Kutai Kartanegara, Solidaritas – Indonesia memang tak pernah kehabisan harta karun dari hutan eksotisnya. Jika durian selama ini menyandang gelar raja buah, Kalimantan punya “saudara kembar” yang tak kalah memikat hati para pencinta kuliner tropis. Secara fisik, kulitnya memang mirip durian, namun rasa, warna, hingga aromanya menyimpan cerita yang berbeda.
Masyarakat Kalimantan Timur menyebutnya buah Lai atau secara ilmiah dikenal sebagai Durio kutejensis. Salah satu sentra terbaik untuk menemukan buah ini berada di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara.
Memasuki Desa Batuah, pengunjung akan disuguhi rimbunnya pepohonan Lai yang menjulang. Berbeda dengan durian yang aromanya terkadang menusuk tajam, buah Lai cenderung lebih bersahabat di hidung.
Ciri khas utama buah ini adalah dagingnya yang berwarna oranye mencolok. Teksturnya tebal, kering, dan tidak lembek (benyek). Di antara berbagai jenis yang ada, Lai Mahakam adalah varietas yang paling fenomenal dan paling dicari.
“Rasanya seperti perpaduan antara durian dan cempedak. Manisnya pas, teksturnya lembut, dan yang paling penting tidak bikin pusing,” ujar salah satu warga setempat.

Meski menjadi ikon agrowisata, keberadaan pohon Lai di Desa Batuah bukannya tanpa tantangan. Rusniwati, pemilik kebun Lai di KM 19 Desa Batuah, mengungkapkan bahwa lahan perkebunannya terus menyusut akibat eksploitasi tambang batu bara di sekitar wilayah tersebut.
Namun, semangat Rusniwati tak surut. Meski lahan berkurang, panen tahun ini tergolong baik. Bahkan, ia mengaku kewalahan melayani pesanan Lai Mahakam yang datang bertubi-tubi.
“Peminat Lai Mahakam sangat banyak. Kadang saya tidak perlu posting di media sosial, cukup info di grup WhatsApp saja, langsung ludes dipesan. Pelanggannya bahkan sampai ke luar daerah, seperti Banjarmasin,” tutur Rusniwati saat ditemui di kebunnya.
Bagi para pelancong, menikmati Lai Mahakam paling pas dilakukan langsung di bawah pohonnya. Selain bisa memilih buah yang baru jatuh (jatuhan), suasana asri perkebunan menambah kenikmatan menyantap buah eksotis ini.
Salah satu penikmat Lai, Arian, menyebut buah ini sebagai alternatif bagi mereka yang takut makan durian karena alasan kesehatan.
“Cita rasanya manis tapi tidak bikin enek (mabuk). Lai ini juga dikenal tidak mengandung alkohol, jadi lebih aman bagi kesehatan dan tidak membosankan untuk dinikmati dalam jumlah banyak,” kata Arian.
Buah Lai adalah buah musiman yang keberadaannya sangat bergantung pada alam. Musim panen raya biasanya berlangsung singkat, yakni antara bulan Januari hingga Maret.
Bagi Anda yang sedang berada di Kalimantan Timur atau berencana berkunjung dalam waktu dekat, mencicipi si ‘Emas Jingga’ langsung dari akarnya adalah pengalaman yang wajib masuk dalam daftar perjalanan Anda. Pastikan untuk mencoba varietas Mahakam untuk merasakan sensasi durian tanpa rasa pusing. Red









