Samarinda, Solidaritas – Matahari perlahan turun di ufuk barat, membiarkan cahaya keemasannya memantul di permukaan Sungai Mahakam yang tenang. Di tepian sungai legendaris ini, berdiri sebuah bangunan yang tak hanya mendominasi cakrawala Kota Samarinda, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan umat: Masjid Baitul Muttaqien, atau yang lebih karib di telinga warga sebagai Masjid Islamic Center Samarinda.
Bukan sekadar tempat ibadah, masjid ini adalah mahakarya arsitektur yang menempatkan dirinya sebagai salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara. Berdiri di atas lahan yang dulunya merupakan area penggergajian kayu milik PT Inhutani I, kawasan ini telah bertransformasi dari pusat industri kayu menjadi pusat peradaban spiritual Kalimantan Timur.
Jika Anda menatap ke langit, tujuh minaret (menara) tampak gagah mengepung satu kubah raksasa. Namun, angka-angka di sini bukan sekadar hitungan teknis. Ada filosofi mendalam yang tertanam dalam beton dan marmernya.
Menara utamanya menjulang setinggi 99 meter, sebuah penghormatan visual terhadap Asmaulhusna atau nama-nama baik Allah. Menara ini terbagi menjadi 15 lantai, di mana setiap lantainya memiliki ketinggian sekitar 6 meter.
Bahkan saat melangkah masuk, pengunjung akan disambut oleh deretan anak tangga berjumlah 33 buah. Angka ini dipilih secara sengaja untuk mengingatkan umat pada jumlah butir tasbih, sebuah ajakan tak langsung untuk berzikir sebelum memasuki ruang utama.
Dengan total luas bangunan mencapai 43.500 meter persegi, Baitul Muttaqien adalah raksasa yang anggun. Ruang utamanya yang seluas 8.185 meter persegi mampu menampung ribuan jemaah dalam kekhusyukan. Tak hanya itu, fasilitas pendukung seluas 7.115 meter persegi dan lantai balkon sebesar 5.290 meter persegi memastikan masjid ini mampu menjadi pusat kegiatan sosial dan pendidikan bagi warga Samarinda.
Lokasinya yang strategis di Kelurahan Teluk Lerong Ulu memberikan pengalaman unik bagi siapa saja yang berkunjung. Suasana religius berpadu dengan embusan angin dari Sungai Mahakam, menciptakan harmoni yang sulit ditemukan di tempat lain.
Kini, Masjid Baitul Muttaqien bukan hanya milik warga Samarinda. Ia telah menjadi destinasi wajib bagi pelancong yang singgah di Kalimantan Timur. Saat malam tiba, lampu-lampu yang menghiasi ketujuh menaranya berpendar, menjadikannya mercusuar iman yang menerangi tepian Mahakam.
Bagi mereka yang berkunjung, masjid ini menawarkan lebih dari sekadar visual yang megah; ia menawarkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota, sebuah rumah bagi mereka yang mencari perlindungan di “Rumah Orang-orang Bertakwa”. Red









