{"id":12196,"date":"2026-08-16T15:56:16","date_gmt":"2026-08-16T14:56:16","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=12196"},"modified":"2026-08-16T15:56:16","modified_gmt":"2026-08-16T14:56:16","slug":"merajut-masa-depan-bawah-laut-pulau-miang-warisan-karang-untuk-anak-cucu-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/08\/16\/merajut-masa-depan-bawah-laut-pulau-miang-warisan-karang-untuk-anak-cucu-kita\/","title":{"rendered":"Merajut Masa Depan Bawah Laut Pulau Miang, Warisan Karang untuk Anak Cucu Kita"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kutai Timur, Solidaritas &#8211;<\/strong> Udara pagi di dermaga Pulau Miang, Kabupaten Kutai Timur, terasa hangat ketika 13 orqng orang berkumpul membawa struktur besi berbentuk bintang.<\/p>\n<p>Di atas dermaga yang terbuat dari platform terapung modular dari bahan plastik HDPE, jemari mereka, \u00a0jemari mereka dengan telaten mengikat potongan-potongan karang hidup.<\/p>\n<p>Aksi gotong royong pada Minggu (16\/8) ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebuah investasi lingkungan jangka panjang yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) bersama dengan kelompok Sadar Wisata Pulau Miang, Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) serta Yekhalis Scuba School dan Media Kaltim.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faisal, menegaskan bahwa gerakan ini memiliki visi yang melampaui waktu saat ini.<\/p>\n<p>&#8220;Atas kolaborasi dengan pembiayaan swadaya, kami laksanakan transplantasi karang ini. Ini adalah upaya edukasi kepada Pokdarwis dan masyarakat, serta pelestarian untuk generasi masa depan,&#8221; ujar Faisal di sela-sela kegiatan.<\/p>\n<p>Bagi Faisal, apa yang ditanam hari ini mungkin belum bisa langsung dinikmati dalam waktu dekat. Proses alam membutuhkan waktu yang tidak sebentar.<\/p>\n<p>&#8220;Transplantasi terumbu karang bukan hanya bicara tentang hari ini. Ini adalah tentang bagaimana kita berbicara mengenai kelestarian terumbu karang untuk anak dan cucu kita di masa depan,&#8221; tambah Faisal dengan penuh optimisme.<\/p>\n<p>Dalam aksi rehabilitasi ini, tim menggunakan metode Mars Accelerated Coral Reef Restoration System (MARRS). Struktur media yang digunakan adalah lima buah modul reefstar atau yang populer disebut mars spider\u2014sebuah rangka besi berbentuk laba-laba yang dirancang khusus untuk membantu karang tumbuh lebih cepat di wilayah dengan arus kuat.<\/p>\n<p>Di atas lima modul tersebut, sebanyak 75 fragmen karang dari Genus Acropora dan Pocillopora dipasang bersama-sama langsung di area dermaga sebagai bagian dari edukasi visual bagi warga setempat.<\/p>\n<p>Auliansyah dari Yekhalis Scuba School menjelaskan bahwa metode ini membutuhkan kesabaran yang tinggi.<\/p>\n<p>&#8220;Pertumbuhan karang cabang hasil dari transplantasi ini memerlukan waktu 3 hingga 5 tahun hanya untuk menjadi sebuah terumbu mini yang fungsional. Sementara itu, untuk berkembang menjadi ekosistem yang benar-benar alami dan utuh, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 10 tahun lebih,&#8221; paparnya.<\/p>\n<p>Setelah seluruh fragmen terikat kuat pada modul, prosesi krusial pun dimulai. Satu per satu perwakilan menceburkan diri ke laut untuk meletakkan modul-modul tersebut secara simbolis ke dasar kawasan rehabilitasi.<\/p>\n<p>Penurunan modul ini dilakukan bersama oleh Muhammad Faisal (Dispar Kaltim), Auliansyah (Yekhalis), Aldi (Pokdarwis), Muchlis (Akademisi Unmul), dan Suriyatman (perwakilan media). Sebagai penutup dan penanda komitmen, sebuah prasasti bawah air diturunkan dan dipasang langsung oleh Kepala Dispar Kaltim.<\/p>\n<p>Prasasti ini bukan sekadar pajangan di dasar laut. &#8220;Sebagai penanda, kami memasang prasasti di akhir kegiatan. Ini akan memudahkan kami untuk melakukan kontrol dan evaluasi berkala di waktu yang akan datang,&#8221; jelas Faisal.<\/p>\n<p>Lambatnya pertumbuhan terumbu karang menjadi alarm keras bagi siapa saja yang berkunjung ke Pulau Miang. Keindahan bawah laut tidak akan bertahan jika ego manusia lebih besar daripada kesadaran lingkungannya.<\/p>\n<p>Melalui kegiatan ini, Dispar Kaltim dan seluruh mitra menitipkan pesan mendalam kepada para pelancong. Wisatawan yang datang menikmati eksotisme Pulau Miang diharapkan ikut ambil bagian menjadi penjaga, bukan perusak.<\/p>\n<p>&#8220;Tentu mari sama-sama kita terus mengedukasi para wisatawan dan masyarakat sekitar untuk menjaga kelestarian terumbu karang ini,&#8221; pungkas Faisal menutup perbincangan.<\/p>\n<p>Di bawah riak ombak Pulau Miang, 75 fragmen karang itu kini mulai berjuang tumbuh. Mereka memikul harapan besar: menjadi rumah bagi ikan-ikan, penahan abrasi, dan warisan alam yang utuh saat anak cucu kita menyelam ke sana puluhan tahun dari sekarang. Red<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kutai Timur, Solidaritas &#8211; Udara pagi di dermaga Pulau Miang, Kabupaten Kutai Timur, terasa hangat ketika 13 orqng orang berkumpul membawa struktur besi berbentuk bintang. Di atas dermaga yang terbuat dari platform terapung modular dari bahan plastik HDPE, jemari mereka, \u00a0jemari mereka dengan telaten mengikat potongan-potongan karang hidup. Aksi gotong royong pada Minggu (16\/8) ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12197,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-12196","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12196","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12196"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12196\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12198,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12196\/revisions\/12198"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12197"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12196"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12196"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12196"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}