News

Menanti Kepastian di Atas Tanah yang Runtuh, Asa Warga KM 28 Batuah Pasca Longsor

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Delapan bulan telah berlalu sejak bencana tanah longsor menerjang pemukiman warga di KM 28 Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan pada April 2025. Namun bagi puluhan kepala keluarga di sana, waktu seolah berhenti dalam kecemasan. Hingga Jumat (2/1/2026), puing-puing rumah yang amblas sedalam lima meter dari jalan poros masih menjadi saksi bisu penantian mereka akan janji relokasi.
Pemandangan di lokasi kejadian tampak memilukan. Rumah-rumah yang dulunya menjadi tempat bernaung kini hancur tak berbentuk, terperosok ke dalam patahan tanah yang tak lagi stabil. Kondisi lahan yang rusak parah memaksa warga meninggalkan segala kenangan demi keselamatan nyawa.
Rusnawati warga korban tanah longsor di Desa Batuah, menuturkan bahwa sekitar 20 unit rumah mengalami kerusakan total. Tak ada lagi tawa di teras rumah, yang ada hanyalah sunyian di antara dinding-dinding yang retak.
“Kami terpaksa mengungsi. Ada yang menumpang di rumah sanak saudara, ada juga yang pindah ke Jalan Hasanudin, tidak jauh dari sini. Yang penting aman dulu,” ujar Rusnawati dengan nada getir.
Secercah harapan sempat muncul pada November 2025 lalu. Saat itu, para korban bencana menerima formulir pendataan untuk relokasi. Berkas-berkas berisi identitas dan bukti kepemilikan lahan telah diserahkan dengan penuh harap. Namun, dua bulan berselang sejak pengisian formulir tersebut, belum ada kabar segar yang sampai ke telinga warga.
“Kami sudah serahkan semua berkasnya di November kemarin, tapi sampai sekarang belum ada informasi lanjutan,” keluh Rusnawati.
Warga menyadari bahwa memindahkan sebuah pemukiman bukanlah perkara mudah. Ada birokrasi yang panjang dan tahapan yang harus dilalui pemerintah. Namun, bagi mereka yang kini tak lagi memiliki tempat tinggal, kecepatan adalah segalanya.
Warga hanya meminta satu hal: komitmen nyata. Mereka berharap pemerintah segera menyediakan hunian dengan status kepemilikan yang jelas. Saat ini, ada dua lokasi yang menjadi opsi pembangunan perumahan baru, yakni area lapangan sepak bola dan lahan perkebunan yang kabarnya telah dihibahkan ke Kecamatan Loa Janan.
Bagi para korban, memulai hidup dari titik nol tanpa bantuan pemerintah adalah hal yang mustahil. Harta benda mereka telah terkubur bersama amblasnya tanah di kaki bukit Loa Janan itu.
“Kami sangat berharap disediakan rumah yang layak. Untuk membangun kembali sendiri, kami sudah tidak punya modal. Semuanya habis di sana,” harap Rahman mewakili suara hati para tetangganya.
Kini, warga KM 28 Desa Batuah hanya bisa menatap jauh ke arah lahan yang mereka dambakan sebagai tempat baru. Di tengah ketidakpastian awal tahun 2026 ini, mereka berharap pemerintah tidak sekadar mendata, tapi segera mewujudkan tempat bernaung di mana mereka bisa tidur tanpa perlu takut tanah di bawahnya kembali runtuh. Red/Ar

Bagikan

Related Posts