{"id":5978,"date":"2025-06-01T15:22:19","date_gmt":"2025-06-01T14:22:19","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=5978"},"modified":"2025-06-01T15:22:19","modified_gmt":"2025-06-01T14:22:19","slug":"revitalisasi-embung-maluhu-meningkatkan-kesejahteraan-petani-dan-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2025\/06\/01\/revitalisasi-embung-maluhu-meningkatkan-kesejahteraan-petani-dan-masyarakat\/","title":{"rendered":"Revitalisasi Embung Maluhu: Meningkatkan Kesejahteraan Petani dan Masyarakat"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kutai Kartanegara,Solidaritas<\/strong> &#8211;\u00a0Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara merevitalisasi Embung Maluhu di Desa Maluhu, Kecamatan Tenggarong, yang diresmikan oleh Bupati Edi Damansyah pada 23 April 2025. Embung ini menjadi sarana pengairan pertanian baru yang menampung air dan menjadi sumber irigasi utama bagi enam Rukun Tetangga (RT) di sekitarnya.<\/p>\n<p>Embung yang dulunya hanya genangan air biasa, kini telah direvitalisasi berkat dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Fungsinya bukan hanya menampung air, tapi menjadi sumber irigasi utama bagi enam Rukun Tetangga (RT) di sekitarnya RT 17, 18, 19, 20 dan 21.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah sekarang air bukan lagi jadi masalah. Embung Maluhu benar-benar menjadi penyambung hidup bagi sawah-sawah warga kami,\u201d kata Tri Joko Kuncoro,\u00a0 Lurah Maluhu, saat ditemui dilokasi pemancingan Kaning Park, Sabtu (1\/6\/2025).<\/p>\n<p>Menurutnya, keberadaan embung memberi dampak nyata sistem irigasi lain juga telah dibangun untuk menopang sektor pertanian yang menjadi tulang punggung desa.<\/p>\n<p>\u201cMayoritas warga kami adalah petani selain padi ada juga yang menanam sayur dan tanaman hortikultura lainnya tapi padi tetap utama dan luas lahan kami sekitar 150 hektare,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dengan sistem irigasi yang lebih baik, hasil panen pun meningkat kini petani di Maluhu mampu memanen antara 3 hingga 6 ton padi per hektare.<\/p>\n<p>Revitalisasi Embung Maluhu menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan infrastruktur kecil bisa membawa perubahan besar lebih dari sekadar penampung air, embung ini menjadi harapan baru bagi petani untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan.<\/p>\n<p>\u201cKami harap ke depan akan ada lebih banyak perhatian seperti ini. Karena ketika sawah terairi, warga bisa menanam, dan itu artinya dapur tetap mengepul,\u201dungkapnya.<\/p>\n<p>kapasitas tampung 3.000 meter kubik dan luas genangan lebih dari setengah hektare, embung ini dapat menyediakan air untuk sekitar 15 hektare lahan sawah.<\/p>\n<p>Selain menjadi sumber utama irigasi bagi lahan pertanian di sekitarnya, embung ini juga tengah dikembangkan sebagai destinasi wisata ramah keluarga yang mengusung konsep keberlanjutan lingkungan.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan dalam penataan kawasan embung sejumlah fasilitas akan dibangun, seperti lintasan jogging, tempat duduk, gazebo, hingga ruang edukasi yang berkaitan dengan pertanian dan konservasi air.<\/p>\n<p>\u201cIni bukan hanya ruang terbuka, tapi juga akan menjadi tempat rekreasi sekaligus pembelajaran,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut Tri Joko, kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mampu menarik minat masyarakat, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan.<\/p>\n<p>\u201cEmbung ini akan dirancang sebagai tempat yang nyaman bagi keluarga, pelajar, hingga wisatawan lokal yang ingin menikmati suasana alam,\u201dpungkasnya. ADV\/DiskominfoKukar\/ Pia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kutai Kartanegara,Solidaritas &#8211;\u00a0Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara merevitalisasi Embung Maluhu di Desa Maluhu, Kecamatan Tenggarong, yang diresmikan oleh Bupati Edi Damansyah pada 23 April 2025. Embung ini menjadi sarana pengairan pertanian baru yang menampung air dan menjadi sumber irigasi utama bagi enam Rukun Tetangga (RT) di sekitarnya. Embung yang dulunya hanya genangan air biasa, kini telah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5981,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"class_list":["post-5978","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutai-kartanegara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5978","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5978"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5978\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5980,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5978\/revisions\/5980"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5981"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5978"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5978"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5978"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}