BisnisKab. Kutai Kartanegara

Gagal Bisnis Ikan Lele, Petani Di Bhuana Jaya Kukar Berhasil Kembangkan Jamur Tiram

Bagikan

KutaI Kartanegara, Siapa sangka usaha yang awalnya berawal dari rasa penasaran membuat  Erni Dwi Astuti sukses menikmati pundi-pundi dari budi daya jamur tiram yang ditanam di halaman belakang rumahnya .

Petani milenial asal desa Bhuana Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara ini ini bisa meraup untung ratusan ribu rupiah perhari.

Pernah merasakan gagal dalam berusaha tidak membuat Erni Dwi Astuti patah semangat, kegagalan merupakan suatu keberhasilan yang tertunda menurutnya, setelah berulang kali mencoba ibu satu anak ini pun akhirnya berhasil mengembangkan usaha jamur tiram,  bahkan usaha jamur yang digelutinya berhasil dikirim kesejumlah kota besar di Kaltim.

Budi daya jamur tiram yang dilakoni Erni merupakan usaha yang dirintis bersama Narto sang suami , Usaha keluarga yang dirintis sejak 2019 ternyata membuahkan hasil ,  bahkan kini usaha yang diawali dengan  coba-coba karena penasaran soal budi daya jamur tiram, itu telah membuatnya menjadi salah satu pengusaha milenia yang banyak dikunjungi warga yang ingin belajar untuk budi daya jamur tiram.

Kepada Solidaritas News Erni mengaku bahwa awalnya ia hanya belajar dengan menggunakan 50 baglog yang dibeli dari temannya , dari situ ia terus belajar dan akhirnya berkembang hingga akhirnya mampu memproduksi sendiri baglog,  bahkan kini melayani pemesanan baglog untuk budidaya jamur tiram.

“Saya terus belajar dan Alhamdulillah suami saya selalu mensuport bahkan beberapa alat yang ada dibutuhkan semuanya di buat oleh suami saya,” kata Erni.

“Salah satu alat yang dibuatnya adalah kompor  dengan bahan bakar oli bekas untuk mengukus baglog, kompor ini diciptakan saat kami mengalami kesulitan mendapatkan gas sebagai bahan bakar untuk pembakaran alat untuk mengukus badlog,  Mas Narto menemukan cara untuk membuat kompor dengan bahan bakar oli bekas, bahkan menggunakan kompor ini , pembakaran menjadi semakin singkat dan biaya yang dikeluarkan lebih murah,” jelas Erni.

Erni mengaku kegagalannya merintis usaha ternak lele dan pencucian mobil dikampungnya menjadikan mereka belajar , sehingga segala usaha mereka lakukan untuk mengembangkan usaha budi daya jamur tiram.

“Pertama kita budidaya ikan lele, bangkrut pak,  ya kemudian kita masih meneruskan usaha cuci mobil itukan sambil cari usaha lain, akhirnya terpincutah sama budi daya jamur tiram,  kebetulan ada teman saya dari jawa,  “ katanya.

“Kemudian sama teman teman disini,  dirangkul sama teman teman disini dan dijawa akhirnya kita coba coba budi daya jamur tiram awalnya kita dulu beli 50 log pak, untuk mempelajari gimana cara perawatan jamur tiram ini kemudian setelah itukita mencoba membut medianya sendiri menggunkaan alat seadanya,” jelasnya.

Kini rata-rata penghasilan Erni mencapai Rp 200 ribu – Rp 300 ribu per hari, sewaktu panen dan harga bagus, sehari Erni bisa mengumpulkan cuan Rp 1 juta.

Penjualanya saat ini beberapa dibeli oleh masyarakat disekitar desa Bhuana Jaya, namun beberapa pelanggan lainnya merupakan pelanggan yang berasal dari luar daerah karena pemasaran yang dilakukan juga melalui media social.

Narto dengan kompor bahan bakar oli bekas ciptaanya (foto: Suriyatman)

Keberhasilan Erni dalam mengembangkan usaha jamur tiram dikampungnya membuat banyak petani milenial menjalin komunikasi  dan berusaha belajar dari keberhasilan Erni, salah satunya adalah Robby Pur warga desa Selerong Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kartanegara .

Ketua Badan Usaha Milik Desa Selerong ini mengaku bahwa usaha budi daya jamur tiram yang dikelola Erna diharapkan mampu menularkan keberhasilanya di desa Selerong.

“Sengaja datang kesini untuk mencari ilmunya, belajar berbudi dayalah jamur tiram, baik sekali artinya ini  harus didapat ilmunya, karena tanpamelihat langsung dan belajar dengan ahlinya tidak bisa jadi harus benar benar ditekuni,” kata Robby Pur.

Sementara itu Emi pedagang nasi bakar di desa Bhuana Jaya mengaku membeli satu kilo jamur tiram dari rumah ibu Erni,  jamur itu kemudian dicampur dengan sayuran untuk dijual kembali di warungnya.

“Tiap hari beli jamur disini, sekali beli satu kilo dan kemudian dicampur dengan sayur ayam yang dimasaknya untuk kemudian dijual bersama ayam  bakar olahannya, beli disini karena jamurnya kualitasnya bagus,” kata Emi. Suriyatman

 


Bagikan

Related Posts