{"id":11271,"date":"2026-06-03T05:11:18","date_gmt":"2026-06-03T04:11:18","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=11271"},"modified":"2026-06-03T05:11:18","modified_gmt":"2026-06-03T04:11:18","slug":"demi-sekolah-anak-anak-di-dusun-damai-bergantung-pada-kereta-gantung-di-atas-sungai-habitat-buaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/06\/03\/demi-sekolah-anak-anak-di-dusun-damai-bergantung-pada-kereta-gantung-di-atas-sungai-habitat-buaya\/","title":{"rendered":"Demi Sekolah, Anak-anak di Dusun Damai Bergantung pada Kereta Gantung di Atas Sungai Habitat Buaya"},"content":{"rendered":"<p class=\"isSelectedEnd\"><strong>Kutai Kartanegara, Solidaritas &#8211; <\/strong>\u00a0Setiap pagi, Ade Fahmi Maulana dan adiknya, Assyifa, harus menghadapi perjalanan yang tidak biasa demi bisa sampai ke sekolah. Bukan kemacetan atau jalan berlubang yang mereka hadapi, melainkan seutas tali dan kereta gantung rakitan yang membentang di atas Sungai Santan, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Di saat banyak anak seusianya berangkat sekolah dengan kendaraan atau berjalan kaki di jalan yang aman, kakak beradik asal Dusun Damai, Desa Santan Ulu, ini harus menggantungkan keselamatan mereka pada sebuah kereta gantung manual untuk menyeberangi sungai selebar sekitar 70 meter.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Ketiadaan jembatan permanen membuat warga setempat terpaksa membangun fasilitas sederhana secara swadaya. Kereta gantung berukuran sekitar 2,5 meter x 2 meter itu kini menjadi satu-satunya akses tercepat yang menghubungkan Dusun Damai dengan wilayah lain, termasuk menuju sekolah.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Setelah berjalan sekitar 200 meter dari rumah, Ade dan Assyifa langsung menuju titik penyeberangan. Tanpa ragu, mereka menaiki kereta gantung yang melintas pada ketinggian puluhan meter di atas permukaan sungai.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Dengan tangan kecilnya, Ade menarik tali tambang yang menggerakkan kereta gantung menuju seberang. Sementara itu, seutas sling baja berdiameter 30 milimeter menjadi penopang utama yang menjaga keduanya tetap melayang di udara selama perjalanan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Hanya sekitar dua menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapai seberang. Namun di balik waktu yang singkat itu, tersimpan risiko besar yang harus mereka hadapi setiap hari.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Sungai Santan dikenal sebagai habitat buaya. Saat air sungai pasang atau cuaca buruk melanda, rasa khawatir semakin meningkat. Dalam kondisi tertentu, mereka bahkan terpaksa tidak masuk sekolah demi keselamatan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">&#8220;Kalau hujan kami tunggu dulu sampai reda. Kalau air naik kadang takut juga, apalagi kalau ada buaya. Jadi harus waspada,&#8221; ujar Ade Fahmi Maulana.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Meski demikian, semangat belajar mereka tak pernah surut. Bahkan menurut sang ayah, Aceng Jainuddin, anak-anaknya kerap bersikeras tetap berangkat sekolah meski cuaca kurang bersahabat.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">&#8220;Kalau dilarang kadang sampai menangis karena ingin tetap sekolah. Mereka takut tertinggal pelajaran,&#8221; kata Aceng.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Perjuangan anak-anak Dusun Damai juga mendapat perhatian dari pihak sekolah. Kepala SD Negeri 021 Marangkayu, Badil, mengatakan pihak sekolah memberikan dispensasi khusus bagi siswa yang berasal dari wilayah tersebut.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Menurutnya, sekolah memahami kondisi geografis yang dihadapi para siswa setiap hari. Karena itu, keterlambatan akibat hujan maupun pasang sungai tidak menjadi masalah.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">&#8220;Kalau memang kondisi cuaca tidak memungkinkan, kami berikan kebijakan pembelajaran secara online agar mereka tetap bisa mengikuti pelajaran,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Tak hanya menjadi akses pendidikan, kereta gantung itu juga menjadi urat nadi perekonomian warga. Hasil panen kelapa sawit yang diproduksi masyarakat Dusun Damai setiap hari diangkut menggunakan fasilitas tersebut menuju pabrik pengolahan yang berada tidak jauh dari desa.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Pemerintah Desa Santan Ulu mengakui kebutuhan mendesak akan infrastruktur yang lebih aman. Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, mengatakan pemerintah desa telah berupaya membantu masyarakat melalui pembangunan akses jalan pendekat dan mendorong pembangunan jembatan gantung permanen.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Namun hingga kini, rencana tersebut masih menunggu regulasi yang tepat karena lokasi pembangunan berada di kawasan hutan lindung.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">&#8220;Kami berharap pembangunan jembatan gantung bisa segera direalisasikan demi keselamatan masyarakat, terutama anak-anak yang setiap hari harus menempuh perjalanan berisiko untuk mendapatkan pendidikan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Di tengah keterbatasan dan ancaman yang mengintai, semangat Ade Fahmi Maulana, Assyifa, dan anak-anak Dusun Damai menjadi potret nyata perjuangan meraih pendidikan di pelosok negeri. Ketika sebagian anak belajar tanpa hambatan, mereka harus mempertaruhkan keberanian setiap hari demi satu tujuan sederhana: tetap bisa bersekolah dan menggapai cita-cita. Red<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kutai Kartanegara, Solidaritas &#8211; \u00a0Setiap pagi, Ade Fahmi Maulana dan adiknya, Assyifa, harus menghadapi perjalanan yang tidak biasa demi bisa sampai ke sekolah. Bukan kemacetan atau jalan berlubang yang mereka hadapi, melainkan seutas tali dan kereta gantung rakitan yang membentang di atas Sungai Santan, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Di saat banyak anak seusianya berangkat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11272,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"class_list":["post-11271","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutai-kartanegara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11271","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11271"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11271\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11273,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11271\/revisions\/11273"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11272"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11271"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11271"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11271"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}