Samarinda, Solidaritas- Masih hangat di ingatan publik Samarinda tentang insiden seorang relawan Pemadam Kebakaran (Damkar) yang dipatok ular kobra pada Minggu dini hari, 29 Maret 2026 lalu.
Kejadian yang sempat memicu kekhawatiran massal ini rupanya menjadi “alarm” penting bagi semua pihak tentang betapa krusialnya prosedur penanganan yang benar terhadap gigitan hewan melata.
Beruntung, kisah ini berakhir bahagia. Berkat penanganan medis yang presisi di RSUD Abdoel Wahab (AW) Syahranie, relawan tersebut dinyatakan sembuh total tanpa cacat hanya dalam hitungan hari. Senin, 30 Maret 2026, pasien bahkan sudah lepas dari ventilator. Apa rahasianya?
Menindaklanjuti kasus tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim bersama Dinkes Samarinda dan Disdamkarmat menggelar sosialisasi khusus di Aula Kantor Disdamkarmat, Kamis (2/4/2026). Hadir sebagai narasumber kunci adalah pakar toksinologi nasional, Dr. dr. Tri Maharani.
Dalam sesi yang berlangsung hangat secara hybrid tersebut, Dr. Maharani membongkar habis mitos-mitos yang selama ini dipercaya masyarakat. Ternyata, tindakan seperti mengikat area gigitan, menyedot racun, atau menyiramnya dengan air panas justru salah besar.
“Itu mitos! Pertolongan pertama yang benar adalah imobilisasi atau membatasi gerakan korban. Racun ular itu menyebar lewat kelenjar getah bening, bukan langsung lewat pembuluh darah. Semakin banyak bergerak, semakin cepat racun menjalar,” tegas Dr. Maharani.
Keberhasilan penanganan kasus relawan Damkar kemarin adalah bukti nyata dari efektivitas prosedur yang tepat. Dimulai dari imobilisasi di lokasi kejadian, hingga penanganan Airway (jalan napas), Breathing (pernapasan), dan Circulation (sirkulasi) di rumah sakit yang berjalan mulus.
Tim medis juga bergerak cepat melakukan konsultasi dengan Dr. Maharani untuk menentukan jenis antivenom yang sesuai. Pasalnya, pemberian serum tidak boleh sembarangan. Di Kalimantan Timur sendiri, tersedia jenis spesifik seperti Polineuro Thailand, Polihemato Thailand, hingga Seasnake Australia.
“Tidak semua gigitan butuh antivenom. Jika hanya efek lokal atau ularnya tidak berbisa seperti sanca (python), cukup observasi saja,” tambahnya.
Melalui edukasi ini, diharapkan para relawan dan masyarakat luas tidak lagi salah langkah saat menghadapi situasi darurat. Pesan utamanya sederhana namun vital: Jika digigit ular, tetap tenang, jangan banyak bergerak (imobilisasi), dan segera menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Kolaborasi antara tenaga medis dan ahli toksin sesuai standar WHO ini akan terus diperkuat di Kaltim. Tujuannya satu, memastikan setiap nyawa bisa terselamatkan dari ancaman maut hewan berbisa melalui penanganan yang cepat, tepat, dan tanpa mitos. Red









