Kutai Kartanegara, Solidaritas – Di tengah dominasi industri tambang yang menutupi sebagian besar lahan di Kutai Kartanegara, sebuah kisah inspiratif datang dari Kelurahan Sari Jaya, Kecamatan Sangasanga. Kelompok Wanita Tani (KWT) Rosella, yang terdiri dari 19 perempuan tangguh, telah berhasil mengubah keterbatasan menjadi kesuksesan dengan mengembangkan kebun hidroponik di lahan sempit.
KWT Rosella terbentuk pada 2013 dan telah melewati masa jatuh bangun untuk bertahan di tengah gempuran industri besar. Namun, dengan dukungan pihak swasta melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM), kelompok tani ini berhasil memanfaatkan sisa lahan menjadi kebun hidroponik yang memutar roda ekonomi keluarga.
Bahkan KWT Rosela menjadi salah satu yang dinilai oleh DPMD sebagai lokasi tempat untuk mengikuti Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2025, dan Kelurahan Sarijaya Kini Mewakili Kecamatan Sangasanga.
Tehnologi yang di gunakan sesuai kebutuhan masyarakat di kelurahan Sari Jaya dan mampu memberikan nilai tambah, karena Inovasi yang dilakukan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi (menghemat biaya dan sumber daya), memperbaiki mutu produk, atau menghasilkan nilai ekonomi tambahan bagi petani atau masyarakat.
Ketua KWT Rosella, Maylana, mengatakan bahwa dulunya petani di Kelurahan Sari jaya selalu mengeluh karena setiap mencoba menanam selalu rusak karena diterjang banjir lumpur , namun mereka tidak bisa berbuat apa apa karena kondisi alam yang memang rusak akibat penambangan batu bara di sekitar pemukiman mereka.
“Alhamdulillah sekarang kami tidak kesulitan lagi, dengan menggunakan pola tanam hidropinik kini masyarakat bisa menikmati hasil panenya dengan lancar,” kata Maylana kepada Solidaritas (20/10/2025).
Lebih lanjut Ketua RT 07 Kelurahan Sari Jaya kecamatan sanga sanga ini mengatakan jika dulu kami selalu gagal panen karena lahan pertanian yang tidak ideal, namun kini dengan hydroponik kami bisa lebih hemat air, tapi hasilnya lebih berkualitas. Kini dengan sistem hidroponik, KWT Rosella dapat menanam sayur-sayuran segar di lahan kurang dari satu hektare.
Hanya lima minggu setelah penanaman, sayur-sayuran mereka sudah siap panen, sebuah keajaiban kecil yang menyulut semangat baru di tengah keterbatasan, dan mereka bisa menghasilkan pendapatan sekitar 3-5 juta .
Maylana mengatakan Green House Hidroponik Rosella yang dibangun dengan biaya sekitar Rp100 juta ini menjadi contoh keberhasilan kelompok tani dalam memanfaatkan teknologi modern untuk meningkatkan hasil panen.
Anggota KWT Rosella mendapatkan pelatihan intensif mengenai teknik bercocok tanam modern, termasuk menghitung kadar air, mengukur kelembapan, dan menjaga nutrisi tanaman.
Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, mereka dapat meningkatkan hasil panen dan meningkatkan pendapatan keluarga.
Kebun hidroponik KWT Rosella lanjut Maylana tidak hanya memberikan dampak positif bagi anggota kelompok, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Sayuran segar hasil panen dijual ke warga sekitar, dan hasil panen juga diolah dan dijual melalui Angkringan Rosella, warung kecil di bawah jembatan desa.
Bagi anggota KWT Rosella, kebun hidroponik ini bukan hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga menjadi ruang berkumpul dan berbagi kebahagiaan.
“Kini kami merasa bangga dapat menjadi bagian dari kesuksesan kelompok dan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar,” kata Maylana.
KWT Rosella berhasil membudidayakan berbagai jenis sayuran yang diminati pasar lokal, seperti sawi, kangkung, bayam, dan bahkan tanaman produktif lainnya.
KWT Rosella adalah contoh cemerlang dari inisiatif lokal yang berhasil menciptakan “oase hijau” di tengah dominasi industri ekstraktif, menunjukkan potensi pertanian berkelanjutan di daerah yang secara tradisional tidak dianggap sebagai lahan pertanian utama.
Sementara itu Kadis Pemberdayaan masyarakat Desa mengatakan bahwa keberadaan kelompok Wanita Tani di desa desa merupakan upaya pemerintah terhadap program pemberdayaan perempuan di sektor pertanian dan ketahanan pangan di tingkat desa.
Melalui KWT diharapkan Perempuan desa dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan mereka dalam bidang pertanian, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga, Mereka dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola usaha pertanian.
“KWT juga berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan di tingkat desa. Dengan meningkatkan produksi pertanian, KWT dapat membantu meningkatkan ketersediaan pangan di desa dan mengurangi ketergantungan pada pangan luar,” kata Arianto.
Pemerintah telah menjadikan pemberdayaan perempuan sebagai salah satu prioritas dalam pembangunan desa, melalui program-program seperti KWT, pemerintah berharap dapat meningkatkan peran dan kontribusi perempuan dalam pembangunan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ADV/DPMD Kukar/Bej








