Kutai Kartanegara, Solidaritas – Perkembangan kerajinan sasirangan meliputi evolusi fungsi dari kain ritual menjadi busana modern, adaptasi bahan dan pewarna sintetis untuk mengikuti tren pasar, serta inovasi motif yang memperkaya simbolisme budayanya.
Upaya pelestarian dilakukan melalui kebijakan pemerintah, pelatihan, dan pengenalan pada generasi muda, menjadikan sasirangan sebagai warisan budaya yang tetap eksis dan berkembang ke pasar internasional.
Awalnya, sasirangan berfungsi sebagai kain sakral untuk pengobatan tradisional dan ritual adat suku Banjar. Kini, fungsinya berkembang luas, digunakan untuk berbagai produk mode seperti kemeja, gaun, kerudung, dan tas.
Kain ini telah menjadi simbol identitas masyarakat Banjar, bukan hanya untuk keperluan ritual, tetapi juga sebagai pakaian sehari-hari dan busana bangsawanka.
Hal ini diungkapkan Camat Samboja Barat, Burhanuddin kepada media di ruang kerjanya selasa (15/8/2025).
Lebih lanjut Burhanuddin mengatakan bahwa Pemerintah Kecamatan Samboja Barat mengambil langkah strategis untuk mendorong peran perempuan dalam sektor ekonomi kreatif berbasis budaya dengan memberikan pelatihan pembuatan dan pemasaran kain Sasirangan.
Tujuanya adalah untuk meningkatkan peran perempuan dalam sektor ekonomi kreatif dan mengembangkan kain Sasirangan sebagai produk unggulan di Kecamatan Samboja Barat.
“Kecamatan Samboja Barat berbatasan langsung dengan Ibu Kota Nusantara (IKN), sehingga terdapat peluang besar untuk mengembangkan kain Sasirangan sebagai produk ekonomi kreatif yang memiliki daya saing tinggi,” kata Burhanuddin.
Lebih Lanjut Burhanuddin mengatakan bahwa perempuan dinilai sangat krusial dalam pengembangan kerajinan kain Sasirangan karena kreativitas dan inovasi mereka dapat menjadikan kain ini lebih bernilai di pasaran.
“Dengan kreativitas dan inovasi mereka kita bisa menjadikan kain ini lebih bernilai di pasaran karena perempuan memiliki peran sentral dalam mengembangkan industri ini,“ jelasnya.
Dalam kaitan pengembangan kain Sasirangan pemerintah kecamatan Samboja Barat memberikan pelatihan kepada perempuan, seperti teknik pembuatan kain Sasirangan, pemahaman penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan, strategi pemasaran digital, seperti pemanfaatan media sosial untuk memperluas jangkauan promosi dan dukungan Pemerintahterhadap para pengrajin melalui berbagai program lanjutan untuk meningkatkan keterampilan dan kesuksesan mereka dalam menjual kain Sasirangan.
“Kita tidak cuma fokus pada proses produksi, kami juga membekali mereka dengan keterampilan strategi pemasaran digital, seperti pemanfaatan media sosial untuk memperluas jangkauan promosi,” tambahnya.
Dirinya juga berharap langkah ini dapat mendorong perempuan untuk berwirausaha dan menjadikan kain Sasirangan sebagai produk ekonomi kreatif andalan Samboja Barat.
Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong perempuan untuk berwirausaha dan menjadikan kain Sasirangan sebagai produk ekonomi kreatif andalan Samboja Barat. ADV/Diskominfo Kukar/IL








