Samarinda,Solidaritas – Kamis pagi (8/1/2026), saat warga Gang Mandiri, Kecamatan Sungai Pinang, baru saja memulai aktivitas mereka sekitar pukul 07.00 WITA, suara tangisan tipis memecah kesunyian. Bukan tangisan biasa, suara itu berasal dari seorang bayi laki-laki mungil yang tergeletak tanpa pelindung hangat di tempat yang tak seharusnya.
Penemuan bayi ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Di balik tubuh kecil yang kini berjuang di ruang perawatan rumah sakit, tersimpan sebuah narasi pilu tentang tekanan mental dan jerat kemiskinan yang mencekik seorang ibu.
Penyelidikan cepat yang dilakukan Polsek Sungai Pinang segera mengungkap tabir di balik penemuan tersebut. Pelaku pembuangan ternyata adalah ibu kandungnya sendiri. Segala drama ini bermula pada dini hari, sekitar pukul 01.00 WITA.
Tanpa bantuan medis, tanpa dekapan hangat keluarga, sang ibu melahirkan bayi tersebut sendirian. Dalam kesunyian malam, alih-alih kebahagiaan yang datang, justru rasa kalut yang menghantam. Bayi itu lahir dari hubungan di luar ikatan pernikahan, sebuah beban moral yang ditambah dengan beban ekonomi yang sudah lebih dulu menggunung.
“Ia panik dan merasa tidak sanggup membesarkan anak itu,” ujar Kapolsek Sungai Pinang, AKP Aksarudin Adam.
Alasan di balik keputusan nekat sang ibu perlahan mulai terurai. Perempuan tersebut ternyata sudah memiliki seorang anak kecil berusia satu setengah tahun. Bayangan tentang bagaimana memberi makan dua mulut kecil dengan kondisi ekonomi yang morat-marit membuatnya kehilangan akal sehat.
Keputusan meninggalkan bayi itu di Gang Mandiri bukanlah tindakan yang direncanakan sejak lama, melainkan buah dari kepanikan akut. Tekanan mental pascapersalinan—yang sering kali tidak terdeteksi—bertemu dengan realitas pahit kemiskinan, menciptakan jalan buntu yang berujung pada penelantaran.
Kini, bayi laki-laki tersebut telah berada di bawah pengawasan ketat tim medis dan Dinas Sosial. Kondisinya stabil, sebuah keajaiban mengingat ia sempat terpapar udara malam setelah dilahirkan. Sementara itu, sang ibu juga tengah menjalani perawatan pascapersalinan sekaligus pendampingan psikologis karena trauma berat yang dialaminya.
Meskipun ada sisi kemanusiaan yang menyayat hati, hukum tetap tegak berdiri. AKP Aksarudin Adam menegaskan bahwa meski alasan ekonomi dan mental melatarbelakangi tindakan tersebut, proses hukum tetap berjalan.
“Motif apa pun tidak menghapus unsur pidananya,” tegasnya.
Tragedi di Gang Mandiri ini menjadi pengingat bagi masyarakat luas tentang pentingnya jaring pengaman sosial dan dukungan kesehatan mental bagi ibu hamil. Di balik jeruji hukum yang menanti, ada sebuah potret kemiskinan kota yang masih menyisakan ruang gelap—ruang di mana seorang ibu merasa bahwa meninggalkan anaknya adalah satu-satunya cara untuk “bertahan hidup.” Red









