Kota Samarinda

Kisah Muksin yang Terbangun Saat Api Mengepung

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Keheningan malam di Jalan Wijaya Kusuma 10, Kelurahan Air Putih, mendadak pecah pada Jumat (20/2/2026) menjelang tengah malam. Pukul 23.20 Wita, saat sebagian besar warga baru saja terlelap, langit Samarinda Ulu memerah akibat kobaran api yang melalap pemukiman padat penduduk.
Di balik musibah yang menghanguskan sedikitnya dua bangunan dengan lima pintu tersebut, terselip kisah dramatis Muksin (42), salah satu pemilik rumah yang nyaris terjebak di dalam kobaran api.

Malam itu, Muksin sedang beristirahat total. Tubuhnya lelah setelah seharian bekerja. Ia tak menyadari bahwa di bagian belakang rumahnya, si jago merah sudah mulai menari-nari.
“Saya habis pulang kerja lalu tidur. Anak saya bangunkan dan bilang ada api. Waktu saya keluar, api sudah tinggi di kamar belakang,” kenang Muksin dengan raut wajah yang masih tampak syok.
Dalam kepanikan, insting Muksin adalah melawan api. Ia sempat mencoba mencari ember dan air untuk memadamkan api yang bersumber dari kamar anaknya di ujung rumah. Namun, nasib malang hampir menimpanya saat ia terpeleset di lantai keramik yang licin. Di tengah kobaran yang kian meninggi, Muksin sadar bahwa nyawa lebih berharga daripada harta benda.
“Api sudah besar sekali, jadi saya pikir tidak mungkin dipadamkan sendiri. Saya langsung keluar,” tuturnya.

Meski tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, dampak kebakaran ini cukup memukul warga RT 08. Data sementara mencatat sebanyak 5 Kepala Keluarga (KK) dengan total 23 jiwa kini harus kehilangan tempat berteduh. Kerugian material ditaksir mencapai angka yang cukup besar mengingat api dengan cepat melahap bangunan kayu dan seisinya.
Kini, di sisa-sisa puing yang masih berasap, warga hanya bisa bersyukur seluruh penghuni berhasil menyelamatkan diri sebelum api menutup jalan keluar. “Sudah tidak ada orang di dalam. Anak saya yang bangunkan itu di depan, saya di kamar belakang,” tutup Muksin lesu.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang, sementara para korban mulai membutuhkan bantuan darurat berupa pakaian dan kebutuhan pokok. Red

Bagikan

Related Posts