{"id":11545,"date":"2026-06-29T01:39:07","date_gmt":"2026-06-29T00:39:07","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=11545"},"modified":"2026-06-29T01:39:07","modified_gmt":"2026-06-29T00:39:07","slug":"musibah-air-debu-dan-listrik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/06\/29\/musibah-air-debu-dan-listrik\/","title":{"rendered":"Musibah Air, Debu dan Listrik"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Catatan Rizal Effendi<\/strong><\/p>\n<p>BALIKPAPAN lagi dapat cobaan. Secara beruntun terjadi masalah mulai soal kebutuhan dasar sampai persoalan kesehatan. Ada kelangkaan air bersih di beberapa titik, pemadam listrik bergilir sampai gangguan debu. Selain juga antri BBM yang tak pernah selesai.<\/p>\n<p>Puncak gangguan air terjadi di kawasan BDS 2 Kampung Buton. Ibu-ibu di sana melaksanakan aksi demo, Selasa (23\/6) lalu. Maklum sudah 10 hari air PDAM tak menetes. Jalan ditutup, lalu mereka menuntut agar Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) segera mengalirkan airnya.<\/p>\n<p>Manajer Distribusi PTMB, Indra Gunawan mengakui distribusi air ke wilayah Kampung Buton, Gunung Bakaran macet lebih seminggu. Awalnya cuma karena terjadi kebocoran pada pipa air baku. Setelah dilakukan perbaikan ternyata belum lancar juga. Belakangan baru diketahui ada lagi kebocoran lain pada pipa distribusi berdiameter 200 milimeter.<\/p>\n<p>\u201cSaya minta maaf sebelumnya. Biasanya kalau penormalan lokal itu cepat, tetapi kali ini tidak normal-normal. Setelah kami telusuri ternyata ada kebocoran pada pipa 200 milimeter bagian atas, makanya waktu perbaikan jadi lama,\u201d kata Indra.<\/p>\n<p>Ibu-ibu sudah kesal. Mereka ramai-ramai memukul panci lalu memblok jalan. \u201cSoalnya kita ngga bisa masak, ngga bisa mandi, ngga bisa cebok,\u201d kata mereka setengah berteriak. \u201cYa ibu-ibu sudah kesal, jadi mereka memblok jalan,\u201d ujar Aminudien, Ketua RT 23 Kampung Buton.<\/p>\n<p>Soal kecukupan air bersih, sudah lama membuat Balikpapan harus berjuang. Maklum air bakunya masih terbatas. Malah ada kabar baru yang tidak enak dari Waduk Manggar yang menjadi sumber utama air baku.<\/p>\n<p>Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Balikpapan, Rita, akibat sedimentasi tampungan air di Waduk Manggar yang semula 16,28 juta meter kubik, kini menyusut menjadi 15,24 juta meter kubik. Jadi menurun sekitar satu juta meter kubik. Menurunnya kapasitas tampungan pasti berpengaruh terhadap suplai air baku ke kilang pengolahan air bersih PDAM.<\/p>\n<p>Bersamaan dengan demo air, juga terjadi \u201chujan\u201d debu di Balikpapan. \u00a0Debu hampir menyelimputi seluruh kawasan, terutama di wilayah Balikpapan Tengah dan Utara. Hasil investigasi, debu yang berterbangan itu bersumber dari aktivitas kilang Pertamina Balikpapan.<\/p>\n<p>\u201cMemang ada indikasi dari aktivitas operasi awal kilang baru,\u201d kata \u00a0VP Legal &amp; Relation PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), Asep Sulaeman seperti diberitakan <em>Kompas.com.<\/em><\/p>\n<p>Cuma anehnya pihak Pertamina menyebut material halus yang berterbangan tersebut masih kategori aman. \u201cDapat kami sampaikan bahwa karekterisitik material tersebut masih berada dalam batas yang tergolong aman bagi kesehatan dan tidak menunjukkan risiko yang signifikan,\u201d kata Asep.<\/p>\n<p>Bagaimana mungkin? Padahal debu jenis apapun pasti bermasalah bagi kesehatan manusia. Belum lagi kerugian lain seperti kotornya pakaian dan berdebunya berbagai peralatan rumah tangga dan kendaraan.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati mengatakan, pihaknya melalui semua Puskesmas melakukan pemantauan. \u201cNanti kita lihat dari angka kesakitan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) apakah meningkat atau tidak setelah adanya fenomena debu,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Selain itu, DKK juga telah mengirim sampel debu ke laboratorium Sucofindo Jakarta untuk mengetahui kandungan materialnya,\u201d kata Alwiati.<\/p>\n<p>Akun Instagram DKK Balikpapan sempat mengeluarkan peringatan, meskipun belakangan dilakukan <em>take down<\/em>. \u201cPeringatan kesehatan, jangan anggap sepele. Debu pagi ini berbahaya. Kamu tidak bisa melihatnya. PM 2.5 partikel berbahaya,\u201d begitu bunyi narasi yang kemudian dihapus.<\/p>\n<p>Gabungan organisasi masyarakat sipil yang terdiri dari JATAM Kaltim, NUGAL Institute, LBH Samarinda dan Trend Asia meminta Pertamina membuka seluruh informasi terkait insiden yang terjadi pada 23-24 Juni 2026 lalu.<\/p>\n<p>Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan, Sudirman Djayaleksana memerintahkan 4 hal kepada Pertamina. Wajib menyerahkan laporan tanggap darurat kepada Kementerian LH, wajib melakukan pengujian kualitas udara, merespon keluhan warga dan evaluasi menyeluruh terhadap SOP.<\/p>\n<p><strong>MATI DI LUMBUNG BATU BARA<\/strong><\/p>\n<p>Kesusahan warga Balikpapan makin lengkap menyusul terjadi pemadaman listrik secara bergiliran pekan ini. \u201cMusibah\u201d ini terjadi tidak saja di Kota Beriman, tetapi juga di kota-kota lain di seluruh Kaltim termasuk di Samarinda, Kutai Kartanegara, Tanah Grogot, Bontang dan Sangatta.<\/p>\n<p>Informasi yang diterima, pemadaman terjadi akibat gangguan pada unit pembangkit besar dan defisit pasokan daya pada sistem interkoneksi Kalimantan.<\/p>\n<p>PLN sebagai penyedia listrik seperti terkena \u201cwabah\u201d penyakit menular. Soalnya pemadaman listrik sebelumnya terjadi di Pulau Jawa dan Sumatera. Bahkan di Sumatera Utara sempat terjadi pemadaman total atau <em>blackout<\/em> yang merugikan masyarakat dan dunia usaha.<\/p>\n<p>\u201cMiris terjadi pemadaman listrik bergilir di Kaltim, tetapi batu bara terus berlayar tanpa henti di Teluk Balikpapan,\u201d kata seorang netizen dengan meng-<em>apload<\/em> foto iring-iringan ponton pembawa batu bara di Teluk Balikpapan.<\/p>\n<p>Hal yang sama juga diungkapkan oleh netizen lainnya di Samarinda. Dia juga membuat video iring-iringan ponton bermuatan batu bara yang melewati jembatan Mahakam. \u201cKita kaya seperti ini, <em>kok<\/em> ada pemadaman listrik bergilir, aneh bin ajaib. Kita mati di lumbung batu bara,\u201d tukasnya bernada protes.<\/p>\n<p>Agaknya warga Kaltim menganggap pemadaman listrik bergilir itu terjadi karena pasokan batu bara. Sebab hal itu terjadi Pulau Jawa. Kabarnya di Jawa ada dua penyebab. Selain gangguan dari pembangkit besar, tetapi juga karena menurunnya pasokan batu bara. Hal ini yang memaksa PT PLN (Persero) melakukan manajemen beban secara terbatas.<\/p>\n<p>Plh Manajer Komunikasi dan TJSL PLN, Annisa Nabiha menjelaskan, gangguan operasional pada unit Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) yang menyebabkan pasokan Listrik ke sistem kelistrikan Kalimantan tidak berkaitan dengan ketersediaan energi primer maupun pasukan batu bara.<\/p>\n<p>\u201cSistem kelistrikan Kalimantan saat ini terkendali dengan baik. Kalaulah padam di beberapa lokasi kota merupakan langkah manajemen beban secara terbatas dan terukur untuk menjaga keandalan sistem,\u201d kata Biha seperti diberitakan<em> TribunKaltim.co.<\/em><\/p>\n<p>Saat ini, katanya, PLN terus mempercepat proses pemulihan dengan mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain serta melakukan pengaturan operasi sistem agar keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik tetap terjaga.<\/p>\n<p>\u201cSebagai pemakai, ya kita tidak bisa apa-apa. Pasrah bongkok,\u201d kata Ibu Lina di Balikpapan Baru. Hanya, tambahnya, kepala dia tambah pusing. Ya soal air, debu, listrik, antri BBM dan ditambah lagi susahnya memasukkan anak ke sekolah. <em>\u201cSuer<\/em> ini bukan <em>omon-omon,\u201d<\/em> katanya sembari memegang kepalanya yang <em>nyut-nyutan.(*)<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan Rizal Effendi BALIKPAPAN lagi dapat cobaan. Secara beruntun terjadi masalah mulai soal kebutuhan dasar sampai persoalan kesehatan. Ada kelangkaan air bersih di beberapa titik, pemadam listrik bergilir sampai gangguan debu. Selain juga antri BBM yang tak pernah selesai. Puncak gangguan air terjadi di kawasan BDS 2 Kampung Buton. Ibu-ibu di sana melaksanakan aksi demo, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11546,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[165],"tags":[],"class_list":["post-11545","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11545","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11545"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11545\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11547,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11545\/revisions\/11547"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11546"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11545"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11545"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11545"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}