News

Asa Baru , Saat Desa Loa Kumbar Tak Lagi Terlupakan

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Puluhan tahun lamanya, warga Loa Kumbar di Kelurahan Loa Buah merasa seperti hidup di “pulau terasing” meski secara administratif mereka adalah bagian dari Kota Samarinda, namuns ecara ekonomi mereka bergantung di wilayah Kutai Kartanegara. Untuk mencapai pusat kota, pilihannya hanya satu, membelah arus Sungai Mahakam dengan perahu ketinting.
Namun, sunyinya pembangunan di kawasan bekas industri kayu ini kini mulai pecah oleh suara deru mesin proyek. Loa Kumbar sedang bersalin rupa.
Dulu, pagi hari warga Loa Kumbar diwarnai dengan kesibukan memeriksa selang-selang panjang yang menjuntai ke Sungai Mahakam. Air sungai itulah urat nadi mereka untuk mandi hingga memasak. Kini, pemandangan itu perlahan hilang.
Pemerintah Kota Samarinda telah meresmikan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Loa Kumbar. Dengan kapasitas 2,5 liter per detik, air bersih kini mengalir langsung ke rumah-rumah melalui pipa resmi, bukan lagi selang darurat yang bergantung pada pasang surut sungai.
“Alhamdulillah, sekarang air bersih sudah tersedia. Dulu saya kaget, masih ada wilayah di Samarinda dengan kondisi tertinggal seperti ini,” kata Andi Harun, saat melakukan kunjungan kerja di Desa Loa Kumbar.
Tak hanya soal air, isolasi darat pun mulai didobrak. Jika dulu akses darat nyaris mustahil dilewati kendaraan standar, kini Pemkot Samarinda mulai melakukan pengecoran jalan secara bertahap dari arah Tenggarong. Jalur ini diproyeksikan menjadi “nyawa baru” yang menghubungkan Loa Kumbar langsung ke jantung kota tanpa harus bertaruh nyawa di sungai.
Di sudut lain, gedung sekolah yang dulunya kusam dan tak memadai karena menggunakan gedung fasilitas kantor PT Wana Rimba Lestari, kini tampil lebih segar setelah Pemkot Samarinda membangun fasilitas sekolah yang lebih resepretatif dengan fasilitas listrik.
Warga Loa Kumbar juga semakin bahagia karena saat ini kebutuhan pokok mereka seperti listrik juga sudah masuk sehingga penerangan yang dulunya redup kini mulai stabil sehingga bisa menerangi malam-malam anak-anak Loa Kumbar saat belajar.
Transformasi ini memang belum usai. Asisten II Pemkot Samarinda, Marnabas, menyebutkan bahwa target besar mereka adalah tahun 2029.
“Sesuai target Pak Wali Kota, pada 2029 seluruh wilayah harus terlayani kebutuhan dasarnya,” tegasnya.
Pembangunan ini ibarat membayar utang sejarah kepada warga Loa Kumbar. Dari wilayah yang terlupakan dan hanya dikelilingi puing perusahaan kayu yang tutup, kini mereka mulai menatap masa depan dengan infrastruktur yang memanusiakan warga.
Bagi warga setempat, jalan yang mulus dan air yang jernih bukan sekadar fasilitas, melainkan bukti bahwa mereka benar-benar sudah menjadi bagian dari kemajuan Kota Tepian. Red

Bagikan

Related Posts