{"id":12016,"date":"2026-07-29T01:48:09","date_gmt":"2026-07-29T00:48:09","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=12016"},"modified":"2026-07-29T01:48:09","modified_gmt":"2026-07-29T00:48:09","slug":"mundurnya-si-terajana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/07\/29\/mundurnya-si-terajana\/","title":{"rendered":"Mundurnya \u201cSi Terajana\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Catatan Rizal Effendi<\/strong><\/p>\n<p>PERRY WARJIYO tentu tak kenal saya secara pribadi. Dia orang hebat. Salah satu \u201cpanglima\u201d penjaga moneter negeri ini. Jabatannya adalah Gubernur Bank Indonesia (BI). Dia diangkat sejak 2018, di saat saya menjadi Wali Kota Balikpapan periode kedua 2016-2021.<\/p>\n<p>BI punya hubungan khusus dengan kepala daerah. Ada misi bersama yang diusung. Yaitu menjaga stabilitas harga dan menekan laju inflasi. Karena itu dibentuk lembaga yang namanya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).<\/p>\n<p>Di tingkat provinsi, TPID dipimpin seorang gubernur dengan wakilnya dari Kepala Perwakilan BI. Sedang di tingkat kabupaten\/kota dipimpin seorang bupati atau wali kota dengan wakilnya dari pejabat Kepala Kantor Perwakilan BI setempat.<\/p>\n<p>Ketika saya jadi Ketua TPID, banyak program yang dilakukan BI dengan Pemkot Balikpapan. Misalnya \u00a0Gerakan Menanam Lombok dan Bawang tiap rumah, menyelenggarakan sekolah inflasi dan pemuka agama sampai berbagai rapat koordinasi.<\/p>\n<p>Gerakan ini sangat penting apalagi Balikpapan termasuk sebagai salah satu dari 10 kota termahal di Indonesia. \u00a0Menuru \u00a0BPS, rata-rata nilai konsumsi atau pengeluaran harian keluarga di Balikpapan mencapai Rp9,87 juta per bulan. Bayangkan jauh di atas gaji atau upah pekerja.<\/p>\n<p>Selain soal inflasi, saya juga satu perahu di kegiatan organisasi dengan Perry Warjiyo. Dia juga Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI). Dia pernah melantik saya sebagai Ketua ISEI Balikpapan dan saya pernah memilih dia sebagai Ketua Umum ISEI yang ketiga kalinya, periode 2024-2027.<\/p>\n<p>Waktu itu Kongres ISEI berlangsung di Solo, September 2024. Presiden Jokowi datang. Teman-teman berebut foto dengan Jokowi. Saya malah foto dengan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. Selain juga dengan Perry Warjiyo.<\/p>\n<p>ISEI adalah organiasi profesional yang berfokus pada bidang ekonomi dan bisnis di Indonesia. Terdiri dari 52 cabang dengan anggota dari para sarjana ekonomi sebanyak 13.227 orang.<\/p>\n<p>ISEI didirikan pada tanggal 14 Januari 1955 dengan tujuan utama untuk memajukan bidang ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan ekonomi, serta meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan para sarjana ekonomi di Indonesia.<\/p>\n<p>Salah seorang mantan Ketua Umum ISEI adalah Prof Sumitro Djojohadikusumo, yang tak lain adalah ayah kandung Presiden Prabowo Subianto. Ada juga Burhanuddin Abdullah, mantan Gubernur BI yang sekarang menjadi penasihat ekonomi Prabowo.<\/p>\n<p>Saya termasuk orang yang sangat takjub dengan profil Perry. Dia orang desa yang sukses. Dia dilahirkan di Sukoharjo, Jateng, 25 Februari 1959. Jadi usianya 67 tahun atau lebih muda setahun dari saya. Sebagian usianya dia habiskan mengabdi di BI. Hampir 40 tahun dia berkiprah di sana.<\/p>\n<p>Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) dan Iowa State University ini, sebelumnya menjadi Deputi Gubernur BI. Dia juga pernah menjadi Asisten Gubernur untuk kebijakan moneter, makroprudensial dan internasional, serta Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI.<\/p>\n<p>Profil orang desanya masih terlihat. Penampilannya sangat sederhana. Tak terlihat gaya mewahnya. Saya lihat beda sekali kalau dia duduk berdampingan dengan Bendahara ISEI, Jahja Setiaatmadja yang sekarang adalah Presiden Komisaris BCA.<\/p>\n<p>Sepatu dan jam tangan yang dikenakan Jahja sangat berkelas, tidak seperti Perry yang kelihatan biasa-biasa saja. Yang menarik, meski memimpin lembaga yang dituntut bekerja keras dan sangat serius, Perry tetap punya semangat humor yang tinggi. Dia suka bercanda termasuk menyanyi. Apalagi suaranya agak bariton.<\/p>\n<p>KOK MENDADAK MUNDUR?<\/p>\n<p>Sampai hari ini orang masih mereka-reka ada apa di balik pengunduran dirinya yang dilakukan Perry Warjiyo mendadak. Surat resminya menyatakan mundur secara sukarela karena alasan pribadi. Itu saja tak ada penjelasan lain.<\/p>\n<p>\u201cApa ada tekanan?,\u201d tanya wartawan.<\/p>\n<p>\u201cSiapa yang berspekulasi begitu. Pertanyaaan Anda yang membuat spekulasi,\u201d kata Mensesneg Prasetyo Hadi.<\/p>\n<p>Wajar berbagai pertanyaan miring berseliweran. Sebab, Perry mundur di tengah tekanan nilai rupiah yang memang sangat berat.<\/p>\n<p>Mensesneg mengatakan Presiden Prabowo menerima pengunduran diri Perry disertai ucapan terima kasih. Lalu menunjuk Destry Damayanti, yang sekarang sebagai Deputi Gubernur Senior\u00a0 BI sebagai pelaksana tugas (Plt) sampai terpilihnya pejabat definitif.<\/p>\n<p>Sebelumnya, dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI pada 18 Mei 2026, Primus Yustisio, anggota Dewan dari Fraksi PAN bersuara keras. Dia mempersilahkan Perry Warjiyo mundur secara <em>gentleman.<\/em><\/p>\n<p>\u201cPak Perry yang saya hormati, \u00a0kadang kalau kita mengambil tindakan <em>gentleman,<\/em> ini saatnya Bapak mengundurkan diri. Ini bukan penghinaan. \u00a0Bapak malah dihormati seperti di Korea dan Jepang, tidak ada salahnya,\u201d kata mantan aktor film tahun 1990-an ini bersuara tegas.<\/p>\n<p>Editorial <em>mediatrust<\/em> menyebut mundurnya Perry Warjiyo secara mendadak 25 Juli 2026 bukan sekadar urusan pribadi. \u201cIni merupakan tragedi politik moneter,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Menurut media ini, Gubernur BI dijadikan kamping hitam atas ambruknya nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.150 per dolar AS. Padahal, akar masalah sebenarnya berasal dari ugal-ugalan pengelolaan fiskal.<\/p>\n<p>Hal yang sama juga dinyatakan Eko B Supriyanto, Chairman <em>Infobank<\/em> Media Group. Tulisan Eko mengungkap adanya \u201cpaksaan\u201d di mana Perry dipanggil secara \u201chalus\u201d untuk meletakkan jabatan sebagai Gubernur BI.<\/p>\n<p>Pakar ekonomi bergaya eksentrik, Prof Ferry Latuhihin mengungkapkan, mundurnya Perry Warjiyo diduga tidak lepas dari sosok Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Selama Purbaya menjabat Menkeu, tekanan terhadap ekonomi Indonesia semakin tinggi.<\/p>\n<p>\u201cRumor yang beredar, beliau dipaksa untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Diduga Purbaya ingin merebut jabatan itu,\u201d kata mantan Chief Economist di Bank International Indonesia (BII) ini memberikan analisis.<\/p>\n<p>Meski mundur dari jabatan Gubernur BI, saya yakin Perry tidak akan mundur dari jabatan Ketua Umum PP ISEI. Masa jabatannya masih setahun lagi. Beda dengan saya yang harus melakukan rapat penggantian pengurus ISEI Balikpapan yang habis masa baktinya. Saya sudah didesak oleh Korwil ISEI Timur untuk segera memilih pengurus baru.<\/p>\n<p>Saya tak pernah bisa melupakan Perry Warjiyo. Ada yang menarik dari setiap acara pertemuan besar ISEI. Dia selalu menghibur kita dengan menyanyi lagu dangdut Rhoma Irama yang berjudul \u201c<em>Terajana.\u201d <\/em>Itu semacam \u201clagu kebangsaannya.\u201d Meriah sekali. Sampai ada yang memberi tambahan nama untuk mantan Gubernur BI ini. \u201cKita panggil saja beliau Bapak Perry Warjiyo Terajana,\u201d kata dia tertawa.<\/p>\n<p>Tapi ada juga yang usul agar nama beliau dipanggil \u201cQRIS\u201d Perry Warjiyo. Soalnya teknologi pembayaran dengan QRIS yang luar biasa itu, adalah karya besar dari Perry Warjiyo. Tetap sukses dan sehat Pak Perry.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan Rizal Effendi PERRY WARJIYO tentu tak kenal saya secara pribadi. Dia orang hebat. Salah satu \u201cpanglima\u201d penjaga moneter negeri ini. Jabatannya adalah Gubernur Bank Indonesia (BI). Dia diangkat sejak 2018, di saat saya menjadi Wali Kota Balikpapan periode kedua 2016-2021. BI punya hubungan khusus dengan kepala daerah. Ada misi bersama yang diusung. Yaitu menjaga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12017,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[165],"tags":[],"class_list":["post-12016","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12016","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12016"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12016\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12018,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12016\/revisions\/12018"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12017"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}