{"id":3344,"date":"2025-01-06T20:58:36","date_gmt":"2025-01-06T20:58:36","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=3344"},"modified":"2025-01-08T01:00:43","modified_gmt":"2025-01-08T01:00:43","slug":"pbb-kekerasan-geng-haiti-kian-meningkat-lebih-dari-5-600-orang-tewas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2025\/01\/06\/pbb-kekerasan-geng-haiti-kian-meningkat-lebih-dari-5-600-orang-tewas\/","title":{"rendered":"PBB: Kekerasan geng Haiti kian meningkat, lebih dari 5.600 orang tewas"},"content":{"rendered":"<p><strong>Solidaritas<\/strong> &#8211; Kekerasan geng di Haiti terus meningkat, dengan Kantor Hak Asasi Manusia PBB melaporkan lebih dari 1.000 korban jiwa tambahan pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Geng-geng tersebut kini menguasai lebih dari 80 persen ibu kota, Port-au-Prince, dan wilayah lainnya di negara tersebut.<\/p>\n<p>Menurut pernyataan PBB pada Senin (6\/1), sedikitnya 5.601 orang tewas, 2.212 terluka, dan 1.494 diculik akibat kekerasan geng di Haiti tahun lalu.<\/p>\n<p>Angka tersebut meningkat lebih dari 1.000 dibandingkan total korban jiwa pada 2023.<\/p>\n<p>\u201cAngka-angka itu saja tidak dapat menggambarkan kengerian absolut yang terjadi di Haiti, tetapi menunjukkan kekerasan tanpa henti yang dialami masyarakat,\u201d ujar Volker Turk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.<\/p>\n<p>Haiti telah dilanda kekerasan dari geng-geng yang menguasai sebagian besar wilayah Port-au-Prince dan daerah sekitarnya.<\/p>\n<p>Pada Desember 2024, geng Wharf Jeremie melakukan salah satu serangan paling mematikan tahun itu dengan membunuh setidaknya 207 orang di Cite Soleil, Port-au-Prince.<\/p>\n<p>Sebagian besar korban adalah orang lanjut usia yang dituduh menggunakan voodoo untuk mencelakai anak pemimpin geng tersebut.<\/p>\n<p>Menurut PBB, geng tersebut membakar, memutilasi atau membuang jasad korban ke laut.<\/p>\n<p>Sejak 2022, geng Wharf Jeremie telah bersaing dengan kelompok lain untuk menguasai jalan-jalan menuju pelabuhan utama dan terminal kontainer di ibu kota.<\/p>\n<p>\u201cUpaya tambahan dari pihak berwenang, dengan dukungan komunitas internasional, diperlukan untuk menangani akar masalah ini,\u201d tambah Turk.<\/p>\n<p>Misi Dukungan Keamanan Multinasional yang disetujui PBB, dipimpin oleh polisi Kenya, memerlukan sumber daya yang memadai untuk secara efektif memerangi kekerasan geng.<\/p>\n<p>Turk menekankan bahwa &#8220;memulihkan supremasi hukum harus menjadi prioritas utama.&#8221;<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan yang lebih kuat terhadap Kepolisian Nasional Haiti, dengan dukungan internasional, untuk memastikan para petugas bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilaporkan.<\/p>\n<p>Turk menyerukan penegakan penuh sanksi dan embargo senjata PBB untuk mencegah senjata dan amunisi masuk ke Haiti.<\/p>\n<p>Ia mencatat bahwa senjata yang diselundupkan ke Haiti sering kali berakhir di tangan geng kriminal, mengakibatkan &#8220;ribuan orang tewas, ratusan ribu mengungsi, dan infrastruktur serta layanan penting seperti sekolah dan rumah sakit terganggu atau hancur.&#8221;<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa situasi keamanan yang parah dan krisis hak asasi manusia yang berlangsung di Haiti membuat kepulangan warga secara aman, bermartabat, dan berkelanjutan menjadi mustahil.<\/p>\n<p>Namun, deportasi masih terus dilakukan.<\/p>\n<p>\u201cSaya kembali menyerukan kepada semua negara untuk tidak secara paksa memulangkan siapa pun ke Haiti,\u201d tegas Turk.<\/p>\n<p>Selama bertahun-tahun, Haiti, dengan populasi lebih dari 11 juta jiwa, telah berjuang menghadapi krisis politik, ekonomi, dan keamanan yang mendasar, sementara ancaman kelaparan semakin nyata.<\/p>\n<p>Sumber: Anadolu<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Solidaritas &#8211; Kekerasan geng di Haiti terus meningkat, dengan Kantor Hak Asasi Manusia PBB melaporkan lebih dari 1.000 korban jiwa tambahan pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Geng-geng tersebut kini menguasai lebih dari 80 persen ibu kota, Port-au-Prince, dan wilayah lainnya di negara tersebut. Menurut pernyataan PBB pada Senin (6\/1), sedikitnya 5.601 orang tewas, 2.212 terluka, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3337,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3344","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3344","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3344"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3344\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3345,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3344\/revisions\/3345"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3337"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3344"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3344"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3344"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}