Kota Samarinda

Wajah Baru Parkir Samarinda, Juru Parkir Sejahtera, Dompet Warga Terjaga

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Suasana pembukaan Pasar Ramadan di GOR Segiri, Jumat (20/2/2026), menjadi momentum penting bagi Wali Kota Samarinda, Andi Harun, untuk berbagi visi baru tentang tata kelola kota. Bukan sekadar soal ketertiban, namun tentang memanusiakan para juru parkir (jukir) sekaligus memberikan rasa aman bagi warga.
Selama ini, profesi jukir sering kali dipandang sebelah mata, bahkan identik dengan kesan “liar”. Namun, Andi Harun melihat akar masalahnya ada pada kesejahteraan. Dengan pendapatan jukir resmi yang selama ini hanya berkisar Rp1 juta per bulan, godaan untuk melakukan penyimpangan menjadi sangat besar.
“Kita ingin jukirnya hidup layak, masyarakatnya juga tenang. Karena itu, Pemkot berencana menaikkan penghasilan jukir resmi setara UMK, sekitar Rp3,5 juta hingga Rp3,6 juta per bulan,” kata Andi Harun dengan nada optimis.
Skema pemberdayaan ini menjadi “karpet merah” bagi para jukir liar untuk merapat ke sistem resmi. Targetnya jelas: mengubah pola pungutan tak beraturan menjadi sistem yang tertata.
Namun, Andi Harun juga memberikan peringatan keras bagi mereka yang keras kepala.
Jika kesempatan gaji layak sudah diberikan namun masih ada yang memilih jalur “premanisme” atau pungli, maka aparat penegak hukum tidak akan tinggal diam.
“Kalau tetap tidak mau ikut sistem, berarti memang niatnya meresahkan masyarakat. Kita proses sesuai ketentuan,” tegasnya.

Keberhasilan transformasi ini ternyata tidak hanya di tangan pemerintah, tetapi juga di dompet dan keberanian warga. Andi Harun mengajak masyarakat Samarinda untuk mulai disiplin membayar sesuai tarif resmi dan berhenti memberi “uang lebih” yang justru melanggengkan praktik parkir liar.
Bahkan, ia memberikan tips unik bagi warga yang menghadapi ancaman jukir nakal: jangan takut, cukup rekam dan viralkan.
“Jangan dibiasakan memberi lebih, walaupun diancam. Foto atau videokan saja. Percayalah, kalau sudah viral, pihak kepolisian dan kejaksaan pasti turun tangan. Kita semua ingin menjaga agar masyarakat tidak dibebani,” pungkasnya.
Dengan langkah ini, Samarinda sedang bermimpi besar: sebuah kota di mana parkir bukan lagi sumber kekhawatiran, melainkan simbol ketertiban yang menyejahterakan semua pihak. Red

Bagikan

Related Posts