Samarinda, Solidaritas – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus mengebut proyek pemasangan insinerator pengolah sampah di tingkat wilayah. Hingga pertengahan Desember 2025, progres pembangunan fasilitas teknologi pemusnah sampah ini telah menyentuh angka 85 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun ini.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, mengungkapkan bahwa dari total 10 unit yang direncanakan, mayoritas unit sudah berada di lokasi dan dalam tahap penyelesaian teknis.
“Saat ini tinggal empat unit yang dalam proses pemasangan akhir. Dua unit berlokasi di Palaran (Handil Bakti dan Simpang Pasir), satu unit di Samarinda Seberang, dan satu unit lainnya di daerah Loji,” terang Suwarso dalam keterangannya, Kamis (18/12/2025).
Sementara itu, beberapa titik lainnya menunjukkan kemajuan yang signifikan. Unit di kawasan Polder telah mencapai 95 persen, disusul kawasan Lok Bahu (Jalan Nusyirwan Ismail) sebesar 85 persen, serta Jalan Wangi yang mencapai 70 persen. Untuk wilayah Lempake dan Bukit Pinang, pengerjaan terus dilakukan secara paralel.
Meski secara umum berjalan lancar, Suwarso mengakui adanya kendala teknis di wilayah Loa Janan Ilir. Pemindahan titik koordinat dilakukan karena lokasi awal dianggap terlalu tinggi dan berisiko bagi kendaraan pengangkut sampah.
Di sisi lain, tantangan juga muncul pada pemenuhan Sumber Daya Manusia (SDM). Hingga saat ini, rekrutmen baru terpenuhi 50 persen dari total kebutuhan 80 orang. Guna mempercepat pengisian posisi, DLH melakukan penyesuaian kriteria pendidikan.
“Kami menurunkan standar pendidikan dari SMA ke SMP, namun dengan catatan mengutamakan skill, pengalaman lapangan, serta kejujuran dan etos kerja. Nantinya, setiap unit akan dijaga oleh 8 personel yang terdiri dari 5 pengolah dan 3 petugas keamanan,” tambahnya.
Menepis kekhawatiran masyarakat soal polusi, Suwarso menegaskan bahwa insinerator berkapasitas 10 ton per hari ini dirancang ramah lingkungan. Sistem pengolahan uap tidak dibuang ke udara, melainkan dialirkan ke bak air di bawah mesin untuk diolah kembali.
Alat ini difokuskan untuk memusnahkan sampah organik, plastik, kertas, dan ranting. Petugas pemilah nantinya akan memastikan sampah keras seperti kaca, kaleng, dan baterai tidak masuk ke mesin guna menjaga ketahanan alat.
“Prioritas kami adalah operasional yang sesuai standar dan bebas pencemaran. Kami ingin ini menjadi solusi nyata pengurangan sampah di Samarinda,” pungkasnya. Red








