LIFE
Humaniora

Belajar dari Kebakaran SMPN 2 Samarinda: Pentingnya Budaya “Cek Sebelum Pulang” di Lingkungan Sekolah

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Musibah kebakaran yang menghanguskan delapan ruang kelas di SMPN 2 Samarinda pada Selasa (1/4/2026) sore menjadi pengingat pahit bagi dunia pendidikan. Meski tidak ada korban jiwa, peristiwa ini membawa pesan penting tentang betapa krusialnya kewaspadaan setiap individu sebelum meninggalkan area sekolah.
Kebakaran di sekolah yang terletak di Jalan KH Ahmad Dahlan tersebut terjadi hanya berselang 20 menit setelah bel pulang berbunyi. Saat lingkungan sekolah mulai sepi, api justru muncul dari salah satu sudut kelas di lantai dua dan dengan cepat melahap plafon serta atap bangunan.
“Anak-anak sudah pulang semua. Sekitar 20 menit setelah mereka pulang, baru api membesar,” kata Kepala SMPN 2 Samarinda, Misradianto.

Kejadian ini menekankan bahwa keamanan sekolah bukan hanya tanggung jawab penjaga sekolah atau guru semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga sekolah, termasuk para siswa.
Dugaan sementara yang mengarah pada korsleting listrik menjadi sinyal bahwa kebiasaan kecil sebelum meninggalkan kelas sangatlah berdampak. Memastikan sakelar lampu mati, mencabut kabel perangkat elektronik yang tidak terpakai, hingga memastikan tidak ada sampah yang berpotensi memicu api adalah langkah pencegahan dini yang wajib dilakukan.

Masyarakat dan orang tua diharapkan juga turut memberikan edukasi kepada anak-anak agar lebih peduli terhadap kondisi kelas mereka sebelum pulang. Langkah sederhana seperti melaporkan jika melihat kabel yang terkelupas atau mencium aroma hangus di area sekolah bisa mencegah kerugian materil yang besar.
Pihak pemadam kebakaran senantiasa mengingatkan bahwa api tidak mengenal waktu. Kelengahan sesaat setelah aktivitas sekolah usai bisa berakibat fatal pada hilangnya fasilitas belajar mengajar.
Melalui tragedi di SMPN 2 Samarinda ini, diharapkan seluruh sekolah di Samarinda mulai memperketat prosedur pengecekan gedung secara berkala. Mari jadikan budaya “cek sebelum pulang” sebagai bagian dari disiplin siswa, agar lingkungan sekolah tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk menuntut ilmu.
Sementara itu Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Samarinda, Hendra AH, menyebutkan pihaknya menerima laporan sekitar pukul 15.20 WITA. Sebanyak tujuh unit mobil pemadam dari tiga posko dikerahkan ke lokasi untuk memutus perambatan api.
“Begitu mendapat informasi, kami langsung menurunkan unit dari tiga posko untuk menangani kebakaran di SMPN 2 Samarinda,” kata Hendra.
Berdasarkan pemeriksaan sementara, kerusakan paling parah terjadi pada bagian atap delapan ruang kelas tersebut. Dugaan awal penyebab kebakaran adalah arus pendek listrik.
“Dugaan awal dari informasi pihak sekolah adalah korsleting listrik. Namun, untuk penyebab pastinya, kami masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari pihak kepolisian,” pungkas Hendra.
Meski api berhasil dipadamkan sepenuhnya, kerugian material akibat kejadian ini diperkirakan mencapai angka yang cukup besar. Red

Bagikan

Related Posts