Balikpapan, Solidaritas– Riuh tepuk tangan menggema di area kilang Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Senin (12/1/2026). Di bawah terik matahari Kalimantan Timur yang menyengat, Presiden Prabowo Subianto berdiri di podium, menyampaikan pidato tentang kemandirian energi dan komitmennya “membersihkan” Pertamina. Namun, suasana formal kenegaraan itu mendadak berubah menjadi momen refleksi tentang etika dan penghormatan budaya.
Kejadian bermula saat Presiden Prabowo menyapa para tamu kehormatan. Ketika nama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Sultan Aji Muhammad Arifin, disebut, sang Sultan berdiri dari kerumunan untuk memberi hormat kepada Kepala Negara.
Namun, ada yang mengusik pandangan tajam sang mantan Jenderal. Sultan Aji Muhammad Arifin ternyata berdiri dari barisan kursi belakang, jauh dari jajaran kursi utama yang diisi para menteri dan pejabat tinggi negara.
Melihat posisi duduk tersebut, Prabowo tidak melanjutkan teks pidatonya. Ia terdiam sejenak, menatap ke arah panitia, lalu melontarkan teguran spontan yang membuat suasana hening.
“Sultan kok ditaruh di belakang? Harusnya di depan,” ujar Prabowo dengan nada tegas namun lugas.
Bagi Prabowo, ini bukan sekadar urusan pengaturan kursi. Di sela-sela pembahasannya mengenai pemberantasan penyalahgunaan wewenang di sektor energi, ia menyelipkan pesan penting tentang nilai-nilai Nusantara. Menurutnya, keberadaan Sultan Kutai adalah simbol sejarah dan identitas Kalimantan Timur yang harus dijunjung tinggi.
“Posisi tersebut seharusnya mencerminkan penghormatan terhadap tokoh adat dan pemangku kebudayaan daerah,” tegasnya.
Teguran ini menjadi menarik karena dilakukan di tengah agenda strategis nasional. Proyek RDMP Balikpapan adalah mercusuar kedaulatan energi RI, namun bagi Prabowo,
pembangunan fisik tidak boleh melupakan pembangunan etika. Menempatkan Sultan di barisan belakang dianggap sebagai kekeliruan protokol yang mengabaikan aspek sosiopolitik dan sejarah daerah.
Kejadian ini seolah mengulang komitmen Prabowo untuk selalu mengedepankan etika menghormati tamu dan tokoh daerah dalam setiap kegiatan kenegaraan. Baginya, menghormati Sultan Kutai adalah bentuk penghormatan kepada rakyat Kalimantan Timur sebagai tuan rumah dari proyek strategis tersebut.
Teguran di Balikpapan ini menjadi pengingat keras bagi para penyelenggara acara kenegaraan di masa depan. Bahwa dalam setiap peresmian infrastruktur megah, ada manusia, adat, dan sejarah yang tidak boleh terpinggirkan ke barisan belakang.
Sultan Aji Muhammad Arifin, dengan kewibawaannya, tetap memberikan hormat. Namun, melalui suara Presiden, publik diingatkan bahwa di tanah Kutai, sang pemilik rumah tidak boleh hanya menjadi penonton di barisan belakang.
Acara yang juga dihadiri oleh jajaran menteri, pimpinan lembaga, dan perwakilan Pertamina ini pun berlanjut, namun dengan satu pelajaran penting yang dibawa pulang: kedaulatan energi harus sejalan dengan kedaulatan adab. Red









