Kutai Kartanegara, Solidaritas – Perjalanan menyusuri aliran Sungai Mahakam menuju Kecamatan Kota Bangun selalu menyuguhkan kejutan. Namun, bagi mereka yang memacu perahu melintasi bentang air menuju Desa Sangkuliman, kejutan itu berubah menjadi sebuah kekaguman jembatan berwarna kuning menjadi penanda bahwa kita sudah berada di kawasan desa Sangkuliman.
Desa ini bukan sekadar pemukiman nelayan, ia adalah sebuah desa wisata potensial yang lahir dari rahim kemandirian masyarakatnya.
Di bawah bendera Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Bangun Maju Terus (BMT), Sangkuliman kini bersiap bersolek menjadi destinasi unggulan Kalimantan Timur.
Ketua Pokdarwis BMT Desa Sangkuliman Rojali kepada Solidaritas News Jumat (23/01/26) mengatakan, bahwa desanya memiliki keunggulan yang belum banyak dimiliki desa lain, yakni kearifan lokal seperti tari, histori telling atau tentang sejarah kampungnya, adat istiadat yang ada sejak dulu.
Sangkuliman memiliki lanskap yang unik, di mana alam memberikan dua wajah berbeda tergantung musim. Saat air pasang, Danau Semayang dan Danau Saguntur menawarkan hamparan air yang seolah tak bertepi.
“Di sini, wisatawan bisa merasakan sensasi membelah danau menggunakan perahu tradisional Ces Ketinting atau Long Boat, transportasi ikonik yang menghubungkan budaya dengan alam,” kata Rojali.
Namun, saat musim kemarau tiba, Sangkuliman berubah menjadi “Afrika di tanah Kutai”. Air danau yang surut menyingkap daratan luas yang bertransformasi menjadi padang sabana hijau yang memukau.
Sementara itu bagi para pemburu senja, Sangkuliman memiliki Tanjung Rappeh. Lokasinya merupakan dataran tinggi yang menjorok ke danau, menjadikannya titik paling strategis untuk menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset). Kini, Tanjung Rappeh mulai dilirik sebagai lokasi berkemah (camping ground) favorit bagi mereka yang ingin melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk kota.
“Tak jauh dari sana, berdiri Tanjung Hallat, sebuah pulau di tengah Danau Semayang yang menawarkan perspektif 360 derajat keindahan panorama danau. Tempat ini menjadi bukti betapa kayanya keragaman geofisika Desa Sangkuliman,” jelas Rojali.
Potensi alam yang besar tentu akan sia-sia tanpa tata kelola yang baik. Hal inilah yang dibuktikan oleh POKDARWIS BMT. Keseriusan mereka dalam mengelola desa wisata secara mandiri membuahkan hasil manis ketika Desa Sangkuliman berhasil meraih Juara Dua Kategori Kelembagaan dalam ajang bergengsi Anugerah Tempat Wisata Idaman (ATWI) 2023.
Penghargaan tersebut bukan sekadar piala, melainkan pengakuan bahwa masyarakat lokal mampu mengelola asetnya sendiri. Kini, mereka melangkah lebih jauh dengan menggabungkan kearifan lokal dan sentuhan teknologi melalui strategi digital marketing untuk memperkenalkan Sangkuliman ke dunia luar.
Mengunjungi Sangkuliman adalah tentang merasakan keramahan budaya lokal yang autentik. Wisatawan tidak hanya diajak melihat pemandangan, tetapi juga merasakan denyut kehidupan nelayan dan sejarah panjang yang melekat pada perairan mereka.
Dengan visi yang kuat, POKDARWIS BMT dan Pemerintah Desa terus berupaya menjaga keseimbangan antara pembangunan pariwisata dan pelestarian lingkungan. Bagi mereka, Sangkuliman adalah warisan yang harus dijaga agar tetap lestari.
“Sangkuliman kini berdiri tegak, membuktikan bahwa dengan kemandirian dan kecintaan pada alam, sebuah desa di tepian danau mampu menjadi magnet wisata yang mendunia di masa depan,” tegas Rojali. Red









