Jakarta, Solidaritas – Di tangan Andi Harun, selembar Sarung Samarinda tidak lagi sekadar kain yang terlipat rapi di dalam lemari atau hanya muncul di prosesi adat yang kaku. Kain itu kini “berjalan” tenang namun pasti, menapaki panggung kehormatan di level nasional.
Tepat pada Jumat (9/1/2026) malam, di tengah suasana khidmat Gedung Dewan Pers, Jakarta, Wali Kota Samarinda Andi Harun resmi menyabet Trofi Abyakta dalam ajang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026.
Kabar membanggakan ini menjadi kado manis bagi warga Kota Tepian yang bersiap merayakan HUT Kota Samarinda ke-358 sekaligus HUT Pemerintah Kota Samarinda ke-66, yang diperingati setiap tanggal 21 Januari.
Trofi Abyakta bukan sekadar piala pajangan. Nama “Abyakta” yang diambil dari bahasa Sanskerta memiliki arti “nyata” atau “manifestasi yang terlihat”. Bagi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), penghargaan ini adalah pengakuan tertinggi bagi kepala daerah yang memiliki kejernihan gagasan dalam merawat budaya melalui kebijakan nyata.
Samarinda di bawah kepemimpinan Andi Harun dinilai berhasil menghidupkan kembali “roh” Sarung Samarinda. Wastra lokal ini tak lagi hanya menjadi busana masa lalu, melainkan identitas yang berdenyut di ruang publik, forum resmi, hingga aktivitas harian warga.
“Kebudayaan tidak boleh berhenti di panggung seremoni. Ia harus hidup, dikenakan, dan dirasakan,” tegas Andi Harun saat memaparkan visinya di hadapan dewan juri nasional.
Bagi Andi Harun, Sarung Samarinda adalah busana tropis yang membumi. Sifatnya yang inklusif dan sederhana membuatnya tetap relevan dengan zaman, sekaligus menjadi penanda jati diri masyarakat Samarinda di tengah arus modernisasi.

Perjalanan meraih trofi ini tidaklah instan. Dalam tahap pengajuan proposal bertajuk “Dari Wastra Lokal Menuju Kebudayaan Nasional”, Andi Harun sempat bersaing ketat di papan atas. Ia menempati peringkat kedua, hanya selisih tipis 5 poin dari Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. Namun, konsistensi dan implementasi kebijakan di lapanganlah yang akhirnya mengukuhkan posisi Samarinda di podium juara.
Ketua Panitia Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, memberikan apresiasi mendalam atas capaian ini. Menurutnya, Samarinda telah menunjukkan bagaimana sebuah kebijakan publik bisa bersinergi harmonis dengan pelestarian akar budaya.
“Penghargaan ini menegaskan bahwa Samarinda bukan sekadar membangun fisik kota, tetapi juga merawat makna. Dari selembar sarung, lahir pesan tentang jati diri dan keberlanjutan masa depan budaya yang tidak ditinggalkan zaman,” ujar Yusuf.
Kini, menjelang hari jadi kota, Trofi Abyakta menjadi bukti bahwa di balik deru pembangunan infrastruktur, Samarinda tetap menjaga denyut nadinya melalui helai-helai benang sarung yang ditenun dengan penuh kebanggaan. Red









