News

Nestapa di Balik Jernihnya Muara Badak, Ketika Surga Bawah Laut Lumat Dihantam Lambung Ponton

Bagikan

Kutai Kartanegara,Solidaritas – Dahulu, menyelam di perairan Desa Tanjung Limau, Muara Badak, adalah perjalanan menuju sebuah “istana” bawah laut. Cahaya matahari yang menembus permukaan air akan menyinari tarian ribuan ikan Kakap Merah yang berenang di sela-sela gugusan karang warna-warni. Keindahan ini begitu mahsyur hingga mampu menarik minat turis mancanegara untuk datang ke pelosok Kutai Kartanegara demi menyaksikan spot legendaris bernama KMM.
Namun, awal Januari 2026 menjadi saksi bisu berakhirnya kejayaan tersebut. Sebuah potret kontras kini tersaji di bawah permukaan air yang tampak tenang dari atas.
Fachrian Akbar,  penggiat dari Kelompok Penggiat Konservasi (KOMPAK), masih ingat betul bagaimana rasanya memandu wisatawan asing menyelami keindahan Muara Badak. Namun, saat investigasi terbaru dilakukan bersama peneliti Universitas Mulawarman, ia hanya bisa tertegun di balik masker selamnya.
“Dibawah sudah seperti lapangan futsal bang, padahal sebelumnya daerah yang disebut spot Kakap Muklis Mansur (KMM) ini menjadi spot yang sangat diminati turis dunia. Dulu dipenuhi ikan kakap merah. Tapi awal tahun kemarin, kondisinya sudah rata,” kenang Fachrian dengan nada getir.
Bukan pemanasan global atau pemutihan karang (bleaching) yang menjadi pelakunya. Kerusakan ini adalah “trauma fisik” murni. Lambung-lambung kapal ponton batu bara berukuran raksasa diduga kuat telah menggilas ekosistem ini saat melintasi perairan yang sebenarnya terlalu dangkal bagi mereka.
Data awal hasil investigasi menunjukkan angka yang mengejutkan, diperkirakan 40 persen ekosistem terumbu karang hancur. Namun, setelah perhitungan ulang yang lebih seksama dan penemuan spot-spot baru di lengkungan-lengkungan bawah laut, Fachrian Akbar atau yang akrab disapa Rian, merasa sedikit lega.
Sisa batu bara yang berada didasar laut , Foto : Ist
Ternyata, tingkat kerusakan total yang terkonfirmasi hanya sekitar 10 persen. “Kami bersyukur ternyata ‘hanya’ 10 persen yang rusak setelah kami sisir lebih detail,” ujar Rian.
Meskipun angka tersebut jauh lebih rendah dari perkiraan awal, dampaknya tetap nyata dan signifikan. Sebagian area yang dulunya berupa perbukitan karang yang megah, kini rata dengan tanah, menyisakan patahan kapur kusam yang tak lagi bernyawa.
Lebih miris lagi, dasar laut yang biasanya dihiasi pasir putih bersih kini berubah menjadi hitam pekat. Sedimen batu bara dan lumpur yang terbawa aktivitas kapal telah menimbun sisa-sisa kehidupan di sana.
Jika kondisi ini dibiarkan, industri pariwisata yang menjadi tumpuan ekonomi warga lokal terancam lumpuh total. Wisatawan tidak lagi memiliki alasan untuk datang jika “jantung” dari keindahan Muara Badak telah mati.
Tragedi ini menyingkap tabir gelap dalam tata kelola wilayah laut. Muchlis Efendi, dosen Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Mulawarman, menyoroti adanya celah regulasi yang fatal. Area yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat sebagai kawasan konservasi ini ternyata masih tercatat sebagai jalur pelayaran resmi dalam peta navigasi.
“Unit kapal besar merasa legal melintas karena memang itu jalurnya, meski risikonya sangat tinggi bagi ekosistem,” jelas Muchlis. Ia menekankan perlunya pemasangan menara penanda atau tiang permanen untuk memperingatkan kapal-kapal besar bahwa di bawah mereka terdapat harta karun ekologi yang rapuh.
Kini, masa depan Pantai Muara Badak berada di tangan para pembuat kebijakan. Seruan untuk merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Timur semakin menguat. Mengeluarkan area terumbu karang dari jalur pelayaran bukan lagi pilihan, melainkan sebuah “harga mati”.
Masyarakat Muara Badak kini hanya bisa berharap agar pemerintah segera bertindak. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi yang dikejar lewat emas hitam di permukaan, harus dibayar mahal dengan kematian permanen ekosistem di kedalaman yang telah dibangun alam selama ratusan tahun.
Tanpa langkah nyata, kisah tentang ikan Kakap Merah di sela karang Tanjung Limau mungkin hanya akan menjadi dongeng sebelum tidur bagi anak cucu kita di masa depan. Red

Bagikan

Related Posts