Kutai Kartanegara, Solidaritas – Sedu sedan menyelimuti wajah-wajah tangguh para ibu di Desa Senoni, Kecamatan Sebulu. Lahan pertanian yang biasanya menjadi tumpuan hidup kini berubah menjadi hamparan air yang menenggelamkan asa mereka.
Lebih dari 30 perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Senoni harus menelan pil pahit.
Kerja keras mereka merawat tanaman selama berbulan-bulan sirna seketika akibat banjir yang merendam lahan perkebunan. Tanaman pangan yang seharusnya siap dipetik kini layu dan membusuk akibat diterjang air bercampur lumpur.
Lahan tersebut sejatinya menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Berbagai jenis kebutuhan pokok seperti ubi rambat, terong, timun, tomat, pare, hingga cabai—yang harganya kini tengah melonjak—ikut menjadi korban.
Ketua Kelompok Wanita Tani Desa Senoni, Salbiah, mengungkapkan betapa besarnya dampak ekonomi yang dirasakan para anggotanya. Kehilangan ini bukan sekadar gagal panen, melainkan hilangnya pendapatan harian yang sangat berarti bagi dapur mereka.
“Akibat kejadian ini, anggota kami kehilangan pendapatan sekitar Rp400 ribu per hari dari hasil panen beberapa komoditi yang biasanya bisa dipasarkan,” ujar Salbiah dengan nada getir.
Bagi para petani wanita ini, angka Rp400 ribu bukanlah sekadar nominal, melainkan biaya pendidikan anak, belanja dapur, dan tabungan untuk masa depan. Kini, dengan lahan yang masih terendam, mereka hanya bisa menanti air surut sambil berharap ada uluran tangan atau solusi agar mereka bisa kembali menanam.
Di tengah hamparan lahan yang kini rusak, harapan para petani wanita di Desa Senoni kini tertumpu pada dukungan pemerintah. Salbiah menegaskan bahwa yang paling dibutuhkan anggotanya saat ini bukanlah sekadar simpati, melainkan langkah nyata berupa bantuan benih untuk memulai kembali dari nol.
“Kami sangat berharap ada bantuan bibit cepat tumbuh, terutama cabai, tomat, dan ubi rambat yang menjadi andalan kami. Modal kami sudah habis terendam banjir, jadi bantuan bibit berkualitas dan pendampingan teknis sangat kami nantikan agar dapur kami bisa segera mengepul kembali,” tutur Salbiah penuh harap.
Para petani ini juga berharap adanya bantuan pupuk organik dan obat-obatan tanaman untuk memulihkan kondisi tanah pasca-banjir, sehingga risiko gagal panen di musim tanam berikutnya dapat diminimalisir.
Kisah di Desa Senoni menjadi potret nyata betapa rentannya sektor pertanian terhadap perubahan cuaca, dan betapa besarnya perjuangan para wanita tani di garda terdepan ketahanan pangan Kutai Kartanegara. Red









