Samarinda, Solidaritas – Di saat tren bekerja dari mana saja atau Work From Anywhere (WFA) mulai menjamur di berbagai instansi pemerintahan demi efisiensi, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda justru memilih jalan berbeda. Bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) di “Kota Tepian”, meja kantor masih menjadi pusat utama pengabdian masyarakat.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menegaskan bahwa hingga saat ini, seluruh aktivitas pelayanan publik wajib dijalankan secara fisik dari kantor masing-masing instansi.
Kebijakan WFA yang sempat ramai diperbincangkan pasca-instruksi pusat, bagi Pemkot Samarinda, sifatnya barulah imbauan. Saefuddin menilai kondisi geografis dan aksesibilitas di Samarinda masih sangat mendukung untuk pola kerja konvensional.
“Jarak tempuh pegawai menuju tempat kerja di Samarinda ini relatif terjangkau. Pelayanan pemerintahan pun berjalan lancar. Jadi, saya kira kita belum perlu WFA,” ujar Saefuddin dengan nada optimis.
Menurutnya, efektivitas pelayanan tatap muka masih menjadi prioritas utama. Selama kondisi wilayah memungkinkan para pegawai untuk hadir secara fisik tanpa kendala berarti, bekerja dari kantor tetap dianggap sebagai skema terbaik.
Menariknya, langkah ini diambil di tengah kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim yang mulai menerapkan WFA sebagai strategi efisiensi energi dan listrik. Menanggapi perbedaan kontras tersebut, Saefuddin menegaskan bahwa Pemkot Samarinda masih memiliki napas fiskal yang cukup untuk menunjang operasional fisik.
“Samarinda masih sanggup membiayai (listrik dan operasional lainnya). Kalau Pemprov ingin menerapkan WFA silakan saja, itu kebijakan Pak Gubernur. Tapi untuk kita, saat ini masih mampu menjalankan kegiatan secara normal,” tandasnya.
Meski tetap bertahan di kantor, Pemkot Samarinda tidak menutup mata sepenuhnya terhadap perkembangan zaman. Pintu menuju skema kerja fleksibel tetap terbuka, namun hanya jika ada instruksi mandatori atau kewajiban nasional yang bersifat mengikat dari pemerintah pusat.
Untuk saat ini, gedung-gedung pemerintahan di Samarinda tetap akan ramai. Suara ketikan papan tik dan diskusi hangat di ruang rapat masih menjadi denyut nadi utama dalam melayani warga, membuktikan bahwa bagi Pemkot Samarinda, kehadiran fisik adalah bentuk komitmen pelayanan yang belum tergantikan. Red









