Opini

Bersuara Dibungkam, Diam Melawan dalam Sunyi

Bagikan

Oleh: Pandhu Samudra
Founder Rumah Harapan Rakyat, Kalimantan Timur.
Dalam ruang publik yang sehat, suara adalah detak jantung demokrasi. Namun, ketika suara-suara itu justru dibungkam, kita terpaksa menggugat: apakah diam masih bermakna kepatuhan, atau jangan-jangan telah bermutasi menjadi bentuk pembangkangan yang paling sunyi?
Mereka yang berani bersuara kerap mendapat stempel negatif: pengganggu, pembuat gaduh, hingga ancaman stabilitas. Kritik dipandang sebagai serangan personal, dan pertanyaan kritis dinilai sebagai pembangkangan. Ironisnya, di saat yang sama, diam justru dipuja sebagai sikap dewasa dan beretika. Padahal, di balik keheningan yang dipaksakan itu, ada kegelisahan yang menggumpal dan kebenaran yang dipendam secara paksa. 
Ketika ruang bicara disumbat, diam bukan lagi sebuah pilihan bebas (free choice), melainkan sebuah reaksi atas tekanan. Dalam kondisi ini, diam bukanlah tanda setuju, melainkan penolakan yang tak terucap. Ia adalah bentuk perlawanan pasif—sebuah sikap yang tidak melawan secara frontal, namun secara tegas menolak memberikan legitimasi pada ketidakadilan.
Membungkam suara tidak pernah menjadi solusi. Ia hanya memindahkan bara api dari ruang terbuka ke bawah permukaan. Ketidakadilan yang dipaksa senyap tidak akan pernah lenyap; ia justru mengendap dan membusuk, menunggu waktu yang tepat untuk meledak dalam bentuk yang lebih destruktif.
Di sinilah paradoks itu bekerja: semakin keras suara ditekan, semakin dalam makna di balik diamnya seseorang. Diam bukan lagi sinyal persetujuan, melainkan tanda bahwa kepercayaan telah runtuh sepenuhnya. Ketika kepercayaan itu hilang, pembangkangan bukan lagi soal keberanian untuk berteriak, melainkan keteguhan prinsip untuk tidak membenarkan apa yang salah.
Negara, institusi, maupun otoritas kekuasaan yang sehat seharusnya tidak alergi terhadap suara. Kritik adalah alarm peringatan, bukan ancaman. Membungkam suara hanya akan melahirkan generasi yang fasih dalam diam, namun di balik diamnya, tersimpan api perlawanan yang tak kasatmata. 
Pada akhirnya, diskursus ini bukan sekadar tentang siapa yang vokal dan siapa yang bungkam. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kita sedang membangun kepatuhan yang jujur berdasarkan akal sehat, atau hanya memelihara ketundukan semu yang sewaktu-waktu akan berubah menjadi ledakan pembangkangan?


Bagikan

Related Posts