{"id":10709,"date":"2026-04-26T17:15:23","date_gmt":"2026-04-26T16:15:23","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=10709"},"modified":"2026-04-26T17:15:23","modified_gmt":"2026-04-26T16:15:23","slug":"luka-di-balik-lumpur-ibu-salbiah-dan-sisa-harapan-yang-terendam-air-bah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/04\/26\/luka-di-balik-lumpur-ibu-salbiah-dan-sisa-harapan-yang-terendam-air-bah\/","title":{"rendered":"Luka di Balik Lumpur: Ibu Salbiah dan Sisa Harapan yang Terendam Air Bah"},"content":{"rendered":"<div class=\"n6owBd awi2gc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIAxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><strong>Kutai Kartanegara, Solidaritas &#8211;<\/strong>\u00a0Bagi Ibu Salbiah, hujan bukan lagi berkah yang dinanti, melainkan hantu yang menakutkan. Bencana air bah yang menerjang berulang kali sejak Desember 2025 hingga Februari 2026 telah mengubah ladang hortikultura miliknya menjadi hamparan lumpur tak bernyawa.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIAxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"n6owBd awi2gc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIAxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Di atas lahan seluas satu hektare itu, sembilan komoditas pangan yang seharusnya menjadi penyambung hidup, kini terkubur bersama mimpi-mimpi yang ia tanam.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBRAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"n6owBd awi2gc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBRAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Bencana ini bukan lagi sekadar musibah alam yang lewat begitu saja. Bagi kelompok wanita tani di sana, ini adalah cermin retak dari kegagalan sistem dalam melindungi mereka yang paling rentan.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBhAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"n6owBd awi2gc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBhAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Selama lima bulan terakhir, Ibu Salbiah praktis kehilangan pijakan ekonomi. Bukan hanya tanaman yang membusuk, tanah yang selama ini ia rawat seolah ikut \u201cmati\u201d kehilangan kesuburan akibat rendaman air yang tak kunjung surut. Pemulihan lahan pasca-bencana menuntut biaya besar dan waktu yang panjang, sesuatu yang hampir mustahil dimiliki oleh seorang petani kecil di tengah ketidakpastian.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"n6owBd awi2gc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Namun, di tengah kondisi kritis tersebut, bantuan dan solusi nyata dari pemangku kebijakan terasa begitu samar. Ibu Salbiah dan rekan-rekannya seolah hanya menjadi barisan angka dalam laporan bencana, tanpa ada sentuhan kemanusiaan yang benar-benar memulihkan hidup mereka dari titik nol.<\/div>\n<div class=\"n6owBd awi2gc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICBAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><br data-sfc-root=\"c\" data-sfc-pl=\"|[]\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" \/>\u201cApakah harus menunggu semuanya hancur total baru perhatian itu datang?\u201d Pertanyaan itu menggantung pedih di udara, di tengah sunyinya lahan yang kini tak lagi hijau. Tidak adanya sistem perlindungan gagal panen atau jaminan keamanan lahan membuat para petani ini seolah dibiarkan bertarung sendirian melawan alam yang kian tak bersahabat.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICRAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"n6owBd awi2gc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICRAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Meski demikian, Ibu Salbiah menolak menyerah pada keadaan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali mengayunkan cangkulnya ke tanah yang masih lembap. Setiap bongkahan tanah yang ia balik adalah simbol perlawanan\u2014sebuah pernyataan bahwa ia menolak untuk mati bersama bencana yang sengaja dibiarkan berulang.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIChAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" aria-owns=\"action-menu-parent-container\"><\/div>\n<div class=\"n6owBd awi2gc\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIChAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" aria-owns=\"action-menu-parent-container\">Lahan itu adalah denyut ekonomi warga. Jika ia mati, maka harapan hidup layak bagi banyak keluarga di sekitarnya pun akan ikut terhenti. Kini, perjuangan Ibu Salbiah menjadi pengingat bagi kita semua: jika pengabaian ini terus berlanjut, yang kita hadapi bukan lagi sekadar bencana ekologi, melainkan bencana kemanusiaan yang terjadi di depan mata. Arian<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kutai Kartanegara, Solidaritas &#8211;\u00a0Bagi Ibu Salbiah, hujan bukan lagi berkah yang dinanti, melainkan hantu yang menakutkan. Bencana air bah yang menerjang berulang kali sejak Desember 2025 hingga Februari 2026 telah mengubah ladang hortikultura miliknya menjadi hamparan lumpur tak bernyawa. Di atas lahan seluas satu hektare itu, sembilan komoditas pangan yang seharusnya menjadi penyambung hidup, kini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10706,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"class_list":["post-10709","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kutai-kartanegara"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10709","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10709"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10709\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10710,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10709\/revisions\/10710"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10706"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10709"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10709"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10709"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}