{"id":11360,"date":"2026-06-15T02:07:56","date_gmt":"2026-06-15T01:07:56","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=11360"},"modified":"2026-06-15T02:07:56","modified_gmt":"2026-06-15T01:07:56","slug":"kisah-tiga-juru-pelihara-cagar-budaya-di-bumi-paser","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/06\/15\/kisah-tiga-juru-pelihara-cagar-budaya-di-bumi-paser\/","title":{"rendered":"Kisah Tiga Juru Pelihara Cagar Budaya di Bumi Paser"},"content":{"rendered":"<p><strong>Paser, Solidaritas<\/strong> &#8211;\u00a0Jejak peradaban Islam di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, bukan sekadar lembaran sejarah yang usang. Ia adalah kisah tentang harmoni dan pertemuan budaya.<\/p>\n<p>Di tanah ini, syiar Islam tumbuh subur dan melahirkan corak unik. Budaya Bugis, Banjar, Kutai, Tionghoa, hingga Arab melebur jadi satu dalam harmoni yang indah.<\/p>\n<p>Untuk menjaga agar ingatan kolektif ini tidak luntur digerus waktu, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kalimantan Timur mengambil langkah nyata. Mereka menempatkan para juru pelihara di tiga situs cagar budaya utama di Kabupaten Paser.<\/p>\n<p>Lestari Kepala BPK Kaltim mengatakan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan setiap jengkal sejarahnya tetap terjaga dan hidup di hati generasi muda.<\/p>\n<p>Untuk menghidupkan narasi di tiga episentrum sejarah,\u00a0BPK Kaltim menempatkan dua hingga tiga orang juru pelihara di setiap lokasi strategis, beberapa tempat strategis itu adalah Museum Sadurangas yang merupakan bangunan Istana Kesultanan Paser yang megah. Kini, arsitekturnya yang khas beralih fungsi menjadi museum untuk menyimpan memori kejayaan masa lalu.<\/p>\n<p>Selain itu Masjid Besar Nurul Ibadah yang terletak tidak jauh dari pusat keraton, rumah ibadah bersejarah ini menjadi saksi bisu pesatnya perkembangan syiar Islam di tanah Paser.<\/p>\n<p>Kemudian ada Kompleks Makam Raja-Raja Kesultanan Paser yang Berada di Desa Pasir Balengkong, situs sakral ini menjadi tempat penghormatan bagi para leluhur yang hingga kini dihormati masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Kami menempatkan juru pelihara di tiga cagar budaya di Paser agar pengunjung memperoleh pendampingan langsung untuk mendapatkan informasi warisan tersebut,&#8221; kata Lestari Kepala BPK Kaltim.<\/p>\n<p>Lebih lanjut Lestari mengatakan bahwa lebih dari Sekadar Penjaga Fisik, tugas para juru pelihara ini tidaklah ringan. Mereka berdiri di garis depan sebagai jembatan waktu. Peran utama mereka meliputi merawat fisik situs seperti menjaga kebersihan dan keaslian material cagar budaya dari kerusakan alam maupun manusia.<\/p>\n<p>Kemudian menyajikan narasi sejarah seperti memberikan edukasi yang utuh kepada wisatawan mengenai akulturasi budaya yang membentuk Paser.<\/p>\n<p>Selain itu Melayani Wisatawan dengan memberi membantu pengunjung, termasuk mengambil foto dokumentasi selama mereka menjelajahi situs sejarah.<\/p>\n<p>Pada kesempatan itu BPK juga mengajak publik ikut menjaga karena\u00a0pelestarian ini tidak bisa dilakukan sendiri. Oleh karena itu, BPK Kaltim membuka ruang bagi publik untuk ikut mengevaluasi kinerja para juru pelihara di lapangan.<\/p>\n<p>Masukan langsung dari para pengunjung akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan layanan kepurbakalaan di masa depan. Keterlibatan aktif masyarakat adalah kunci utama agar warisan budaya yang penuh nilai toleransi ini tetap abadi melintasi zaman. Red<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Paser, Solidaritas &#8211;\u00a0Jejak peradaban Islam di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, bukan sekadar lembaran sejarah yang usang. Ia adalah kisah tentang harmoni dan pertemuan budaya. Di tanah ini, syiar Islam tumbuh subur dan melahirkan corak unik. Budaya Bugis, Banjar, Kutai, Tionghoa, hingga Arab melebur jadi satu dalam harmoni yang indah. Untuk menjaga agar ingatan kolektif ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11361,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[31],"tags":[],"class_list":["post-11360","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kalimantan-timur"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11360"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11360\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11362,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11360\/revisions\/11362"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11361"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}