Kutai Kartanegara, Solidaritas – Di bawah langit sore Desa Selerong yang mulai meredup, suara gesekan roda gerobak dengan aspal protokol terdengar ritmis.
Di belakangnya, Susan bersama sang adik, Hafis, tampak bersemangat mendorong “etalase berjalan” mereka. Bukan sekadar mencari untung, gerobak ini telah menjadi simbol harapan dan sinergi ekonomi bagi warga di Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara.
Siapa sangka, fenomena antrean warga yang menanti gerobak Susan setiap sore bermula dari sebuah obrolan iseng di pinggir jalan. Susan, yang profesi kesehariannya adalah pedagang sayur keliling, awalnya hanya berniat mencoba peruntungan saat seorang rekan menyarankannya membawa beberapa titipan takjil.
“Awalnya hanya coba-coba saja, diajak kawan. Iseng membawa titipan takjil sambil keliling jualan sayur,” kenang Susan.
Namun, kegigihan Susan dalam menyapa warga dan ketulusannya justru membuat dagangannya laku keras. Kini, di Ramadan 2026, usaha “iseng” itu bertransformasi menjadi bisnis yang dinanti-nanti masyarakat desa.
Gerobak Susan kini tak lagi hanya berisi sayur. Seiring populernya nama Susan di Desa Selerong, warga mulai berdatangan untuk menitipkan hasil masakan mereka. Dari takjil manis, gorengan hangat, hingga sayur masak siap santap untuk menu sahur, semuanya berjejal di atas gerobak kayu tersebut.
Susan tidak mematok tarif tinggi untuk jasa kelilingnya. Ia menerapkan sistem bagi hasil yang sangat manusiawi, prinsipnya adalah saling membantu.
“Banyak beberapa macam ini, ada satu, dua, tiga, ini beda-beda orangnya (yang titip). Kita bantu masyarakat. Ambil upahnya sedikit saja, kalau harga lima ratus kita jual seribu, atau ambil delapan ratus rupiah per item,” jelas Susan sembari melayani pembeli.
Sinergi ini menciptakan efek domino ekonomi. Bagi warga yang pandai memasak namun tidak memiliki waktu atau kemampuan untuk berkeliling, gerobak Susan adalah jembatan rezeki mereka.
Manfaat ini dirasakan langsung oleh Nita, salah satu warga Selerong. Ia yang ahli membuat soto dan olahan sayur merasa sangat terbantu dengan adanya jasa gerobak keliling Susan.
“Biasanya saya bikin soto atau timun selama Ramadan. Selama ini saya titip di sini karena jujur, saya tidak kuat kalau harus keliling sendiri. Kehadiran Susan sangat membantu dagangan saya cepat laku,” ungkap Nita.
Hingga Selasa (10/3/2026), Susan dan Hafis terus menjadi pemandangan ikonik di sore hari Desa Selerong. Mereka membuktikan bahwa peluang tidak harus selalu dimulai dengan modal besar. Dengan modal kepercayaan dan semangat untuk maju bersama, sebuah gerobak sederhana mampu menggerakkan roda ekonomi desa.
Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, kisah Susan dari Kutai Kartanegara mengingatkan kita semua: bahwa di dalam bulan suci, rezeki akan selalu mengalir bagi mereka yang mau bergerak dan berbagi beban dengan sesama. Red







