Kab. Kutai Kartanegara

400 penari tampil Memukau dalam Pembukaan Festival Erau Adat Kutai 2025

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Drama Tari Kolosal” dalam pembukaan Festival Erau Adat Kutai 2025 menampilkan kisah perjuangan Sultan Idris melawan penjajah. Pertunjukan ini melibatkan sekitar 400 siswa SD dan SMP di Tenggarong, yang menggambarkan semangat juang Sultan Idris dan pasukannya.

Hadir dalam pembukaan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pada pembukaan Festival Erau Adat Kutai tahun 2025 yang berlangsung meriah di halaman Stadion Rondong Demang di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Minggu (21/9/2025).

Tari Kolosal yang di lakukan oleh ratusan pelajar Sekolah Dasar dan SMP se Kutai Kartanegara ini
memukau para penonton yang hadir didalam stadion Rondong Demang untuk menyaksikan Drama Tari Kolosal yang mengusung tema Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris melawan penjajah.

Festival Erau merupakan agenda tahunan yang kali ini akan berlangsung dari 21 hingga 29 September 2025, Festival Erau Adat Kutai 2025 sendiri bertujuan melestarikan warisan budaya dan meningkatkan pariwisata budaya di Kutai Kartanegara.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana Dalam sambutannya, mengatakan bahwa melestarikan warisan budaya merupakan hal penting yang harus dilakukan dan dijaga sebagai bagian dari identitas bangsa. Kesultanan Kutai Kartanegara merupakan saksi sejarah yang menunjukkan betapa kayanya budaya Nusantara.

“Bapak, ibu, serta seluruh lapisan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian tradisi yang kita warisi dari leluhur,” kata Widiyanti.

Widiyanti juga menekankan posisi Kukar sebagai pusat peradaban tertua di Kaltim memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata budaya.

Widiyanti mengatakan bahwa Festival Erau merupakan salah satu dari sepuluh event unggulan daerah yang mampu menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Hal ini termasuk dalam pengembangan pariwisata budaya yang ada didaerah, keberadaan festival-festival ini, termasuk Erau, dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan pariwisata budaya.

Keberadaan Festival semacam ini sangat berdampak pada ekonomi, selain pelestarian budaya, acara ini juga diharapkan dapat menggerakkan sektor pariwisata, akomodasi, dan kuliner.

“Melalui Festival Erau, kita tidak hanya merayakan budaya, tetapi juga merawat identitas dan kebanggaan bersama. Mari kita terus jaga warisan leluhur agar tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Nusantara,” jelas Widiyanti.

Tradisi yang hingga saat ini dijaga keberadaanya seperti Bepelas dan Belului menjadi bukti penghormatan masyarakat Kutai terhadap alam dan leluhur.

“Kita patut bersyukur, berkat kelestarian yang dijaga melalui tradisi itu, kecintaan terhadap daerah dan Nusantara semakin tumbuh,” tegasnya.

Festival Erau 2025 diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga momentum memperkuat persatuan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Kutai Kartanegara kepada dunia. Red


Bagikan

Related Posts