Kutai Kartanegara, Solidaritas – Di jantung Kabupaten Kutai Kartanegara, tepatnya di Kecamatan Muara Wis, terdapat sebuah desa yang seolah enggan berpijak di bumi.
Muara Enggelam, yang masyhur dijuluki sebagai “desa tanpa daratan,” menawarkan panorama unik di mana seluruh denyut nadi kehidupan mulai dari rumah, masjid, hingga sekolah berdiri tegak di atas tiang kayu di hamparan Danau Melintang.
Namun, saat Ramadan tiba, desa ini berubah menjadi panggung magis. Jika warga perkotaan mengenal istilah ngabuburit, masyarakat Muara Enggelam memiliki tradisi turun-temurun yang disebut: Nyeranting Bulan.
Di sini, klakson kendaraan digantikan oleh kecipak air dan deru halus mesin perahu. Bagi warga setempat, Gubang (sampan) adalah satu-satunya urat nadi transportasi. Saat matahari mulai condong ke barat, gubang-gubang warga mulai beriringan meninggalkan pemukiman kayu.
Ritual “Nyeranting Bulan” menjadi cara warga melepas lelah sekaligus rekreasi. Tanpa taman kota atau pusat perbelanjaan, Danau Melintang adalah halaman bermain mereka. Dari anak muda hingga orang tua, mereka memacu perahu menuju titik-titik terbaik di tengah danau demi menyaksikan sang surya tenggelam.
Perjalanan menyusuri danau menyuguhkan pemandangan yang tak biasa. Pengunjung akan melewati Pagar Eceng Gondok, sebuah benteng hijau raksasa yang sengaja dibangun untuk melindungi desa dari serbuan gulma dan tanaman air.

Tak jauh dari sana, berdiri Pohon Raja Mati. Hamparan batang pohon yang mengering di tengah perairan ini memberikan kesan dramatis sekaligus eksotis, menjadi spot favorit warga untuk berfoto sambil menanti beduk maghrib. Keheningan di antara pepohonan mati ini menciptakan suasana syahdu yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Banyak spot di sekitar danau yang menjadi favorit untuk menyaksikan sunset. Saat langit berubah jingga dan memantul sempurna di permukaan air yang tenang, momen ini menjadi penanda spiritual. Cahaya terakhir yang hilang di cakrawala Danau Melintang adalah sinyal alami bahwa waktu berbuka puasa telah tiba.
Di atas gubang, diiringi lambaian angin danau yang sejuk, warga membatalkan puasa mereka dengan tegukan air atau kudapan sederhana. Kehangatan ini pun berlanjut hingga malam, di mana pengunjung bisa merasakan langsung kehidupan nelayan dengan menginap di Homestay Terapung.
Kehidupan di Muara Enggelam adalah bukti adaptasi luar biasa manusia dengan alam. Meski tanpa jalan aspal, mereka tetap menemukan cara untuk bahagia. Tak hanya soal senja, bagi mereka yang rela bangun lebih pagi, pesona Sunrise (matahari terbit) saat perahu-perahu nelayan mulai turun ke danau menawarkan pemandangan yang tak kalah memukau.
Muara Enggelam bukan sekadar desa di atas air; ia adalah tentang kedamaian yang ditemukan dalam setiap dekapan riak gelombang. Arian









