{"id":10507,"date":"2026-04-09T02:27:00","date_gmt":"2026-04-09T01:27:00","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=10507"},"modified":"2026-04-10T02:29:15","modified_gmt":"2026-04-10T01:29:15","slug":"subuh-tanpa-bu-mei","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/04\/09\/subuh-tanpa-bu-mei\/","title":{"rendered":"Subuh Tanpa Bu Mei"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Catatan Rizal Effendi<\/strong><\/p>\n<p>SUBUH tadi saya kirim pesan ke WA Bu Mei. Saya bilang waktu subuh sudah masuk. Saya lupa Bu Mei sudah tiada. Biasanya sekitar pukul 03.00 dinihari dia yang kirim pesan ke saya. \u201cSelamat melaksanakan salat tahajud dan subuh,\u201d begitu bunyi pesannya di HP saya setiap hari.<\/p>\n<p>Semua orang tak percaya Bu Mei (Dr Hj Meiliana, SE, MM) meninggal dunia. Soalnya tak ada tanda-tanda. Sakit pun tidak. Dia ditemukan putrinya meninggal dalam posisi tidur sekitar pukul 18.00 Wita, Selasa (7\/4). Beberapa saat kemudian kabar duka itu menyebar melalui media sosial dengan berbagai ucapan belasungkawa.<\/p>\n<p>Pemakaman jenazah Bu Mei dilaksanakan di Nurussalam Memorial Park Tanah Merah Lempake, Rabu sore setelah putri sulungnya, Tya datang dari Kalteng. Tya lagi mengambil spesialis kandungan di Fakultas Kedokteran Unlam dan lagi bertugas di Palangkaraya.<\/p>\n<p>Pelepasan jenazah dari rumah duka di Kompleks Karpotek, Sungai Kunjang, dilakukan oleh Wakil Gubernur Seno Aji. Hadir juga Wagub sebelumnya, Hadi Mulyadi. \u201cKita semua berduka atas kepergian Bunda Mei, dia telah berkarya banyak untuk Kaltim,\u201d kata Seno.<\/p>\n<p>Pertemuan Wagub terakhir dengan Bu Mei ketika mereka menghadiri pernikahan Karo Kesra Kantor Gubernur, Bu Dasmiah dengan Wakil Ketua DPRD Berau, pekan lalu. \u201cKami <em>gawi<\/em> pengantinnya dengan Pak Seno,\u201d kata Bu Mei me-WA saya.<\/p>\n<p>Hadi Mulyadi juga mengaku sangat kehilangan. Dia berteman baik. Sama-sama suka nyanyi. Uniknya, tanggal kelahiran Bu Mei dan Hadi sama. Yaitu 9 Mei. Hanya beda tahun. \u201cJadi kami saling mengucapkan,\u201d kata Hadi mengenang.<\/p>\n<p>Bu Mei meninggal dalam usia 66 tahun. Suaminya, Gusti Sahadsyah lebih dulu. Mereka meninggalkan dua putri, yaitu dr Restya Meisya dan dr Lydea Syahna. Restya atau Tya lagi mengambil spesialis kandungan di FK Unlam, Banjarmasin. Sedang adiknya mengambil spesialis kecantikan.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah setahun lagi Tya selesai spesialisnya zal. Mohon doanya lah,\u201d kata Bu Mei kepada saya. Jika mereka sudah selesai semua, kata Bu Mei lagi, dia akan membuka klinik sendiri. \u201cAda rumah kosongku di Jl Berantas,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Saya datang melayat ke rumah duka bersama Pak Zaenal dan Pak Unding dari Balikpapan. Kalau ke Samarinda kami sering dijamu makan di rumahnya. \u201cAyo makan di sini, aku yang masak. Ngga ada orang,\u201d kata Bu Mei ramah.<\/p>\n<p>Makanan yang dimasak Bu Mei enak-enak terutama sambal goreng ikan asinnya. Kadang dia kirim juga ke Pak Isran. Dia mengaku sejak dulu suka memasak. Padahal tugasnya di luar rumah sangat banyak. Bu Mei selain memimpin sejumlah organisasi, dia berkarier lebih 30 tahun di pemerintahan. Pernah di protokol, Bappeda, asisten sampai Pj Sekdaprov, Plt Wali Kota Samarinda sampai Plh Gubernur Kaltim.<\/p>\n<p>Saya bilang kita kehilangan rumah singgah kalau ke Samarinda. Rumah Bu Mei di Karpotek dekat dengan Jembatan Mahakam dan Big Mall. Sangat strategis kalau kita dari Balikpapan.<\/p>\n<p>AKMAL: DIA ORANG BAIK<\/p>\n<p>Ketika datang ke rumah duka, saya bareng dengan tokoh senior Kaltim, H Harbiansyah Hanafiah dan mantan Wakil Wali Kota Samarinda, Rusmadi Wongso, yang sekarang duduk sebagai anggota Dewan Penasihat Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kaltim.<\/p>\n<p>Rusmadi juga pernah menjadi Sekdaprov. Dia tak menyangka Bu Mei secepat ini berpulang. Masih sempat bertemu dalam acara halal bihalal yang dilaksanakakan Ketua Bappeda Kaltim, Muhaimin pekan lalu. \u201cTak ada tanda-tanda apa-apa,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Harbian punya kenangan tersendiri di akhir hayat Bu Mei. Minggu lalu dia menghadiri pernikahan anak alm Dadang di Hotel Senyiur Samarinda. Tiba-tiba Bu Mei datang menghampiri dan minta foto bersama. Harbian bilang, fotonya kirim ke Ibram,<em> merina<\/em> Bu Mei. \u201cBeritahu saya masih hidup,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Tokoh pendiri klub sepakbola Putra Samarinda (Pusam) dan anggota MPR Utusan Daerah (1999-2004) ini mengaku kaget membaca tulisan saya: \u201dBu Mei, Saya Menangis.\u201d Dia tak mengira justru Bu Mei yang dipanggil Allah SWT lebih dulu. \u201cAku benar-benar tak menyangka,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Berita Bu Mei meninggal saya kirim juga ke mantan Gubernur Isran Noor, Suwarna AF dan Akmal Malik. Ketiga orang itu menurut Bu Mei sangat memperhatikan dirinya. Dia lama bersama Suwarna dan Isran, yang banyak memberikan kesempatan kepada dirinya. \u201cSaya bersaksi Bu Mei orang baik,\u201d kata Akmal lewat WA.<\/p>\n<p>Ratusan pelayat datang ke rumah duka. Sebagian para pejabat Pemprov Kaltim, sebagian lagi para alumni Fakultas Ekonomi &amp; Bisnis (FEB) Unmul. Bu Mei pernah menjadi Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FEB Unmul. Saat ini juga masih menjadi Wakil Ketua IKA Unmul mendampingi Pak Isran. \u201cBu Mei teman yang hebat,\u201d kata Isran mengenang.<\/p>\n<p>Dari jagad media sosial ada kiriman duka cita dari Gusti Maya Firanti Noor, mantan istri Ari Sigit. \u201cInnalillahi Wa\u2019innailaihi rojiun. Selamat jalan Kak Mei\u2026semoga almarhumah Kak Mei husnul khatimah dan mendapatkan tempat terindah di sisi Allah SWT. Aamiin YRA,\u201d ucapnya begitu.<\/p>\n<p>Di antara ratusan karangan bunga duka cita yang dikirim ke rumah duka, ada satu karangan bunga cukup menarik. Datangnya dari Duta Besar Seychelles, Nico Barito. Itu sahabat Bu Mei. Dalam rangka percepatan pengembangan Maratua sebagai objek wisata dunia, Pemprov Kaltim bekerjasama dengan Seychelles, negara kepulauan di Samudera Hindia yang mengembangkan program Ekonomi Biru (Blue Economy).<\/p>\n<p>Pak Isran dan Bu Mei sempat datang ke kota Seychelles. Pak Dubes juga sempat berkunjung ke Maratua. Mereka optimis Maratua bisa dikembangkan menjadi objek wisata laut dunia yang juga ikut mengembangkan program Ekonomi Biru.<\/p>\n<p>Bu Mei dikenal sebagai orang yang ramah dan periang. Suka bercanda juga. Ada<em> joke<\/em> terakhir yang dikirimnya lewat WA ke saya. Cerita ibu berusia 53 tahun yang dilarikan ke rumah sakit karena mendapat serangan jantung.<\/p>\n<p>Sang ibu kaget mlihat ada malikat yang datang. Lalu dia bertanya: Wahai Malaikat, apakah hidup saya sampai di sini? Malaikat menjawab: Anda masih punya waktu hidup 30 tahun, 3 bulan dan 21 hari lagi.\u201d<\/p>\n<p>Si ibu sangat gembira. Setelah membaik, di rumah sakit yang sama dia melakukan operasi wajah, suntik bibir, implant buah dada, pinggul, juga implant gigi dan rambut di semir hitam agar penampilan lebih muda, cantik dan menarik.<\/p>\n<p>Keluar dari rumah sakit dia menyeberang jalan. Tak disangka muncul mobil berlari kencang yang menabraknya. Dia seketika mati. Tak lama datang malaikat yang sama. Si ibu protes: Wahai malaikat, kau bilang umurkan masih panjang kenapa tiba-tiba aku mati ditabrak? Sang malaikat sambil terbata-bata menjawab: Mohon maaf ibu, saya pangling karena wajah dan penampilan ibu sudah berubah.<\/p>\n<p>Jadi pesan moralnya kata Bu Mei: \u201cKalau sudah tua jangan macam-macam. Malaikat saja jadi pangling alias tidak kenal.\u201d Terima kasih Bu Mei atas segala pengabdianmu yang luar biasa. Kita semua mengenang dan selalu berdoa. \u201cInsyaallah husnul khatimah dan diterima semua amal ibadahnya,\u201d kata Prof Dr Hj Syarifah Hudayah, M.Si, \u00a0mantan Dekan FEB Unmul.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Catatan Rizal Effendi SUBUH tadi saya kirim pesan ke WA Bu Mei. Saya bilang waktu subuh sudah masuk. Saya lupa Bu Mei sudah tiada. Biasanya sekitar pukul 03.00 dinihari dia yang kirim pesan ke saya. \u201cSelamat melaksanakan salat tahajud dan subuh,\u201d begitu bunyi pesannya di HP saya setiap hari. Semua orang tak percaya Bu Mei [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10508,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[165],"tags":[],"class_list":["post-10507","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10507","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10507"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10507\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10509,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10507\/revisions\/10509"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10508"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10507"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10507"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10507"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}