingga panjang umur. Sebagai gantinya manusia dan anak cucunya kelak harus merawat dan memelihara buaya kuning tersebut melalui ritual <em>Malabuh.<\/em><\/p>\n<p>Upacara <em>Malabuh<\/em> itu ditandai dengan melarungkan sejumlah makanan di antaranya<em> lakatan<\/em> (ketan), <em>hintalu bejarang<\/em> (telur rebus), pisang, bubur <em>habang<\/em> dan bubur putih serta sejumlah makanan lainnya. Kalau ini tidak dilakukan, maka bakal ada anggota keluarga yang mengalami sakit atau bahkan kematian.<\/p>\n<p>Menurut H Redy, jika legenda buaya kuning difilmkan, dia optimistis juga meledak di pasaran. Karena ceritanya sangat menarik dan penuh aroma mistis.<\/p>\n<p>Johan sendiri mengaku tertarik memfilmkan buaya kuning, apalagi mendapatkan dukungan dari pengusaha H Redy. \u201cKita perlu mengangkat berbagai cerita dan budaya Banjar, biar orang tahu bahwa suku Banjar di Kalimantan juga kaya dengan budayanya termasuk cerita mistisnya,\u201d kata Johansyah dengan wajah bahagia.<\/p>\n<p>Sepulang nonton film \u201cKuyank\u201d malam tadi, saya tidur dengan lampu yang terang. Saya takut tengah malam kuyang masuk ke kamar saya. Soalnya sejak dulu saya takut hantu. Ada <em>kawal begayaan.<\/em> <em>\u201cKada<\/em> usah takut, kuyang<em> kada<\/em> mau <em>mahisap<\/em> darah orang <em>tuha. <\/em>Darahnya pahit, kuyangnya bisa keracunan\u201d katanya tertawa.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan Rizal Effendi JANGAN lupa dua hari lagi. Yaitu, Kamis, 29 Januari 2026. Ada pemutaran film menarik di seluruh bioskop di Indonesia terutama di Kalimantan. Mau tahu? Judulnya \u201cKuyank\u201d yang disutradarai anak Banjar yang mempunyai ngaran \u00a0Johansyah Jumberan. Johan asli urang Banjar. Kalau bapander R-nya \u201cbetagar.\u201d Tapi dia hebat. Mengawali kariernya dari penulis skenario. Film [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":9671,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-9670","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9670","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9670"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9670\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9672,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9670\/revisions\/9672"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9671"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9670"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9670"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9670"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}