{"id":12612,"date":"2026-09-24T02:24:41","date_gmt":"2026-09-24T01:24:41","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=12612"},"modified":"2026-09-24T02:24:41","modified_gmt":"2026-09-24T01:24:41","slug":"perjuangan-petani-makroman-melawan-dahaga-kemarau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/09\/24\/perjuangan-petani-makroman-melawan-dahaga-kemarau\/","title":{"rendered":"Perjuangan Petani Makroman Melawan Dahaga Kemarau"},"content":{"rendered":"<p><strong>Samarinda, Solidaritas &#8211; <\/strong>\u00a0Sawah yang biasanya mulai menghijau dan basah oleh genangan air, kini tampak sunyi. Di Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Samarinda, hamparan tanah pertanian justru terlihat mengering.<\/p>\n<p>Langkah kaki para petani terhenti, bukan karena enggan bekerja, melainkan karena modal utama mereka air tak kunjung datang.Musim kemarau panjang yang melanda kawasan ini benar-benar memukul urat nadi kehidupan para petani.<\/p>\n<p>Memasuki pertengahan September 2026, masa tanam yang seharusnya sudah dimulai sejak awal bulan terpaksa tertunda. Puluhan hektare lahan kini terlantar, seolah sedang menunggu keajaiban dari langit. Kondisi memprihatinkan ini salah satunya dirasakan oleh Kelompok Tani Harapan Baru.<\/p>\n<p>Ketua kelompok tani, Mat Kosim Kulup, menceritakan bagaimana alam mendadak menjadi kurang bersahabat, padahal musim panen sebelumnya berjalan sangat baik.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau kemarau, airnya kering. Mau tidak mau kita harus minta bantuan mesin pompa air,&#8221; kata Mat Kosim dengan nada getir saat ditemui media belum lama ini.<\/p>\n<p>Bagi Mat Kosim dan rekan-rekannya, penundaan ini bukan perkara sepele. Mereka mengelola lahan yang kini arealnya telah meluas menjadi sekitar 42 hektare, dari yang sebelumnya hanya 32 hektare. Lahan yang semakin luas tentu membutuhkan pasokan air yang jauh lebih besar.<\/p>\n<p>&#8220;Yang kemarin sebenarnya tidak gagal panen. Cuma sekarang kita mau tanam lagi, tertunda karena tidak ada air,&#8221; ucapnya lesu.<\/p>\n<p>Ancaman Pergeseran Waktu Panen Dilema para petani ini dibenarkan oleh Susana, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Makroman. Menurutnya, fase ini sudah bisa dikategorikan sebagai masa gagal tanam karena jadwal pengolahan tanah awal bulan sudah terlewati.<\/p>\n<p>&#8220;Ini gagal tanam. Harusnya awal bulan ini sudah mulai olah tanah, tapi karena tidak ada air, terpaksa menunda,&#8221; jelas Susana.<\/p>\n<p>Kondisi ini sangat disayangkan mengingat Makroman merupakan salah satu lumbung pangan potensial di Samarinda. Dalam kondisi normal, produktivitas padi di kawasan ini cukup tinggi, mampu menghasilkan 4,5 hingga 5 ton gabah per hektare.<\/p>\n<p>Siklus dari pengolahan tanah hingga masa panen biasanya memakan waktu sekitar empat bulan. Dengan mundurnya jadwal tanam saat ini, efek domino dipastikan terjadi, waktu panen para petani akan ikut bergeser maju, yang berarti pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga mereka pun harus ikut mengantre.<\/p>\n<p>Air dari Rahim Bumi Bekas Tambang Melihat situasi kritis yang mengancam ketahanan pangan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda langsung turun tangan.<\/p>\n<p>Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menegaskan bahwa dalam kondisi darurat kekeringan seperti sekarang, fokus instansinya tidak hanya tertuju pada pemadaman kebakaran lahan, tetapi juga menyelamatkan sektor pertanian.<\/p>\n<p>&#8220;Kami melihat beberapa upaya untuk mengalirkan air ke sawah yang sempat gagal tanam. Di Harapan Baru ini sekitar 43 hektare, kami memberikan perhatian khusus untuk mencegah gagal panen,&#8221; kata Suwarso saat meninjau langsung persawahan Makroman.<\/p>\n<p>Menariknya, solusi darurat justru datang dari pemanfaatan lingkungan sekitar. BPBD memanfaatkan air yang tertampung di tiga void (lubang) bekas galian tambang di kawasan Makroman.<\/p>\n<p>Lubang raksasa berkedalaman sekitar 70 meter dengan luas mencapai satu hektare tersebut rupanya menyimpan cadangan air yang melimpah untuk menyelamatkan sawah yang dahaga.<\/p>\n<p>Untuk menyedot air dari void tersebut, BPBD mengerahkan satu unit mesin pompa berkapasitas besar sejenis dompeng. Selang penyedot dan pipa keluaran berdiameter 6 inci dipasang agar debit air mengalir deras dan memangkas waktu pengairan lahan.<\/p>\n<p>Gerilya Air untuk Ratusan Hektare SawahLangkah penyelamatan ini rupanya tidak hanya berputar di Makroman. Suwarso membeberkan bahwa BPBD Samarinda tengah melakukan gerilya suplai air di tujuh titik persawahan dengan total luas mencapai 207 hektare.<\/p>\n<p>Berdasarkan data BPBD, selain 42 hektare di Makroman, wilayah lain yang turut diselamatkan meliputi:Kawasan Pelita 6 (Sambutan), 70 HektareBetapus: 30 HektareRawa Makmur (Palaran) &amp; Bantuas: Masing-masing 25 HektareBukuan: 10 HektareSerayu: 5 Hektare.<\/p>\n<p>Bagi persawahan yang lokasinya terisolasi dan jauh dari sumber air permukaan seperti void atau sungai, BPBD mengerahkan armada mobil tangki sebagai alternatif pemenuhan air.<\/p>\n<p>Perjuangan belum selesai. Usai mengaliri lahan Kelompok Tani Harapan Baru, BPBD kini tengah memetakan kebutuhan kelompok tani tetangga, yakni Kelompok Tani Karanganyar, yang mengalami nasib serupa.<\/p>\n<p>&#8220;Nanti kita siapkan kembali mesinnya agar mampu mengairi lebih cepat,&#8221; pungkas Suwarso.Deru mesin pompa yang memecah keheningan di Makroman kini menjadi simbol baru bagi para petani\u2014sebuah simbol harapan bahwa bulir-bulir padi mereka akan tetap tumbuh di tengah ujian kemarau tahun ini. Red<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Samarinda, Solidaritas &#8211; \u00a0Sawah yang biasanya mulai menghijau dan basah oleh genangan air, kini tampak sunyi. Di Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Samarinda, hamparan tanah pertanian justru terlihat mengering. Langkah kaki para petani terhenti, bukan karena enggan bekerja, melainkan karena modal utama mereka air tak kunjung datang.Musim kemarau panjang yang melanda kawasan ini benar-benar memukul urat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12613,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[34],"tags":[],"class_list":["post-12612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-samarinda"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12612"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12614,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12612\/revisions\/12614"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}