{"id":1640,"date":"2024-05-08T09:06:29","date_gmt":"2024-05-08T08:06:29","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=1640"},"modified":"2024-05-08T09:07:24","modified_gmt":"2024-05-08T08:07:24","slug":"parade-gender-kartini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2024\/05\/08\/parade-gender-kartini\/","title":{"rendered":"Parade Gender Kartini"},"content":{"rendered":"<p>Catatan Rizal Effendi<\/p>\n<p>RUANG Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (5\/7) lalu penuh warna warni. Maklum disesaki kaum perempuan yang dibalut busana penuh warna dan eksotik. Mereka menggelar acara Parade Gender sekaligus Pameran Perekat Mama.<\/p>\n<p>Ada\u00a0 <em>talkshow <\/em>juga yang menarik perhatian. Temanya: \u201cPeluang dan Tantangan Perempuan Kaltim dalam Transisi Lingkungan dan Transformasi Ekonomi.\u201d Sangat aktual dan bermanfaat. Sebagai pembicara utama, Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan.<\/p>\n<p>Selain itu ada pemberian Gender Champion untuk sektor pendidikan dan teknologi digital, kesehatan, ekonomi, lingkungan hidup, pertanian dan kehutanan, sosial budaya politik dan hukum serta Award Gender Kaltim bagi perangkat daerah dan ASN.<\/p>\n<p>Kegiatan ini masih\u00a0 dalam rangkaian peringatan Hari Kartini Tahun 2024. Yang membuka Sekdaprov Kaltim. Kebetulan seorang wanita. Dia adalah Dra Sri Wahyuni, M.PP, sekda wanita definif pertama di Kaltim. Hadir juga Dr Hj Meiliana, yang pernah menjadi Pj Sekdaprov Kaltim pada era Gubernur Awang Faroek Ishak tahun 2018.<\/p>\n<p>Di Kaltim cukup banyak kaum perempuan menjadi pemimpin. Ada Hj Sri Juniarsih Mas, M.Pd sebagai bupati Berau. \u00a0Hj Nazirah, SE dan Syarifah Masitah Assegaf, SH sebagai wakil wali kota Bontang dan wakil bupati Paser. Belum lagi yang duduk sebagai pejabat di Kantor Gubernur dan lembaga legislatif.<\/p>\n<p>Hari kelahiran Pahlawan Nasional Raden Ajeng Kartini memang diperingati setiap tahun. Berbagai acara dan kegiatan digelar. Kartini adalah pahlawan\u00a0 kaum perempuan Indonesia. Wanita kelahiran Jepara, Jateng, 21 April 1879 itu terkenal dengan surat-suratnya, yang menuntut pendidikan untuk kaumnya. Surat-suratnya itu dihimpun dalam buku \u201cHabis Gelap Terbitlah Terang.\u201d Dalam bahasa Belanda diberi judul \u201c<em>Door Duisternis tot<\/em> <em>Licht.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Salah satu surat Kartini ditujukan kepada Prof Anton dan Nyonya ditulis 4 Oktober 1901. Isinya sangat menarik dan menyentuh. Soal tuntutan pendidikan untuk anak-anak wanita. Dimaksudkan bukan untuk menyaingi laki-laki.<\/p>\n<p>\u201c<em>Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak<\/em> <em>wanita, bukan sekali-kali karena kami<\/em> <em>menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami<\/em> <em>yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar<\/em> <em>wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam<\/em> (<em>sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya:<\/em> <em>menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Pendidikan kaum perempuan sekarang sudah sama dengan kaum laki-laki. Sangat maju dan tidak ada diskriminatif. \u00a0Di berbagai kampus banyak guru besar wanita. Salah satunya Prof Sukartiningsih, M.Sc, Ph.D, IPU, wakil rektor Unmul bidang \u00a0sumber daya manusia, yang hadir pada acara Parade Gender tersebut. \u201cPerjuangan Kartini memang memberi semangat kepada kaum perempuan Indonesia untuk maju dan berkarya,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Dr Meiliana mengakui semangat Kartini membuat kaum perempuan Indonesia termasuk di Kaltim bisa berperan di mana-mana. \u201cSaya bangga Pemprov Kaltim memberi ruang yang lebar bagi kaum perempuan berprestasi,\u201d katanya. Meski sudah menjalani masa pensiun, Bu Mei masih dipercayai menjadi ketua Percepatan Pembangunan Pulau Maratua di Kabupaten Berau.<\/p>\n<p>Hal yang sama juga diutarakan Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Kaltim, drg Suryani Astuti. \u201cBaik di era Pak Isran sampai Pak Akmal, antara laki-laki dan perempuan di level pejabat sudah setara. Tidak seperti dulu, ASN perempuan sangat sulit hanya untuk naik ke eselon III,\u201d katanya.<\/p>\n<p>SUDAH YANG KE-3<\/p>\n<p>Menurut Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim, Hj Noryani Sorayalita, SE, MMT, Parade Gender 2024 adalah yang ke-3 sejak dimulakan pada tahun 2022. \u201cIni sudah menjadi kegiatan tahunan sekaligus sebagai bagian dari peringatan Hari Kartini,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Parade Gender merupakan hasil kerja sama dengan berbagai mitra pembangunan, termasuk dengan DKP3A di kabupaten\/kota serta berbagai organisasi wanita. Di situ juga ada Pameran Perekat Mama, yang diisi hasil karya kaum perempuan di sektor industri kreatif.<\/p>\n<p>Berkaitan dengan tema, dia menjelaskan memang dipilih isu yang sangat aktual. Kalimantan Timur memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, yang patut disyukuri dan dimanfaatkan secara maksimal. Tapi di sisi lain\u00a0 kita mulai menghadapi ancaman seperti perubahan iklim dan degradasi lingkungan, sehingga memerlukan perhatian serius termasuk dari kaum perempuan.<\/p>\n<p>Adanya Perda No 5 Tahun 2004 yang kemudian menjadi Perda No 2 Tahun 2016 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam\u00a0 Pembangunan Daerah menjadi landasan bagi upaya meningkatkan daya saing perempuan melalui transformasi ekonomi, termasuk kelompok perempuan kepala keluarga dan kelompok tani serta aspek sosial ekonomi.<\/p>\n<p>Sekdaprov Kaltim Sri Wahyuni menunjukkan banyaknya kaum perempuan Indonesia yang terlibat dalam berbagai kegiatan dan isu pembangunan. \u201cDi luar sana banyak sekali tokoh perempuan yang inspiratif\u00a0 dalam berbagai bidang pembangunan yang tidak lagi didominasi kaum laki-laki,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Ini juga didukung dari rilis BPS, di mana indeks ketimpangan gender di Kaltim menunjukkan pertumbuhan yang positif dan bagus.<\/p>\n<p>Menurut Sri Wahyuni, Parade Gender dan Pameran Perekat Mama sebagai bukti bahwa Pemprov Kaltim mempunyai tekad yang kuat untuk memajukan perempuan di Kaltim untuk berkreativitas termasuk dalam menciptakan lapangan kerja.<\/p>\n<p>Dia juga mempersiapkan penulisan buku berisi 35 tokoh perempuan Kaltim yang sangat inspiratif. Tujuannya, untuk memberikan pengakuan atas dedikasi mereka sebagai pejuang di berbagai sektor dan di lingkungannya masing-masing.<\/p>\n<p>Membaca surat-surat Kartini, ada yang baik direnungkan bagi kaum wanita. Surat itu dia tujukan kepada Nyonya Abendanon pada Agustus 1900. \u201c<em>Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti<\/em> <em>menjadi wanita sepenuhnya<\/em>.\u201d(*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan Rizal Effendi RUANG Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (5\/7) lalu penuh warna warni. Maklum disesaki kaum perempuan yang dibalut busana penuh warna dan eksotik. Mereka menggelar acara Parade Gender sekaligus Pameran Perekat Mama. Ada\u00a0 talkshow juga yang menarik perhatian. Temanya: \u201cPeluang dan Tantangan Perempuan Kaltim dalam Transisi Lingkungan dan Transformasi Ekonomi.\u201d Sangat aktual [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1641,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1640","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1640","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1640"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1640\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1642,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1640\/revisions\/1642"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1641"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1640"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1640"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1640"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}