{"id":325,"date":"2023-12-18T23:58:39","date_gmt":"2023-12-18T23:58:39","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=325"},"modified":"2023-12-18T23:58:39","modified_gmt":"2023-12-18T23:58:39","slug":"bpbd-kota-samarinda-semprot-pohon-ketapang-yang-diserang-ulat-bulu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2023\/12\/18\/bpbd-kota-samarinda-semprot-pohon-ketapang-yang-diserang-ulat-bulu\/","title":{"rendered":"BPBD Kota Samarinda Semprot Pohon Ketapang Yang Diserang \u00a0Ulat Bulu"},"content":{"rendered":"<p>Untuk memutus penyebaran ulat bulu di kota Samarinda, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Samarinda akhirnya melakukan penyemprotan menggunakan obat pembasmi hama di Taman Bebaya, penyemprotan kali ini juga melibatkan tim animal rescue kota Samarinda.<\/p>\n<p>Sejumlah petugas BPBD Kota Samarinda dengan menggunakan baju hazmat langsung melakukan penyemprotan obat pembasmi hama ke pohon pohon yang ada di taman Bebaya yang terletak tepat di samping Icon Kota Samarinda yakni Jembatan Kembar pada senin (18\/12\/2023).<\/p>\n<p>Penyemprotan kearah tanaman yang telah dipenuhi ulat bulu yang selama ini meneror masyarakat kota Samarinda dimaksudkan agar ulat bulu ini mati, sehingga tanaman bisa kembali segar dan terror gatalgatal yang diderita para warga yang datang ke taman itu segera berakhir.<\/p>\n<p>Suwarso kepala BPBD kota Samarinda yang memimpin proses penyemprotan mengatakan bahwa ini dilakukan agar serangan ulat bulu ini tidak menjadi \u00a0bencana yang lebih besar, dari itu bpbd akan segera melakukan evaluasi setiap penanganan yang dilakukan oleh BPBD, \u00a0jangan sampai seluruh tanaman menjadi rusak.<\/p>\n<p>\u201c Ini kita pantau terus, selain itu<\/p>\n<figure id=\"attachment_326\" aria-describedby=\"caption-attachment-326\" style=\"width: 483px\" class=\"wp-caption alignleft\"><a href=\"http:\/\/solidaritas.news\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Snapshot18.bmp\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-326\" src=\"http:\/\/solidaritas.news\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Snapshot18-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"483\" height=\"272\" srcset=\"https:\/\/solidaritas.news\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Snapshot18-300x169.jpg 300w, https:\/\/solidaritas.news\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Snapshot18-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/solidaritas.news\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Snapshot18-768x432.jpg 768w, https:\/\/solidaritas.news\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Snapshot18-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/solidaritas.news\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Snapshot18-750x422.jpg 750w, https:\/\/solidaritas.news\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Snapshot18-1140x641.jpg 1140w, https:\/\/solidaritas.news\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Snapshot18.bmp 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 483px) 100vw, 483px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-326\" class=\"wp-caption-text\">Menggunakan baju Hazmat petugas BPBD Kota Samarinda menyemprotkan obat pembasmi Hama ke pohon Ketapang (foto: Bejo)<\/figcaption><\/figure>\n<p>kita harus harus segera antisipasi sebelum menyebar diwilayah lain, \u00a0ibaratnya saat ini kita harus kurung, \u00a0dikurung supaya tidakmenyebar dan hari ini kita melakukan penyemprotan agar ulat ulat bulu ini tidak keluar dari Taman Bebaya,\u201dkata Suwarso.<\/p>\n<p>\u201cSaat ini kami juga melibatkan rekan rekan dari relawan animal rescue, \u00a0dan tadi ulatnya sudah berhasil identifikasi,\u00a0 sehingga penanggulanganya saat ini jelas, sebelumnya DLH juga sudah ada melakukan penyemprotan dan telah melakukan identifikasi , harapanya penanganannya kali ini bisalebih focus di taman Bebaya,\u201d jelas Suwarso kepala BPBD Kota Samarinda.<\/p>\n<p>Suwarso mengaku serangan ulat\u00a0 ulat bulu diarea taman Bebaya kota Samarinda semakin meresahkan, sejumlah tanaman sudah rusak akibatnya pemerintah kota Samarinda harus menutup sementara Taman Bebaya dari aktifitas warga.<\/p>\n<p>Namun hingga saat ini keluhan akan dampak ulat bulu masih terus bermunculan baik secara langsung ataupun melalui media social, \u00a0keluhan tidak hanya datang dari para pengendara yang melintas di depan taman, tapi juga dari warga yang tinggal di area pesisir sungai.<\/p>\n<p>\u201cPara pengendara dan masyarakat kota samarinda mengeluhkan rasa gatal setiap melintasi taman bebaya ataupun jembatan Mahakam,\u201d jelas Suwarso.<\/p>\n<p>Sementara itu Suparlin Koordinator Animal Rescue mengatakan teror ulat bulu yang mengakibatan gatal gata bagi pengunjung harus dicegah dengan cara yang lebih intensif, sebelumnya ini pemerintah hanya memutus penyebaran ulat bulu dengan menyemprot tanaman yang terdampak saja, sementarayang tidak terdampak tidak disemprot.<\/p>\n<p>\u201cSudah saatnya kita menyelamatkan tanaman-tanaman lain , yang harus dilakukan adalah memutus makanan mereka dengan cara menyemprot tanaman tanaman yang masih baik saat ini, kemarin pohon rambai padi, saat ini mulai menyerang pohon ketapang, besok besok tanaman lain yang ada di taman ini dan jug ataman taman di kota Samarinda,\u201d kata Suparlin.<\/p>\n<p>Dari itu menggunakan pengetahuannya supalin mengatakan akan memastikan ulat ulat bulu tidak kembali lagi.<\/p>\n<p>\u201cobat yang kami pakai ini sifatnya membunuh ulat bulu yang terkena semprotan langsung obat ini, selain itu obat yang kita semprotkan akan membuat daun daun yang tersemprot akan beracun sehingga ulat bulu yang tidak terkena semprotan juga akan mati ketika memakan daunnya,\u201d kata Suparlin.<\/p>\n<p>Dengan cara ini diharapkan ulat bulu tesebut bisa hilang dari taman Bebaya. (Bejo)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Untuk memutus penyebaran ulat bulu di kota Samarinda, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Samarinda akhirnya melakukan penyemprotan menggunakan obat pembasmi hama di Taman Bebaya, penyemprotan kali ini juga melibatkan tim animal rescue kota Samarinda. Sejumlah petugas BPBD Kota Samarinda dengan menggunakan baju hazmat langsung melakukan penyemprotan obat pembasmi hama ke pohon pohon yang ada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":327,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=325"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/325\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":329,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/325\/revisions\/329"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/327"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}