Kota Samarinda

Misman Peraih Kalpataru dari Sungai Karang Mumus

Bagikan

Samarinda, Siapa sangka perjuanganya membersihkan sungai karang mumus dari sampah membuahkan sebuah penghargaan Kalpataru dari kementrian Lingkungan Hidup RI pada tahun 2023.

Seorang guru dan juga jurnalis ini tidak pernah menyangka gerakan sosial yang dipeloporinya menjadi satu gerakan bersama warga kota Samarinda untuk menjaga dan mempertahankan sungai karang mumus sebagai urat nadi bahan baku air bersih bagi kota Samarinda.

Sungai karang mumus adalah anak sungai yang terhubung langsung oleh sungai mahakam dan berhulu di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Sungai tersebut merupakan salah satu sungai yang vital di Kota Samarinda karena menjadi jalur transportasi yang terhubung dengan banyak wilayah di Kota Samarinda.

Sungai ini sempat menjadi sumber penghidupan dan aktivitas warga serta makhluk hidup lain. Namun dengan kondisi pencemaran limbah yang melebihi ambang normal, status sungai karang mumus sekarang memprihatinkan dan tidak layak digunakan.

Misman yang ditemui Solidaritas.News mengatakan sebelum ada gerakan memungut sampah di sungai karang mumus, Sungai ini sudah seperti Toko Swalayan.  Semua sisa produk yang ada di toko swalayan ada disungai karang mumus, bahkan tidak hanya meja kursi yang sudah rusak, Spring bed, AC dan beberapa alat lainnya juga dibuang masyarakat ke sungai karang mumus.

Hal inilah yang membuat Misman  tergerak untuk menjadi penggiat di bidang lingkungan dan alam serta mendedikasikan hidupnya untuk merawat Sungai Karang Mumus.  Kecintaan terhadap alam juga ditanamkan oleh kakeknya yang juga seorang pecinta alam.

Misman mengaku kecintaannya terhadap sungai sudah tumbuh sejak kecil, di mana sungai adalah tempat biasa ia bermain saat belum tercemar, air sungai masih segar dan bersih sehingga sungai menjadi sumber penghidupan bagi banyak makhluk.

“Jadi saya ikut kakek dulu, kalau buang apa-apa ke sungai itu tidak dibolehkan. Pernah saya buang biji rambutan juga tidak boleh, kakek saya mengatakan lebih baik buang di tanah kalau tumbuh jadi pohon, bisa jadi makanan ulat burung dan makluk lainnya,” kenangnya.

Dari itu iapun terus belajar bagaimana mencintai sungai yang menjadi tempat bergantung berbagai jenis ikan, tumbuhan, dan manusia untuk hidup.

Sehingga iapun prihatin ketika melihat kondisi sungai karang mumus menjadi rusak akibat ulah manusia, sebagai jurnalis iapun kerap menulis untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat yang hidup ditepi sungai untuk menjaga sungai karang mumus, namun tulisan tulisan yang dibuatnya tidak menyentuh para warga.

Bersama Walikota Samarinda Andi Harun, Misman menerima Kalpataru dari Kemetrian LHK RI, (Foto Istimewa)

“Sempat memperhatikan alam dengan menulis dan membaca puisi, tapi hal seperti itu tidak berdampak, membuat tulisan kondisi sungai yang memburuk pun kurang digubris karena kurangnya minat pembaca dilingkungan,” kata Misman.

Akhirnya bermodalkan perahu dayung dan kantong plastik, Misman menunjukan aksi dan upaya nyata dengan turun langsung ke Sungai Karang Mumus untuk memungut sampah sehelai demi sehelai.

“Saya sempat mengajak teman-teman saya memungut sampah, tapi mereka tidak mau. Akhirnya saya sendiri, dengan cara dipungut helai per helai karena orang-orang di Samarinda pada saat itu kalau membersihkan sampah itu didorong dan dari arah sana juga ikut mendorong akhirnya kembali lagi,” kata Misman.

Bahkan upaya kerasnya tidak mendapat tanggapan, tetapi justru cibiran yang didapatkannya, namun itu tidak membuat ia patah semangat Misman terus memunguti sampah-sampah di pinggir Sungai Karang Mumus.

“Jadi waktu saya sendiri memunguti sampah banyak orang mengatakan saya orang gila tidak waras ini, orang-orang aja banyak yang buang cari perhatian aja,” kenang Misman.

Namun ia tidak menghiraukan perkataan orang-orang yang mencibir dan menghinanya. Seperti sudah kebal tanpa henti, Misman melakukan aksinya setiap hari sampai mulai ada orang-orang yang peduli berdatangan dan ikut membantu.

Beberapa masyarakat yang sadar mulai memperhatikan dengan ikut memungut sampah, walaupun masih ada yang sering dicibir.

“Bahkan sampai sekarang saya masih sering dituduh macam-macam, karena saya wartawan ada yang ngomong ah Misman itu wartawan cari proyek, padahal saya sendiri tidak pernah berpikir begitu,” katanya.

Merubah budaya memang tidak semudah membalik telapak tangan, budaya membuang sampah di sungai sudah seperti menjadi budaya puluhan tahun lamanya, sehingga banyak pula yang mengatakan bahwa sampah-sampah di sungai tidak akan mungkin habis.

Hal itu benar lanjut Misman gerakan memungut sampah di Sungai Karang Mumus bukan untuk mengangkut semua sampah dari sungai karang mumus, namun yang utama adalah menghilangkan kebiasaan membuang sampah disungai itu yang nyaris tidak berbudi luhur dan tidak berbudaya terhadap alam karena air sebagai sumber kehidupan manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Usaha terus menerus yang dilakukanya ternyata tidak sia sia, berkat bantuan media sosial dan juga para Jurnalis membuat usaha Misman makin dikenal warga kota Samarinda.

Yang tadinya ia hanya seorang diri membersihkan sungai, makin lama banyak warga kota samarinda yang peduli, iapun kemudian meresponnya dengan mendirikan GMSS (Gerakan Memungut Sehelai Sampah) pada pertengahan tahun 2015.

Gerakan tersebut mempunyai wadah dan pangkalan memungut sampah yang berlokasi di Jalan Abdul Muthalib GMSS, Samarinda.
“GMSS berpendirian untuk tidak menggantungkan diri pada siapa pun, baik itu dengan pemerintah dengan pengusaha. Tetapi kita membangun kerjasama dengan siapa pun termasuk dengan pemerintah perorangan maupun organisasi sepanjang persepsi itu betul dan sama,” jelas Misman.

GMSS disambut baik oleh warga sekitar, hal ini terlihat dari banyaknya warga yang berpatisipasi baik itu perorangan maupun organisasi. Selain itu, ada pula donatur yang mendukung dengan menyumbangkan peralatan-peralatan untuk merawat dan membersihkan sungai.

Misman menjelaskan gerakan ini dibentuk selain untuk merawat sungai juga untuk merubah mindset dan budaya masyarakat sehingga tidak ada lagi yang membuang sampah di Sungai Karang Mumus
Seiring perkembangannya, GMSS mempunyai banyak program dan berkembang dari memungut sehelai sampah sampai menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas air.

Salah satu programnya adalah pendidikan pohon dan penanaman pohon.

“Pohon kita sekarang ada 10.000 lebih dan terus kita kuasai untuk dilindungi dari tangan-tangan jahil yang ingin merusak untuk kepentingan pribadi,” pungkasnya.

Salah satu penghargaan dari Gubernur Kalimantan Timur untuk Misman sebagai Pemerhati Lingkungan Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2018

Salah satu penghargaan dari Gubernur Kalimantan Timur untuk Misman sebagai Pemerhati Lingkungan Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2018

Selama menggerakkan komunitas GMSS, Misman harus berhadapan dengan para pembuang sampah dan penebang pohon. Meskipun demikian, ada orang-orang yang peduli dan turut membantu Misman dalam menggerakan GMSS. Karena kegigihannya, beberapa kali GMSS mendapatkan piagam dan bentuk penghargaan lainnya sebagai bentuk apresiasi.
Penghargaan lainnya dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus

Penghargaan lainnya dari Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus

“Kami sering mendapat penghargaan mulai dari walikota, gubernur, lembaga-lembaga sampai ke mahasiswa. Hal tersebut menjadi sebuah dukungan moral bagi kami,” jelasnya. (Red)


Bagikan

Related Posts