{"id":10347,"date":"2026-03-31T15:25:26","date_gmt":"2026-03-31T14:25:26","guid":{"rendered":"https:\/\/solidaritas.news\/?p=10347"},"modified":"2026-03-31T15:25:26","modified_gmt":"2026-03-31T14:25:26","slug":"menenun-asa-di-tepian-mahakam-wajah-baru-kampung-tenun-menuju-destinasi-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/2026\/03\/31\/menenun-asa-di-tepian-mahakam-wajah-baru-kampung-tenun-menuju-destinasi-dunia\/","title":{"rendered":"Menenun Asa di Tepian Mahakam, Wajah Baru Kampung Tenun Menuju Destinasi Dunia"},"content":{"rendered":"<div class=\"otQkpb\" role=\"heading\" aria-level=\"3\" data-animation-nesting=\"\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\"><strong>Samarinda, Solidaritas-\u00a0<\/strong>Suara ketukan kayu <em class=\"eujQNb\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">alat tenun bukan mesin<\/em> (ATBM) yang ritmis menyambut setiap pelancong yang menginjakkan kaki di Samarinda Seberang. Di sini, di sela-sela gang sempit yang sarat sejarah, helai-helai benang sutra perlahan bertaut menjadi Sarung Samarinda\u2014sebuah mahakarya yang telah melegenda sejak abad ke-17.<\/div>\n<div role=\"heading\" aria-level=\"3\" data-animation-nesting=\"\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" data-sae=\"\"><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBBAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Kini, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tengah &#8220;menenun&#8221; visi yang lebih besar. Kampung Tenun tidak lagi sekadar sentra produksi rumahan, melainkan sedang bertransformasi menjadi destinasi wisata terpadu berbasis budaya dan ekonomi kreatif.<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBRAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Ambisi besar ini bukan tanpa dasar. Proyek strategis ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Bank Indonesia. Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Samarinda, Marnabas Patiroy, menegaskan bahwa ini adalah langkah keberlanjutan untuk memperkuat identitas kota.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBhAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBhAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">\u201cIni bukan sekadar peluncuran ulang. Kita meningkatkan skala perencanaannya. Penataan rumah warga di bagian dalam akan disatukan dalam satu tema besar dengan identitas visual tenun yang kuat,\u201d ujar Marnabas pada Selasa (31\/3\/2026).<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIBxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Salah satu daya tarik utama dalam konsep baru ini adalah integrasi transportasi air. Pemkot merencanakan pembangunan dermaga khusus yang akan menghubungkan Teras Samarinda langsung ke Kampung Tenun melalui wisata susur Sungai Mahakam.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICBAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICBAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Bayangkan skenarionya: wisatawan menikmati senja di Teras Samarinda, lalu menaiki kapal wisata menyusuri sungai terbesar di Kalimantan, dan turun tepat di jantung peradaban tenun. Tak jauh dari sana, berdiri kokoh Masjid Siratal Mustaqim, masjid tertua di Samarinda yang dibangun tahun 1881, yang juga masuk dalam paket wisata religi ini.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICRAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICRAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">\u201cKami ingin kawasan ini hidup hingga malam hari. Wisatawan bisa belajar menun, belanja, lalu mampir beribadah ke masjid bersejarah,\u201d tambah Marnabas.<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIChAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Dibalik keindahannya, industri Sarung Samarinda menghadapi tantangan klasik: kapasitas produksi. Sebagai gambaran, satu helai sarung tenun tradisional berkualitas tinggi membutuhkan waktu pengerjaan 15 hari hingga satu bulan dengan harga jual mencapai jutaan rupiah. Hal ini seringkali membuat perajin kewalahan memenuhi pesanan massal.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Menghadapi tantangan kapasitas tersebut, Pemkot Samarinda menempuh strategi cerdas melalui zonasi produksi. Di satu sisi, Zona Tradisional tetap dipertahankan dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) demi menjaga nilai filosofis dan eksklusivitas bagi para kolektor.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Di sisi lain, Zona Modern mulai diperkenalkan dengan dukungan teknologi mesin tenun guna mengejar kuantitas produksi yang mampu menjangkau pasar lebih luas.&#8221;<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEICxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">\u201cKita ingin ada pilihan. Tradisi tetap dijaga sebagai rohnya, tapi mesin dibutuhkan agar pasar bisa dijangkau lebih luas tanpa menghilangkan identitas produk,\u201d tegas Marnabas.<\/div>\n<div class=\"Fsg96\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div data-subtree=\"aimfl\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Sebagai salah satu mahakarya Nusantara, Sarung Samarinda telah diakui secara nasional sebagai<\/div>\n<p>Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kemendikbudristek. Wastra ini bukan sekadar kain, melainkan simbol identitas yang kaya akan makna melalui motif-motif ikonik seperti <em class=\"eujQNb\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-processed=\"true\" data-complete=\"true\">Belang Hatta<\/em>, <em class=\"eujQNb\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Lebba<\/em>, <em class=\"eujQNb\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Pucuk Rebung<\/em>, dan <em class=\"eujQNb\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Kamis<\/em>, di mana setiap goresannya merepresentasikan strata sosial serta filosofi hidup mendalam masyarakat Bugis-Samarinda.<\/p>\n<p>Meskipun kini penggunaan pewarna sintetis mulai lazim demi variasi produk, nilai autentisitasnya tetap berakar pada tradisi pewarnaan alami yang memanfaatkan material lokal seperti kayu ulin, menjadikannya produk ekonomi kreatif yang tak lekang oleh waktu<\/p>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIDxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\">Dengan penataan rumah warga yang akan dihias motif tenun dan penguatan branding sebagai pusat kerajinan, Kampung Tenun diproyeksikan menjadi &#8220;segitiga emas&#8221; wisata Samarinda bersama Citra Niaga dan Tepian Mahakam.<\/div>\n<div data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIDxAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\"><\/div>\n<div class=\"Y3BBE\" data-sfc-cp=\"\" data-sfc-root=\"c\" data-sfc-cb=\"\" data-hveid=\"CAEIEBAA\" data-complete=\"true\" data-processed=\"true\" aria-owns=\"action-menu-parent-container\">Samarinda kini tidak hanya sekadar kota transit, tapi sebuah kota yang bangga memamerkan jemari para perajinnya yang terus bergerak, merajut masa depan di atas kain sutra. Red<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Samarinda, Solidaritas-\u00a0Suara ketukan kayu alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ritmis menyambut setiap pelancong yang menginjakkan kaki di Samarinda Seberang. Di sini, di sela-sela gang sempit yang sarat sejarah, helai-helai benang sutra perlahan bertaut menjadi Sarung Samarinda\u2014sebuah mahakarya yang telah melegenda sejak abad ke-17. Kini, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tengah &#8220;menenun&#8221; visi yang lebih besar. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10348,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[34],"tags":[],"class_list":["post-10347","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kota-samarinda"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10347","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10347"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10347\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10349,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10347\/revisions\/10349"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10348"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10347"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10347"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/solidaritas.news\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10347"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}