Samarinda, Solidaritas – PT Pertamina Patra Niaga memberikan apresiasi terhadap efektivitas penggunaan Kartu Kendali LPG 3 kg di Kota Samarinda yang dinilai berhasil menjaga distribusi subsidi tepat sasaran.
Seiring dengan keberhasilan sistem tersebut, Pertamina menjamin ketersediaan stok LPG, baik subsidi maupun non-subsidi, dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut VII Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Angga Dexora menegaskan, di libur Nataru, tetap memasok LPG untuk menjaga ketersediaan stok di agen dan pangkalan.
“Khususnya di Kaltim kita tetap stok. Untuk PSO (subsidi) kita sesuaikan kuota dari (Kementerian ESDM), dan kita tingkatkan stok,” kata Angga, dalam keterangannya kepada wartawan di Samarinda, Senin (15/12).
Selain PSO, Pertamina juga melakukan hal yang sama berkaitan ketersediaan stok LPG non PSO. Seperti LPG 5,5 Kg dan 12 Kg.
Selain itu Angga juga mengatakan bahwa Pertamina memastikan tetap menjaga stok LPG subsidi (Public Service Obligation/PSO) maupun non subsidi (non PSO), untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kalimantan Timur di libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Berkaca pada pengalaman periode hari libur Nataru tahun lalu, LPG subsidi di kota Samarinda misalnya, sempat sulit didapatkan masyarakat. Baik di pangkalan, maupun agen.
“Kita akan terus menjaga ketersediaan stok LPG subsidi maupun non subsidi selama Nataru,” jelasnya.
Selain itu Angga juga mengatakan bahwa Pertamina memberikan Klarifikasi LPG terkait adanya tabung LPG yang isi tabungnya Kurang, menanggapi hal itu Angga menegaskan bahwa konsumen bisa meminta Timbang dan Tukar saat membeli.
“Jadi biasakan meminta menimbang dulu tabung gasnya, kalau kurang dari 12 kilo bisa mengajukan penukaran di tempat ia membeli,” tegas Angga.
Yang perlu dipertegas disini lanjut Angga bahwa perusahaan penyalur telah menimbang isi tabung gas sesuai dengan jenis ukuran botol, ada yang 3 kilo 5 kilo dan 12 kilo.
Kita bahkan sudah memberi toleransi kepada warga lanjut Angga bahwa masyarakat bisa menukarkan tabung elpiji jika memang isi tabungnya kurang.
Kurangnya isi tabung bukanlah kesengajaan, banyak faktor yang menyebabkan isi kurang seperti masalah teknis pada Mesin Pengisian (Filling Machine), seperti adanya kerusakan atau ketidakakuratan alat pengisian di Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPBE).
Alat yang tidak rutin dikalibrasi dapat menyebabkan pengisian gas ke dalam tabung berhenti sebelum mencapai berat netto yang seharusnya.
Di dalam tabung LPG seringkali terdapat endapan berupa cairan fraksi berat yang tidak bisa menguap menjadi gas.
Kemudian adanya Komponen Tabung yang Tidak Standar
Berat total yang dirasakan konsumen adalah Berat Tabung Kosong (Tare Weight) + Berat Isi (Netto).
Ada juga akibat karet pelindung (rubber rim) atau pegangan tabung mengalami kerusakan atau diganti dengan komponen yang tidak sesuai standar, berat total tabung saat ditimbang bisa terlihat berkurang meskipun isinya benar.
Meskipun pengawasan diperketat dengan Kartu Kendali, praktik pengurangan isi secara ilegal oleh oknum tidak bertanggung jawab (seperti pemindahan isi ke tabung lain) masih menjadi ancaman yang menyebabkan berat tabung tidak sesuai saat sampai ke tangan konsumen. Red









