News

Teror Raksasa Besi di Keheningan Mahakam

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Malam di tepian Sungai Mahakam, kawasan Sengkotek, Loa Janan Ilir, biasanya hanya diisi oleh simfoni kecipak air dan embusan angin yang menenangkan. Namun, minggu (4/1/2025) ketenangan itu mendadak pecah. Suasana syahdu berubah mencekam saat jeritan warga beradu dengan raungan sirene kapal yang membelah kegelapan.
Dari balik keremangan sungai, dua sosok raksasa muncul. Dua ponton batu bara berukuran masif tampak hilang kendali, meluncur liar mengarah ke pemukiman padat penduduk yang berdiri ringkih di atas permukaan air.
Di atas tugboat Bloro 7, para ABK berjibaku. Asap hitam pebal mengepul dari cerobong kapal, diiringi deru mesin yang dipaksa bekerja ekstra keras untuk menarik beban ribuan ton itu agar menjauh dari daratan.
Di darat, kepanikan luar biasa pecah. Warga berhamburan keluar rumah tanpa sempat menyelamatkan harta benda. Di tengah hiruk-pikuk itu, Jayati, warga RT 17, sedang berada di dalam rumahnya.
Jayati korban ponton larut di sungai mahakam, dapur rumahnya rusak. Foto Bejo
“Saya kaget, tidak bisa berbuat apa-apa,” kenang Jayati kepada Solidaritas Senin (5/1/2025) dari atas tempat tidurnya. Suaranya masih menyiratkan trauma mendalam.
Malam itu, Jayati sebenarnya hendak menuju kamar kecil. Langkahnya terhenti tepat sebelum mencapai pintu saat matanya menangkap pemandangan mengerikan: dinding besi raksasa bergerak maju menggilas rumahnya. Teriakan suaminya yang membahana memintanya segera lari menjadi satu-satunya penanda bahwa maut sudah di depan mata.
Belum sempat ia mencapai pintu keluar, dentuman keras menghantam telinga. Kayu-kayu rumahnya berderit, patah, dan hancur seketika. Lantai tempatnya berpijak bergoyang hebat, seolah sungai ingin menelan seluruh bangunan. Dapur miliknya rata, hancur tersenggol lambung ponton.
“Beruntung kejadian itu tidak berlangsung lama. Dua ponton pengangkut batu bara itu akhirnya berhasil ditarik menuju tengah sungai,” jelas Jayati.
Ketua RT 17, Budi, mengungkapkan bahwa dampak insiden ini cukup luas. Tak hanya menghantam rumah warga, aset ekonomi masyarakat ikut lumpuh. Keramba ikan milik Bumdes Probebaya RT 17 hancur ditabrak ponton, menyebabkan ikan-ikan yang siap panen lepas ke arus Mahakam. Sebuah perahu yang biasa digunakan untuk pemadaman kebakaran di pinggir sungai juga mengalami kerusakan parah.
“Selain bangunan yang hancur, beberapa peralatan darurat dan barang berharga milik warga hilang. Ada yang hancur tergilas besi, ada yang hanyut ditelan arus Mahakam yang deras,” kata Budi.
Kini, setelah asap kapal menghilang, yang tersisa hanyalah puing-puing kayu yang mengapung dan ketidakpastian. Jayati dan warga Sengkotek lainnya kini hanya bisa menanti dalam kebimbangan.
Meski perwakilan perusahaan pemilik kapal telah menemui mereka, mendata kerusakan, hingga meminta nomor rekening, hingga saat ini “saldo keadilan” mereka masih kosong.
“Sudah bertemu, sudah dicatat semua. Ya, sampai sekarang saya masih menunggu ganti rugi itu,” pungkas Jayati lirih. Matanya menatap kosong ke arah belakang rumah—ke tempat di mana dapurnya dulu berdiri, yang kini telah menyatu dengan sungai.
Bagi warga RT 17 Sengkotek, Sungai Mahakam adalah urat nadi kehidupan. Namun, peristiwa malam itu menjadi pengingat pahit bahwa di balik ketenangannya, Mahakam menyimpan ancaman besar. Hidup mereka kini berada di bawah bayang-bayang raksasa besi pengangkut “emas hitam” yang setiap hari melintas; mengadu nasib antara mencari rezeki dan risiko kehilangan tempat tinggal dalam sekejap mata.
Hingga ganti rugi terealisasi, janji perusahaan masih terasa sedingin angin malam Mahakam—ada, namun belum dapat didekap.
Setelah menabrak rumah warga dua tongkang juga sempat hanyut hingga menabrak pilar Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu). Kini proses penyelidikan masih dilakukan oleh Polairud Polresta Samarinda.
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar melalui telpon seluler kepada media mengaku pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait kejadian itu. Red

Bagikan

Related Posts